Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
64. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Temuin gue setelah selesai kelas gue" ucap Alex pada Dimas, sebenarnya Alex ingin sekali menasehati Dimas saat ini juga tapi waktunya tidak memungkinkan karena Alex ada kelas pagi.


"Iya bang" sahut Dimas sambil terus berdiri di depan Alex.


"Jangan kemana-mana, pas gue udah selesai kelas lo harus udah di cafe depan" ucap Alex sekali lagi.


"Iya bang bawel banget dah jadi cowok" Dimas berkata seperti itu sedangkan Alex sudah berjalan menjauh dari dekatnya.


"Gue harap lo mau pulang bang walaupun cuman sekali" ucap Dimas sambil memandang punggung kakaknya sampai tidak terlihat lagi.


Setelah berhasil kabur dari serbuan geng atlas dan geng vanx Alvin dan yang lainnya saat sampai di kampus segera masuk ke kelas mereka masing-masing.


Dua jam berlalu Dimas sudah menunggu Alex di cafe depan namun yang ditunggu tak kunjung datang.


"Mana lagi bang Alex lama bener" kesal Dimas. Sudah hampir dua jam lebih dia menunggu keberadaan Alex dicafe tersebut.


"Dim" Dimas menoleh ke sumber suara.  


"Ngapain Dim? kayak lagi nungguin orang" ucap Eza.


"Emang, gue nungguin bang Alex lama bener dah datengnya"


Eza menepuk pundak Dimas pelan. "Sabar Dim emang Alex kalau udah di kelas pasti lama keluarnya namanya juga ngejar  gelar master" 


Eza dan Dimas larut dalam obrolan mereka sampai Alvin dan yang lainnya ikut bergabung di cafe depan kampus.


"Lah udah pada disini semua bang Alex mana?"


"Gue disini" sahut Alex dari depan pintu masuk cafe. 

__ADS_1


Alvin dan yang lainnya membiarkan Alex dan Dimas untuk bicara. Alvin berharap Alex mau pulang dengan ajakan Dimas, sebelumnya Dimas sudah menceritakan semuanya pada Alvin, Cecep dan Fahmi tentang tujuannya untuk mengajak Alex pulang bertemu dengan orang tua mereka dan menyelesaikan masalah yang berlarut-larut ini.


"Bang mau makan kagak?" tanya Bintang pada mereka semua.


"Tumben Tang" sahut Fahmi.


"Buat hari ini gue yang traktir kalian semua siapa tahu abis ini motor gue dibalikin sama bang Cecep dan dia juga maafin gue, udah hampir seminggu gue selalu dibonceng terus sama kalian, ka"


"Tang curhatnya nanti aja ya, sekarang katanya mau pesen makanan" ucap Bagas. Diikuti anggukan oleh Eza.


"Ya sudah" Bintang cepat memanggil karyawan cafe tersebut untuk memesan makanan dan minuman, tak lupa Bintang juga memesankan untuk Alex dan Dimas.


Beralih pada kedua kakak beradik yang tak jauh dari mereka.


"Bang ayo lah pulang walaupun cuman sebentar" ajak Dimas. 


Tadi setelah selesai Alex menasehati Dimas yang menurut Dimas, Alex sedang membentaknya, membuat Dimas kini memohon untuk kakaknya pulang ke rumah walaupun hanya sebentar.


"Oke gue mau pulang" putus Alex akhirnya.


Setelah selesai menunaikan sholat dzuhur Alex dan Dimas pisah dari rombongan karena mereka akan pulang ke rumah terlebih dahulu.


Sesampainya di depan rumah yang sudah lama dia tinggalkan Alex menatap terpukau rumah ikut yang masih sama, bedanya sekarang rumah itu terlihat sedikit terawat.


"Assalamualaikum" sapa keduanya ada perasaan kesal yang menghampiri hati Alex.


"Sabar Lex, semua masalah jika diselesaikan dengan emosi tidak akan pernah usai. Sudah cukup lo berlari dari masalah ini selama satu setengah tahun lebih" batin Alex pada diri sendiri.


"Waalaikumsalam" jawab ketiga orang yang sedang duduk di ruang utama secara kompak.


"Bang Alex!" Lia langsung bangung kala melihat orang yang dia kangenin kini sudah berada di depan mata.

__ADS_1


"Akhirnya abang pulang juga" suara senang dari Lia membuat Alex mengangkat sedikit sudut bibirnya.


"Duduk dulu bang" ajak Dimas.


Ibu tiri Dimas dan Alex itu pergi ke dapur mereka untuk membuatkan minuman.


"Maaf" satu kata yang keluar dari mulut Vernando mampu membuat Alex melihat sang papa. "Maafkan papa Lex, papa tahu selama ini papa memang salah, papa hanya memikirkan kebahagiaan papa sendiri, tanpa papa sadari jika papa masih punya dua orang anak yang membutuhkan kasih sayang sang papa" Alex dapat melihat dari sorot mata Vernando jika dia benar-benar menyesal atas semua yang pernah dia buat pada putranya.


Berkat susah dan keyakinan Dimas dan Lia. Vernando dan istri keduanya bisa membuka mata, kini mereka sadar apa yang telah mereka lakukan salah besar. Atas izin dari sang penciptanya usaha Dimas dan Lia tidak sia-sia membuat mama papa mereka sadar, kebahagiaan bukan hanya didapat dari  materi saja, hubungan keluarga yang harmonis dapat menimbulkan kebahagian yang tiada duanya.


Ibu tiri Dimas dan Alex meletakkan liam cangkir teh hangat diatas meja lalu dia menatap Alex dengan penuh penyesalan. "Maafkan mama juga Lex, mama seharusnya menjadi mama yang baik untuk menggantikan bunda kalian yang dulu juga memperlakukan kalian dengan sangat baik, tapi nyatanya mama malah membuat hubungan kamu dan papa kandungmu sendiri rengang. Disini yang pantas disalahkan mama Lex" ucap istri Vernando lirih.


Alex tak bergeming sama sekali jujur dia masih ada rasa sakit hati pada ibu tirinya, sebisa mungkin Alex memendam rasa sakit itu dan memaafkan ibu tirinya.


"Mama" satu kata yang keluar dari mulut Alex membuat mereka semua tak percaya.


Ini kali pertamanya Alex menyebut mama tirinya dengan sebutan 'mama' biasanya dia hanya akan memanggil tante.


"Hiks….hiks begini kah bahagianya dipanggil mama oleh anak yang sudah menjadi anak ku sekarang"


"Boleh mama peluk mau Lex?" tanya sang mama tiri penuh harapan.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Alex langsung memeluk sang mama. "Terima kasih nak sudah mau memaafkan mama" istri Vernando itu merasa terharu sekaligus bahagia.


"Papa juga boleh peluk kamu Lex?" kini Vernando bertanya penuh harapan pada anak sulungnya itu. 


"Papa" Alex langsung memeluk sang papa. "Maaf, disini Alex yang salah belum bisa bersikap dewasa" ucapnya sambil menahan butiran bening yang sebentar lagi akan jatuh membasahi pipinya.


"Nggak Lex kamu nggak salah nak disini yang patut disalahkan papa, papa bukan papa yang baik untuk kalian" benar Vernando merasa sangat menyesal sekarang karena dia merasa sudah gagal menjadi seorang ayah dan seorang suami dari istri pertamanya juga anak-anaknya. Bahkan semenjak mama kandung Alex dan Dimas meninggal Vernando baru ziarah sekali ke makam istrinya itu juga setelah dia sadar akan semua dosa yang telah ia buat sendiri.


Dimas dan Lia tersenyum bahagia akhirnya keluarga mereka dapat bersama tanpa saling mementingkan diri sendiri, Vernando menarik mereka semua ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Papa anak menjadi papa yang lebih baik lagi untuk kalian"


"Begitu juga dengan mama" ketiga anak yang sudah beranjak dewasa itu mengangguk serempak untuk merespon perkataan mama dan papa mereka.


__ADS_2