Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
22. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim


"Assalamualaikum, Eza pulang" ucap Eza malas.


Saat selesai makan bersama dengan geng somplak yang ketuakan kan Alvin di kantin kampus, Eza mendapat kabar dari mama nya jika hari ini mama dan papa nya sudah berada di rumah.


"Anak mama, sini" Fani berucap sambil tersenyum pada Eza.


Walaupun Eza merasa kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya, dia juga harus bersikap hormat pada mereka. Eza tersenyum pada sang papa dan mama, sambil mencium kedua punggung tangan kedua orang tuanya dengan takzim, dan dibalas ciuman dari sama papa nya.


"Gimana kabarnya ma, pa?" tanya Eza basa-basi.


"Alhamdulillah bika Za, seperti yang kamu lihat, kamu sendiri gimana sayang?" kini Anton papa Eza yang bersuara.


"Alhamdulillah Eza juga baik pa"


"Gimana si Alvin, nggak kamu aja kesini"


"Tadi Alvin udah pulang duluan ma, katanya nanti dia kesini paling abis dzuhur"


Walaupun Eza dan Alvin baru kenal saat masuk di universitas negeri jakarta, tapi Alvin sangat mengenal kedua orang tua Eza, begitu juga sebaliknya, karena Alvin orang pertama yang mau berteman dengan Eza, setelah saling menghajar satu sama lain.


Eza Aszka Argintara, memang sangat susah mengontrol diri, emosinya cepat sekali datang, bukitnya saja saat pertama kali bertemu dengan Alvin, Eza langsung mengajak Alvin bertengkar, begitu juga dengan Fahmi dan Bintang, Eza langsung menghajar keduanya tanpa sebab.


Alhamdulillahnya sekarang emosi seorang Eza bisa dikontrol sedikit demi sedikit, jika sudah marah maka semua yang ada di dekatnya akan hancur tanpa sisa, sejauh ini baru Alvin yang bisa mengalahkan Eza.


Dalam hal bertarung Eza memang lebih unggul dari Fahmi dan Bintang, tapi kadang Eza hanya menggunakan kemampuannya dan emosinya saja, berbeda dengan Fahmi yang memainkan logika dan bisa membaca gerak-gerik lawan.


"Gitu ya, semoga aja Alvin datangnya abis dzuhur, karena mama sama papa nggak bisa minep, maaf ya Za, kamu nggak papakan?" dengan berat hati Fani harus mengatakan itu pada Eza.


Melihat Eza hanya diam saja Anton papa Eza sangat merasa bersalah. "Za" panggil Anton.


"Heh, iya pa, kenapa?" tanya Eza seakan dia sadar dari lamunannya.


"Kamu denger mama ngomong?"


"Iya pa, ma, Eza nggak papa kok, yang penting papa sama mama tetap jaga kesehatan" hanya kata itu yang mampu Eza katakan..


Yang sebenarnya bukan itu yang dia mau, bukan kata-kata manis dari mulutnya yang ada di hatinya, tapi dia juga tidak ingin menyakiti hati kedua orang tuanya.


"Eza itu pengennya kita seharian ngabisin waktu bareng, sekali aja bukan sibuk kerja terus, apa kalian nggak ada waktu sebentar aja buat Eza?" tapi sayangnya kata-kata itu tidak mampu Eza ucapkan di bibirnya.

__ADS_1


Walaupun sudah dewasa keinginan untuk bercerita bercanda bersama dengan mama dan papa pasti ada, apalagi Eza anak tunggal tidak ada lagi keluarga di rumah selain mama papa, walaupun ada keluarga dari nenek.


***


"Mau kemana lo Vin?" tanya Bintang, kini Alvin sudah siapa dengan pakaian rapinya untuk keluar. 


Bintang sedang sibuk membersihkan ruang tamu kala melihat Alvin sudah rapi dengan setelan anak jaman now.


Geng somplak memang tidak pernah keluar rumah menggunakan celana pendek, mereka selalu mengenakan celana panjang minimal sebawah lutut mereka.


"Ke rumah si Eza"


"Tumben, iya juga sih tumben itu anak nggak molor di markas, terus ngapain juga lo ke rumah Eza? biasanya juga nggak pernah pulang tu anak yang ada molor terus"


"Setdah Bagasi! kalau ngomong di rem dulu bang"


"Suka-suka gue Bintang doraemon!" sahut Bagas sewot.


"Ribut aja terusss! kayak anak sd" sindir Alex yang masih setia berdiri di depan kulkas, untuk mengambil minum yang lebih dingin karena merasa haus.


"Gue mau ke rumah Eza ketemu bokap sama nyokap nya" akhirnya Alvin kembali bersuara saat melihat suasana mulai sepi.


"Mau ikut kagak lo pada?" tambah Alvin lagi.


Bintang yang tadinya sedang membersihkan ruang tamu bersama Cecep bergegas cepat, sebelum ditinggal Alvin.


Alvin dan kelima temannya yang lain kini sudah berdiri di depan rumah Eza, mereka menempuh perjalanan menggunakan motor sport mereka menuju rumah Eza, memakan waktu hampir satu jam.


"Ini bener rumah Eza?" Cecep berdecak kagum dengan rumah Eza yang bak istana itu.


"Tapi kenapa dia lebih suka di markas dibanding rumah sebagus ini?"


"Cep, walaupun rumah sebagus apapun, tapi kalau di dalamnya sunyi sama aja boong, lebih baik rumah biasa saja, tapi ada canda tawa di dalamnya itu lebih asik" Fahmi memang sangat tahu tentang Eza, setelah Alvin, karena Fahmi sangat dekat dengan Eza.


"Assalamualaikum" Alvin dan yang lainnya langsung mengucapkan salam secara bersama.


Baru saja Bintang menginjakan kaki di rumah Eza, dia langsung disuguhkan pemandangan yang sangat membangongkan.


"Sabar Tang, rumah bagus juga ada para cecunguknya" entah apa yang Bintang lihat, karena hanya dia yang bisa melihat hal-hal aneh, saat itu juga reflek Bintang mengelus dadanya.


"Waalaikumsalam" jawab orang yang ada di ruang tamu.

__ADS_1


"Nak Alvin rupanya sama temen-teman, tante nungguin kamu, kata Eza tadi kamu udah pulang duluan, jadi kesini nya nyusul"


"Iya tante, Alvin juga kesini bawa temen" Alvin merasa sedikit tidak enak, karena membawa banyak orang.


"Iya nggak papa, mereka juga teman Eza kan?" tebak Fani.


"Iya tan"


Fani memang belum tau siapa saja teman-teman Eza, yang dia tau hanya Alvin saja, jika melihat kepribadian Eza tidak mungkin dia memiliki banyak teman, karena dulu waktu masih duduk dibangku smp dan sma, teman-teman Eza hanya memanfaatkannya saja, karena dia anak orang kaya.


Maka dari itu juga jika ingin mencari teman yang benar-benar tulus Eza akan menghajar orang nya dulu, seperti yang dia lakukan pada Alvin, Fahmi dan Bintang.


"Alvin! rupanya udah dateng, gimana kabar kamu brother?" Anton baru saja keluar dari kamar menyusul Fani sang istri.


"Alhamdulillah, sejauh ini baik om"


"Dan ini teman-teman kamu?" tanya Anton, mereka semua menyalami Anton satu persatu begitu juga tadi dengan Fani.


"Iya om, lebih tepatnya temannya Eza juga"


Tak lupa mereka berkenalan dengan Anton dan Fani, jarang sekali ada orang yang bisa langsung berkenalan dengan pemilik universitas negeri Jakarta itu, bisa dibilang geng somplak termasuk beruntung. Karena bisa berkenalan dengan pemilik kampus tempat mereka menimba ilmu.


"Udah dari tadi?" Eza baru saja bergabung dengan yang lainnya.


"Abis ngapain lo Za? lama amat" biasa mulut Cecep memang tidak bisa dikondisikan.


"Sholat dzuhur" sahut Eza santai.


Deg....


Sedangkan kedua orang tua Eza merasa sangat bersalah, tidak tahu perkembangan anak tunggal mereka, karena hanya sibuk bekerja dan bekerja. Mereka juga seharusnya menuntut Eza untuk lebih mengenal sang penciptanya, tapi apa mereka juga seakan lupa dengan tanggung jawab mereka, karena hanya memikirkan dunia.


Walaupun begitu di setiap sujudnya Eza sangat berharap sesibuk apapun kedua orang tuanya tak pernah meninggalkan kewajiban mereka untuk tetap menunaikan sholat 5 waktu.


"Kalau gitu kita makan dulu, tante udah masak banyak" Fani mencairkan suasana, tadi saat Eza mengatakan shalat suasana disitu menjadi sedikit canggung.


"Asik lah makan gratis, makan gratis" Bintang tanpa rasa malu sudah semangat 48.


"Makan terus lo Tang" sahut Eza.


"Kayak  situ nggak aja ngab, siapa yang paling banyak kalau makan, kita semua tau jawabannya, siapa lagi kalau bukan Eza!!" Eza sudah kalah telak dengan Bintang, memang begitu kenyataannya.

__ADS_1


Malu? Oh tentu tidak untuk Eza, karena dia tidak akan pernah malu jika, tidak melakukan kesalahan. 


__ADS_2