Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
53. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Maafkan papa nak, oleh papa kamu sejak lahir tidak hidup bahagia" sesal Saputra dengan sangat dalam. Penyesalan benar-benar terpancar jelas di kedua bola matanya.


"Mama juga minta maaf sayang, karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik" Ratih tertunduk penuh penyesalan sama seperti Saputra suaminya.


"Udah ya ma, pa. Semua ini sudah takdir sang Illahi robbi, apapun yang terjadi dulu ataupun nanti pada Fahmi memang sudah menjadi garis yang ditakdirkan untuk Fahmi"


"Fahmi sudah memaafkan mama dan papa, bahkan sebelum kalian meminta maaf, jadi semua ini bukan salah mama sama papa"


"Sama hal nya dengan kelebihan yang Bintang punya, walaupun dia merasa tidak nyaman dan tidak ingin memiliki kelebihan seperti itu, tapi tetap saja semua itu sudah menjadi garis takdir Bintang" Fahmi menatap kedua orang tuanya dengan tersenyum.


"Terima kasih nak" Afka Saputra dan Ratih memeluk Fahmi secara bergantian, begitu juga dengan Bintang yang tidak ingin ketinggalan dengan momen ini. Lebay sih Bintang. Mau bagaimana lagi sudah menjadi sifatnya. Wkwkwk!


Akhirnya setelah penantian Bintang untuk meminta Fahmi menemui kedua orang tua mereka. Kini Fahmi telah menepati janjinya. Fahmi memang sengaja menemui kedua orang tua kandungnya setelah selesai sidang skripsi, tujuannya agar nanti saat wisuda bukan hanya ibu tirinya saja yang datang tapi juga orang tua kandungnya.


"Bang bijak banget sih lo" ujar Bintang seperti mengejek. Biasa namanya juga Bintang.


"Kagak usah kumat Tang!" dengus Fahmi.


"Bintang sekarang bukan waktunya untuk ribut, liat abang kamu baru aja pulang masa udah kamu gituin" tegur Ratih.


"Biarin aja kali ma, lagian Bintang ketemu sama abang tiap hari, nih ya ma abang itu suka ngancem Bintang, suka marah-marah pula" adunya


"Bintang!" ucap Saputra dan Fahmi secara bersama.


"Kompak bener pa, bang baru juga ketemu padahal udah sehati aja"


"Udah-udah sekarang lebih baik kita makan oke, mama udah masakin menu spesial buat Fahmi" mereka semua memutuskan untuk makan bersama.


Hari ini rumah sederhana itu menjadi saksi kebahagiaan pasangan suami istri yang sudah menanti kedatangan putra mereka selama 23 tahun. Bahkan Bintang juga dapat merasakan kebahagiaan yang dirasakan mama dan papa nya.

__ADS_1


Kekayaan yang dimiliki keluarga Afka Saputra tak pernah habis sampai detik ini, bahkan perusahaan yang mereka miliki berkembang sangat pesat, walaupun bukan pak Afka Saputra sendiri yang memegangnya. Melainkan orang kepercayaan. Rumah sederhana yang mereka miliki memang sengaja untuk mengecoh musuh mereka, bahkan kini Ratih dan Saputra sudah hidup seperti orang biasa. Mereka lebih nyaman hidup sederhana seperti sekarang ini daripada hidup dengan bergelimang harta tapi musuh dimana-mana.


Sudah diputuskan jika nama Fahmi akan ditambahkan dengan nama Fahmi Maulana Afka Saputra. Mereka tidak menghilangkan nama awal Fahmi karena permintaan Fahmi sendiri. Tapi Saputra meminta nama Afka Saputra nya dirahasiakan karena dia tahu jika musuhnya masih terus mencari keberadaan keluarganya.


***


"Selamat ya bang atas kelulusannya" Alvin memberikan senyum tulus pada Cecep.


"Vin jangan senyum kayak gitu" sungguh jika Alvin tersenyum dengan manis siapapun yang melihatnya akan merasa sangat kagum.


"Nggak usah peduliin Alvin, kalian nggak mau ngasih selamat sama gue"


"Iya selamat ya bang" sahut Eza dan Bagas juga Alex.


"Ngomong-ngomong Alhamdulillah ya Fahmi udah ketemu sama kedua orang tuanya"


"Bener banget Za, Alhamdulilah" sahut Bagas.


"Sama Vin gue juga, cara mudah solusinya beli aja" sahut Cecep.


"Bukan cara mudah bang, tapi malas masak solusinya beli aja yang udah jadi. Wkwkwk!"


"Debatnya nanti aja, sekarang siapa yang mau berangkat beli makan?" tanya Alex.


"Biar gue sama Eza"


"Lah kok gue Vin" menunjuk diri sendiri.


"Tidak Ada penolakan!" tegas mereka semua.


"Iya! Iya" pasrah adalah solusi paling tepat untuk seorang Eza.

__ADS_1


Eza dan Alvin segera berangkat untuk membeli makanan, tapi belum  terlalu jauh mereka pergi, di seberang jalan mereka berdua melihat seseorang sedang menyiksa dirinya sendiri tanpa sepengetahuan orang lain. Sontak Alvin dan Eza yang melihat hal itu langsung menghampiri orang tersebut.


"Permisi pak" ucap Alvin dan Eza secara bersama dengan sopan.


Orang tersebut langsung menyembunyikan pisaunya dan menatap Alvin juga Eza dengan sangat tajam.


"Kenapa!" bentaknya tiba-tiba saja seperti orang yang tak terkendali.


"Bapak ada apa dengan bapak?" Alvin masih berusaha dengan ramah, sedangkan Eza sudah mulai geram. Tapi dia harus mengendalikan emosinya sebisa mungkin.


"Ini bukan urusan kalian!" ujarnya dingin.


"Tapi bapak kenapa melukai diri sendiri?" tanya Alvin lagi penuh dengan kesabaran.


Tiba-tiba pak itu menangis dengan tersedu-sedu sungguh cepat sekali perubahan sikapnya yang tak terduga.


"Saya ingin mati! buat apa saya banyak harta tapi semua membenci saya, istri saya selingkuh dengan orang lain. Anak pertama saya meninggal dunia. Saya sebagai seorang ayah merasa bersalah, merasa tidak berguna, karena tidak bisa menyelamatkan dia dari bahaya" rancaunya.


Alvin dan Eza memapah bapak-bapak itu untuk duduk di kursi yang ada di taman, karena posisi mereka sekarang ada di dekat taman.


"Maaf sebelumnya pak bukan saya ingin menggurui bapak. Tapi mati bunuh diri itu tidak dibenarkan dalam agama maupun negara. Masalah istri bapak selingkuh berarti dia bukan jodoh yang tepat untuk bapak. Dan yang terakhir anak bapak meninggal itu sudah menjadi takdirnya. Allah lebih sayang sama dia pak maka dari itu Allah mengambil anak bapak terlebih dahulu, karena Allah sudah merindukannya. Semua yang kita lihat sangat menyakitkan, kita merasa sangat tidak adil. Tapi apa yang kita lihat baik belum tentu baik dimata Allah. Begitu juga sebaliknya apa yang kita lihat buruk seakan menyiksa diri kita tapi belum tentu buruk dimata Allah Azza wa jalla" beruntung bapak-bapak itu mau mencerna semua kata-kata Alvin.


"Bukan hanya bapak yang memiliki masalah di dunia ini tapi setiap manusia memiliki masalah yang berbeda-beda"


"Bersyukurlah pak In Syaa Allah dengan bapak bersyukur bapak akan bahagia. Pasrahkan semua urusan bapak pada Allah In Syaa Allah bapak akan menjadi orang yang paling tenang" tambah Eza.


"Masalah harta yang bapak punya. Kebahagian bukan diukur dari seberapa banyak bapak memiliki harta tapi seberapa mampu kita bersyukur atas apa yang kita miliki" Alvin dan Eza tersenyum sopan pada bapak-bapak itu.


"Jangan melukai diri sendiri seperti ini pak" Alvin dan Eza ternyata sedari tadi berbicara sambil mengobati luka bapak itu. Alhamdulillah bapak-bapak itu menerima dengan baik semua kata-kata yang dikeluarkan oleh Alvin dan Eza. Ini lah yang dikatakan jangan melihat siapa yang menyampaikan tapi lihat apa yang disampaikan.


"Terima kasih nak, kalian telah menyadarkan bapak, agar kembali kejalan Illahi Robbi dan menyerahkan segalanya pada Allah, bersandar kembali pada Allah" 

__ADS_1


 


__ADS_2