
Bismillahirohmanirohim.
"Fahmi, ibu mau ke pengadilan buat bikin surat cerai. Sebelumnya bapak kamu sudah menceraikan ibu" tutur Minah sendu.
"Ibu jangan nangis, Naya sama bang Fahmi setuju sama keputusan apa aja dari ibu" imbuh Naya, sambil mengelus punggung sang ibu.
"Iya nak, terima kasih banyak" dengan segera Naya memeluk ibu nya.
"Sekali lagi ibu minta maaf Fahmi sudah membuat kamu susah, setelah semua selesai pulang lah, orang tua kandungmu pasti menunggu kepulangan putra mereka yang sudah lama menghilang"
"Nanti jika orang tuamu mau menuntut ibu, itu sudah menjadi keputusan mereka memang ibu harus diberi hukuman yang setimpal"
"Udah ya bu, kita nggak usah bahas yang lain dulu, kita fokus sama kasus ibu dulu oke" Fahmi menenangkan sang ibu.
"Asik bang Fahmi pulang, bang Fahmi pulang" ujar Bintang girang.
"Bocil diem" si Bintang langsung mingkem, saat Alvin memanggilnya bocil.
"Yang muda ngalah" melihat itu Alex hanya bisa menggelengkan kepala.
"Dah lah, cuman gue yang waras fix" hanya bisa bicara dalam hati, kalau bicara langsung di depan teman-temannya auto kena keroyok massal.
"Jadi kita bakal nyerahin ini semua sama polisi? sekaligus buat surat cerai" Cecep ikut nimbrung, tumben sekali dia tidak cari masalah.
"Tumben waras bang" ujar Eza.
"Kena lagi gue, waras salah bar-bar pun salah, sebenarnya yang lebih tua disini siapa sih!" ujar Cecep frustasi.
"Anda!" jawab mereka kompak, kecuali Fahmi tentunnya, jelas Fahmi dan Cecep lebih tua Fahmi walaupun jarak hari lahir mereka cuman satu minggu.
"Dah lah!" mau bagaimana lagi, jalan satu-satunya ya pasrah, daripada ngeladenin orang-orang yang tak tau diri itu, udah mah satu lawan lima lagi, jelas kalah dong yang satu, ya nggak? iyain aja dah lama!
"Kita jadi ke rumah kakek Hasan nggak sih, debat mulu dari tadi" si Bagas mode waras kek nya. Wkwkwk!
__ADS_1
"Jadi!" mereka semua menjawab dengan kompak, kecuali Alex dong tentunya.
"Inget woy, rumah orang nih" tegur Bagas.
"Iya!"
"Ibu kalau gitu Fahmi sama yang lain pamit dulu ya, mau ke rumah guru kita" ujar Fahmi pamit pada sang ibu, diikuti oleh yang lainnya.
"Jagain ibu dek!"
"Iya bang bawel amat jadi laki!" Naya menjawab dengan ketus. Walaupun sudah baik dengan Fahmi tapi tetap saja cara ngomong ketus Naya tidak bisa berubah.
"Bintang lo masih punya hukuman kan? udah dikerjain belum? santai aja dari tadi" ujar Eza.
"Ilah Za inget aja sama hukum gue" gerut Bintang.
"Yoi, harus dong, muka-muka kayak lo itu harus diingetin terus kalau dapat hukuman" terang Eza.
"Bapak gue aja kalau gue salah nggak pernah marah, lah lo bang malah pada marah!" gerut Eza.
"Buktinya gue nggak!" sangkal Bintang.
"Serah lo, debat sama bocah nggak bakal selesai" Fahmi lalu menyalakan mesinnya menyusul yang lain sudah jalan lebih dulu.
"Bocil gini geh umur gue udah 21 tahun! masih dibilang bocil, oh tidak apa kata dunia" Bintang tetap ngoceh sepanjang jalan.
Sudah hampir satu bulan mereka tidak berkunjung ke rumah kakek Hasan, suasana disana tetap seperti biasanya sejuk dan nyaman, hanya ada perubahan sedikit di tempat itu.
"Masih sama kayak pertama gue kesini" gumun Alvin.
Alvin ingat betul bagaimana dia bisa bertemu dengan kakek Hasan untuk pertama kalinya, memori beberapa tahun yang lalu kembali berputar di otak Alvin, dari bagaimana dia mendengar sang papa dan mama dengan mudahnya mengucapkan kata-kata perpisahan, sampai dia merasa sakit hati dan sampai ke tempat kakek Hasan.
Tanpa Alvin sadari air matanya yang selalu disimpan dan jaga jatuh begitu saja tanpa diminta, Alvin yang menyadari jika dirinya meneteskan air mata segera mengelap air mata tersebut sebelum ada yang melihatnya.
__ADS_1
"Dah yok kesana!" ajak Bagas yang lain hanya mengikut saja.
Sebelumnya Alvin sudah menghubungi orangnya untuk mengurus surat perceraian bapak dan ibu angkat Fahmi dan Alvin juga menyuruh orangnya untuk melaporkan bapak angkat Fahmi ke jalur hukum atas tuduhan perselingkuhan dan pelaku kekerasan.
Alvin memang memiliki tangan kanan untuk mengurus hal-hal yang mendesak, juga untuk mengawasi cafe mereka yang sudah berkembang pesat, bahkan cafe itu sudah memiliki berbagai cabang sampai luar daerah, tapi cafe utamanya yang diatasi oleh Niah, bahkan disitu dulunya cefe kini sudah di renov menjadi restoran, tentu saja Alvin meminta persetujuan semua teman-temannya untuk mengubah cafe menjadi restoran.
Bukan itu saja bahkan Alvin membuat konsep khusus cewek ada juga khusus cowok dan khusus keluarga di restoran itu.
"Assalamualaikum" sapa mereka secara bersama. Mereka sudah berada tepat di depan pintu gubuk sederhana milik kakek Hasan.
"Wa'alaikumsalam, Nak Alvin dan yang lain mari masuk" ajak kakek Hasan sambil terbatuk-batuk.
Mereka semua dibuat terheran-heran biasanya gubuk sederhana milik kakek Hasan akan sangat bersih, rapi dan terawat tapi kenapa gubuk itu sepertinya sudah lama tidak dirawat.
"Kakek sakit?" bukan bertanya lebih tepatnya Fahmi menebak.
Mendengar perkataan Fahmi kakek Hasan tersenyum seperti biasanya. "Kakek sehat" ujarnya sambil kembali ternatuk.
"Kakek udah minum obat belum?" tanya Bintang dengan heboh.
"Bintang! jangan kebiasaan" tegur Alvin secara tegas.
"Iya" ujarnya sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja sangat gatal.
"Boleh Bagas periksa kek?" ujar Bagas dengan sopan.
Bukan apa, begitu-begitu juga Bagas ahli dalam mengecek kondisi seseorang, dulu dia pernah ikut praktek ke dokter, saat dibangku sma, tadinya Bagas akan masuk jurusan kedokteran, tapi setelah putus dengan Lia semua berubah.
Mungkin Bagas bisa dikatakan sekarang salah mengambil jurusan, ets tapi jangan salah, banyak mahasiswa-mahasiswi merasa salah mengambil jurusan saat berada di semester tiga, tapi banyak dari mereka yang tetap menjalankan peran mereka, jadi jangan pernah salah jurusan ya walaupun nggak tepat sama jurusan waktu di sma tapi jalanin aja, In Sya Allah mendapatkan jalan yang baik.
"Silahkan" ujar kakek Hasan akhirnya. Melihat kakek Hasan terus terbatuk mereka semua merasa tidak tega.
"Kakek sudah sejak kapan batuk?" tanya Bagas dengan hati-hati setelah mengecek keberadaan kakek Hasan yang ternyata sakit lumayan parah.
__ADS_1
Bagas tahu pasti kakek Hasan tidak akan jujur dengan mereka, karena kakek Hasan tidak mau mereka khawatir pada dirinya.
"Baru dua hari" ujarnya, kakek Hasan tidak berbohong memang baru dua hari ini dia merasakan badannya sangat sakit, yang sebelum-sebelumnya tidak pernah kakek Hasan rasakan, tapi walaupun begitu kakek Hasan tidak pernah meninggalkan ibadahnya sedikit pun dia tetap melakukan semua aktivitasnya yang biasa dia lakukan.