Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
37. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Kalian pulang duluan aja gue masih ada urusan disini" ucap Dimas pada semua teman gengnya.


"Ok, lo berhutang penjelasan sama kita Dim!" tegas Leo, lalu dia segera pergi dari tempat itu diikuti oleh semua anggota gengnya.


"Hati-hati bro" ujar Kenta sambil menepuk pundak Dimas, Dimas hanya mengangguk saja, dia tidak tahu nasib apa yang akan dia dapat setelah ini, ah, mungkin kena ceramah panjang lebar pikirnya.


"Huh, kenapa disini ada bang Alex sih,  gue baru inget kalau bang Alex juga kuliah di universitas negeri jakarta begitu juga temannya si bang Alvin" batin Dimas was-was.


"Lagian kenapa juga gue baru tahu kalau bang Alex kuliahnya disini, berarti waktu  itu Leo berkelahi dengan bang Alex juga bang Alvin, untung kagak ikut dah gue, mati kutu kalau waktu itu gue ikut" Dimas masih saja komat-kamit di dalam hatinya, sambil mendekati Alex yang sudah menatapnya tajam.


"Aduh serem banget sih bang" gumun Dimas tapi dia tidak berani berkata langsung pada Alex.


"Hai bang apa kabar?" tanya Dimas basa-basi.


"Ikut gue!" bukannya menjawab Alex malah pergi meninggalkan Dimas menyuruhnya untuk mengikuti dirinya.


Para mahasiswa-mahasiswa yang menyaksikan keributan tadi sudah bubar satu persatu, adanya gadis bernama Kia tadi sudah menyelamatkan kampus dari kekacauan mungkin setelah ini dia akan mendapatkan penghargaan dari kampus.


"Yang sabar ya Dim!" ucap Alvin sambil menepuk pundak Dimas, mereka semua mengikuti langkah kaki Alex yang menuju cafe depan kampus.


"Kok lo waktu itu nggak bilang sih bang, kalau bang Alex itu salah satu anggota geng somplak" kesal Dimas.


"Lah, kan waktu itu lo kagak nanya, malah ngejek temen gue lagi" sahut Alvin santai.


Dimas masih mengingat sekali wajah Bagas yang pernah dia ejek di depan umum, bahkan orang itu sekarang berjalan sejajar tepat di sebelah Dimas, ada rasa bersalah pada diri Dimas. Benar kata orang-orang pergaulan dapat mempengaruhi perubahan sikap kita, dia yang dulunya anak baik saat menjadi bagian dari geng atlas semuanya berubah, sikapnya yang dulu lemah lembut kian menjadi kasar, pemarah juga membangkang. Dimas dulu sangat mudah sekali diatur, tapi karena tekanan dari gengnya yang selalu berbuat kasar  pada sesama teman menjadikannya seperti sekarang.


"Jelaskan!" satu kata dari Alex mampu membuat Dimas kesusahan hanya untuk menelan salivanya saja.


Mereka sudah berada di cafe depan kampus tempat biasa geng somplak nongkrong, Fahmi dan yang lain mengambil meja berbeda, mereka tau diri ini urusan Alex dan anak geng atlas yang bernama Dimas itu, jadi tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Sedangkan Alvin satu meja dengan Alex dan Dimas.

__ADS_1


Alvin tentu saja mengenal siapa Dimas, Dimas adalah putra kedua dari keluarga Vernando, sedikit kaget saat berjumpa dengan Dimas saat itu, perjumpaan untuk pertama kalinya setelah dia lulus, setau Alvin, Dimas tidak suka dekat-dekat dengan yang namanya cewek.


"Dimas lo mau jelasin semuanya atau nggak!" tekan Alex sekali lagi.


"Sabar Lex jangan emosi" tegur Alvin.


"Iya bang Dimas jelasin. Denger kata bang Alvin jangan pake emosi kan Dimas jadi takut" cicitnya.


Ah, rasanya Dimas seperti sedang diinterogasi, karena melakukan kesalahan fatal. Dimas itu adik kandung Alex jarak mereka hanya satu tahun, begitu dengan Alex yang dekat dengan Alvin saat sekolah Dimas juga sama. Saat SMA Alvin dan Dimas satu sekolahan tapi tidak dengan Alex. Karena tau jika Dimas adik dari teman sekaligus musuhnya Alvin juga sudah menganggap Dimas adiknya sendiri.


"Nih pertama kali Dimas masuk geng Atlas itu, waktu pulang dari makam mama sejak hari itu Dimas jadi bagian dari mereka" jawabnya jujur. Tak lupa Dimas menjelaskan semuanya pada Alex tanpa terkecuali.


"Lalu jika mereka menganiaya orang yang tidak bersalah lo ikut?" tanya Alex dengan tajam.


"Nggak lah bang! abang tau sendiri gimana sifat Dimas, lagian juga abang inget nggak waktu geng atlas nyerang kalian kan nggak ada Dimas baru kali ini Dimas muncul" imbuh Dimas lagi.


Alex percaya dengan semua yang dikatakan Dimas, bagaimanapun juga dia tahu seperti apa sifat sang adik, walaupun keduanya hanya jarak satu tahun tapi Dimas sangat segan dengan sang kakak, karena Alex juga sangat menyayangi dirinya.


"Belum waktunya Dim" jawabnya lirih. Ada nada kesedihan dari jawabnya yang Alex berikan, begitu juga ada nada kesedihan dari pertanyan Dimas, seakan merindukan sesuatu yang telah lama hilang.


Dimas tidak seperti Alex yang tidak pernah pulang, dia masih setia bolak-balik rumah, walaupun sang papa jarang menyapa dan mama tirinya tak peduli, jika kalian tahu mama tiri Alex dan Dimasa adalah mama nya Lia, ya Lia mantan kekasih Bagas. Inget waktu di mall saat Lia dan Dimas bertemu Bagas dan Alvin, makanya Lia bisa bersama Dimas karena mereka adik kakak tiri.


Bagaimanapun juga Lia sudah menjadi adik Dimas dan Alex, umur Lia dan Dimas sama hanya berbeda dua bulan saja. Lia masih menjadi kekasih Leo sampai sekarang, maka dari itu Dimas tidak mau macam-macam karena dia juga menyayangi Lia sebagai adik, dia tak mau Lia terkena imbasnya karena ulahnya nanti. Mama Lia memang tidak menyayangi Dimas dan Alex tapi bagi Dimas Lia sudah menjadi bagian dari keluarganya, Lia juga mengerti seperti apa perasaan Dimas dan Alex.


"Hmmm" dehem Alvin. "Dimas sepertinya lo harus minta maaf pada seseorang 


disini" seru Alvin, saat percakapan antara Dimas dan Alex telah usai.


"Yang bang tau diri kok, lagian waktu itu juga disuruh Lia" seru Dimas.


"Harusnya lo nasehati Lia Dim, sekarang tugas lo jaga Lia, sama nasehatin dia biar nggak kayak mak nya" tegur Alex.

__ADS_1


"Iya bang, Dimas tau Dimas salah, tapi abang gimana?"


"Ada waktunya abang yang menasehati Lia, sekarang minta maaf sama orang yang udah lo bikin sakit hatinya tanpa sengaja" suruh Alex.


Walaupun tidak tahu siapa orangnya Alex tetap menyuruh Dimas untuk minta maaf, kita kadang asal ucap tapi tidak tahu apakah orang itu sakit hati atau tidak atas perkataan kita, lalu dia berdoa karena merasa dizalimi. Ingat Allah bersama orang-orang yang terzalimi.


"Bang Alvin, panggilan ya orangnya" pinta Dimas pada Alvin. Alvin tidak menjawab apa-apa melainkan langsung memanggil orang yang dimaksud oleh Dimas.


"Gas sini" pinta Alvin, tanpa banyak tanya Bagas langsung menghampiri Alvin, Alex dan Dimas.


"Duduk Gas" ucap Alvin, Bagas sudah ada diantara mereka tepatnya di depan Dimas.


"Hemmm, bang Bagas ya?" tanyanya basa-basi.


"Nggak usah takut dia orangnya baik kok, humble juga" bisik Alvin.


"Bang gue mau minta maaf soal yang waktu itu, di Mall" sesal Dimas.


"Sama gue juga minta maaf atas nama Lia adek gue" tambah Dimas lagi.


"Tenang aja gue udah maafin kalian berdua kok, lagian nggak baik menyimpan dendam" ujar Bagas sambil tersenyum pada Dimas.


"Yes! makasih bang"


"Duk"


"Ish, bang kok digetok sih, sakit jidat gue" protes Dimas.


"Alhamdulillah, bukan yes!" tegur Alex.


"Iya bang, Alhamdulillah" ucapnya kalau ngebantah juga percumah.

__ADS_1


__ADS_2