Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
26. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim


"Lebih baik sekarang kita pulang ke markas dulu, lo pada masih bisa nyetir motor kan?" Alvin melirik teman-temannya satu persatu.


Dengan cepat mereka semua mengangguk, kecuali Bintang, Alvin memperhatikan Bintang yang hanya terdiam lesu, dia tidak terluka parah, tapi sepertinya dia tidak bisa menyetir motornya sekarang.


"Lo nggak bisa nyetir Tang? bukannya lo nggak terluka parah?" Akhirnya Bintang tersadar dari lamunannya yang sudah menyusur jauh entah kemana.


"Lo kenapa dah Tang?" Bagas yang berada disamping Bintang, menyenggol bahu Bintang sedikit kuat.


"Entahlah tapi gue nggak bisa nyetir, yang ada bukannya luka gue sembuh, tapi malah masuk rumah sakit"


Bintang berkata seperti itu karena selama pertarungan dengan geng atlas tadi, dia sebenarnya tidak terlalu fokus pada lawannya, dia lebih fokus pada dua anak kecil tak kasat mata yang Bintang lihat saat pertarungan tadi, tapi saat geng atlas pergi tiba-tiba saja aura mencengkram Bintang rasakan sampai dia seperti kehabisan nafas.


Ternyata banyak makhluk tak kasat mata yang berwujud mengerikan dan aura jahat datang mendekati Bintang, mereka semua tau Bintang bisa melihat mereka, tapi sebisa mungkin Bintang berpura-pura tidak melihat mereka.


"Biar Bintang sama gue" usul Alex.


"Jangan lupa hubungi Fahmi, kita sudah ada di markas, tapi jangan bilang kalau kita diserang tiba-tiba. Sekarang cabut!" putus Alvin.


Setelah Bintang setuju dibonceng dengan Alex, mereka semua akhirnya melangkah pergi dari tempat itu. Bintang percaya pada Alex makanya dia lebih memilih naik motor dengan Alex daripada yang lain, karena Bintang tau Alex jago dalam motor, tidak seperti Bagas dan Cecep apalagi Eza. Tapi jangan salah jika mobil yang dibawa maka Eza lah pemenangnya.


Sampai di markas mereka semua membersihkan tubuh masing-masing, karena sebelumnya mereka sudah mengobati luka mereka.


Untuk motor Bintang, Alvin sudah meminta tolong pada orangnya untuk menjemput motor tersebut.


"Ada hal penting yang mau gue sampaikan" Alvin membuka suaranya setelah melihat semua teman nya berkumpul.


"Tapi kita makan dulu" bersamaan dengan itu bel dari pintu markas berbunyi.


"Biar gue yang buka" Eza berdiri dari duduknya untuk mengambil makanan yang sudah Alvin pesan.


Alvin sebelumnya memang sudah memesan makanan untuk mereka juga mengirimkan kabar pada Fahmi, jika mereka sudah berada di markas, Fahmi juga mengatakan dia belum bisa ke markas untuk beberapa hari kedepan, mungkin mereka akan bertemu saat di kampus saja.


"Lama banget dah ngambil makan doang" sindir Cecep.

__ADS_1


"Ss ngab!" Eza mendengus kesal pada Cecep, sambil menaruh dua kantong plastik yang berisi makanan dan minuman.


***


"Sial! sepertinya gue terlalu meremehkan geng somplak itu, buktinya ketua mereka sangat kuat, bahkan bisa mengendalikan emosinya dengan sangat tenang" umpat Leo.


"Lo tenang dulu Le, fokus dulu sama luka lo jangan marah-marah, nanti kita cari cara buat nyingkirin geng somplak itu"


"Sepertinya kita harus mempunyai rencana yang matang untuk membuat mereka kalah"


"Kau benar Yuda, kita tidak boleh gegabah, dan lo Yudi cari tahu informasi dari geng somplak itu, sekaligus semua data pribadi mereka kalau bisa"


Tanpa banyak basa basi Yudi segera pergi dari sana untuk melakukan apa yang Leo perintahkan.


"Kapan Kenta pulang? dan dimana Dimas? saat kita perang melawan geng somplak tadi, sudah bosan hidup rupanya dia" maki Leo.


"Santai bro, gue tadi nggak tau kalau kalian akan melakukan penyerangan, lo tau sendirikan kalau gue sibuk banget" tiba-tiba seorang masuk ke dalam ruang rahasia geng Atlas tanpa permisi..


"Berani lo Dimasss!!" teriak Leo kencang.


"Sorry" Dimas menggaruk lehernya yang tiba-tiba saja gatal, ternyata ada nyamuk yang hinggap di sana.


"Terserah lo aja Dimas Vernando!" Leo pergi meninggalkan mereka begitu saja.


***


"APA?"


"Pelankan suaramu Bintang!!"


"Hehe, maaf Vin reflek" ucap Bintang tanpa dosa.


"Jadi kita harus menyembunyikan identitas asli kita semua?" Bagas kembali mengulang ucapan Alvin tadi.


Tanpa diminta Alvin langsung membenarkan ucapan Bagas. "Yang paling penting identitas lo Eza Aszka Argintara!" tegas Alvin.

__ADS_1


"Kok gue" Eza menunjuk dirinya sendiri.


"Karena lo anak tunggal keluarga Argintara bodoh! memang lo udah merahasiakan identitas asli lo, tapi tidak bisa dipungkiri jika musuh kita akan menemukan identitas lo"


"Alex!" teriak mereka bersama.


Alex mengusap kupingnya yang terasa panas akibat teriakan dari mereka semua, dia yang sedari tadi mengotak-atik laptopnya terpaksa harus berhenti untuk melihat temannya satu persatu apa yang salah dari kata-katanya barusan.


"Ada yang salah nih kayaknya" batin Alex merasa situasi ini tidak enak sama sekali untuk dirinya.


"Apa ada yang salah? benarkan apa yang gue bilang?" dari pada penasaran teman-temannya menatap dirinya dengan horor lebih baik bertanya.


"Lo periksa kata-kata lo barusan" suruh Alvin datar.


Alex cepat mengingat kata-kata apa yang dia ucapkan sampai para teman-temanya menatap dirinya dengan horor, sampai Alex teringat kata 'Bodoh' yang dia sebutkan.


"Gue salah, hukuman gue lakuin, astaghfirullah hal-adzim" ucap Alex sambil mengelus dadanya.


"Sekarang ini dulu nanti dilanjut lagi" ucap Alex. "Gue udah menutup semua data pribadi kita dari semua jaringan yang ada, juga data di kampus sudah gue palsukan, kecuali punya Bintang tentunya, karena kita tidak tahu asal-usul makhluk astral satu ini, tapi informasinya sangat terjaga gue aja yang seorang hacker nggak bisa dapat informasinya" terang Alex panjang lebar.


Setelah ini Bintang akan mencacat sejarah untuk Alex, yang bicara panjang kali lebar untuk pertama kalinya.


"Hmmm" Bintang berdehem.


"Kalian akan tahu sendiri identitas gue nantinya, bukan hanya gue tapi Alvin juga bukan?" kini Bintang dan yang lain menatap Alvin.


"Lebih baik sekarang istirahat dulu, luka kalian masih belum sembuh" Alvin mengalihkan pembicaraan.


"Mengalihkan topik?" sindir Bagas.


Mereka memang tau tentang Alvin yang ditinggal oleh kedua orang tuanya, tapi mereka tidak tau siapa dan seperti apa kedua orang tua Alvin, karena Alvin sudah menutup rapat semuanya dia  kubur dalam-dalam kenangan lama yang begitu indah, namun berakhir dengan sakit hati terdalam bagi Alvin. Tapi Alex tentu tau siapa keluarga Alvin dan siapa Alvin Diandra sebenarnya, Alex memang tidak mulut ember jadi dia hanya akan diam jika tidak ditanya. Menjawab juga jika sekiranya perlu saja.


"Lo mau jadi satpam malam ini?" kini giliran Alvin yang menyudutkan Bagas.


"Dari pada gue jadi satpam mending gue tidur apalagi badan gue lagi sakit semua begini, ulah Yuda tadi" gumun Bagas.

__ADS_1


"Gue ke kamar duluan" Bagas pergi meninggalkan mereka semua menuju kamar yang biasa tempatnya tidur.


"Sekarang mendingan kita semua istirahat, besok pada ada kelas semua, sedangkan luka belum sembuh total" satu persatu mereka meninggalkan ruang diskusi untuk beristirahat menuju mimpi dan terbangun kala subuh menjelang atau di sepertiga malam.


__ADS_2