Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
41. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Masih ditempat yang sama dan keadaan yang sama mereka sedang berkumpul sambil mendengarkan siraman rohani dari kakek Hasan, sebelumnya mereka telah melaksanakan sholat ashar berjamaah terlebih dahulu.


"Kek, Eza boleh tanya?" 


Seperti biasa kakek Hasan akan tersenyum sebelum menjawab pertanyaan mereka. "Silahkan nak Eza" ujar kakek Hasan.


"Eza mau tanya kek, apa istimewanya suatu  ilmu?" 


"Ilmu itu merupakan ibadah yang sangat anggun suatu hal yang sangat berharga di kehidupan kita. Ilmu adalah kawan yang paling memberikan manfaat, dengan adanya ilmu, ilmu bisa menegur kita, ketika kita keliru, ilmu juga bisa memberikan motivasi ketika kita sedang malas atau merasa malas. Ilmu juga bisa menghibur ketika kita sedih. Ilmu itu adalah lentera kehidupan" jelas kakek Hasan.


Mereka semua menyimak penjelasan kakek Hasan dengan saksama, tak luput pula sekali-kali kakek Hasan terbatuk.


"Kek tapi Alvin pernah dengan kata-kata kayak gini, adab lebih tinggi daripada ilmu" tambah Alvin.


Kakek Hasan kembali tersenyum. "Memang adab derajatnya lebih tinggi daripada ilmu, punya ilmu tapi tak punya adab sama saja bohong. Beradab tapi tak berilmu tak mungkin. Pasti orang yang beradab pasti berilmu, orang berilmu belum tentu memiliki adab yang baik. Jadi keduanya harus bersanding" jelas kakek Hasan lagi.


"Mana lebih dulu kek, ilmu atau adab yang baik?" Bintang ikut bertanya.


"Adab! akhlak yang baik" 


"Fahmi juga mau tanya kek, kenapa manusia sifatnya sering berubah-ubah?"


"Ma Fi Qalbi Ghairullah, orang bisa tiba-tiba berubah karena Allah membolak balikan hatinya. Ingat Allah maha membolak-balikan hati setiap hambanya"


"Ada pesan dari kakek buat kalian"


"Kamu harus memiliki pengetahuan untuk mengetahui kapan harus berbicara, dan memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus diam" pesan kakek Hasan.


Walaupun pesan dari kakek Hasan terkesan singkat, tapi mereka tahu makna di dalam pesan singkat tersebut memiliki makna yang amat mendalam.


Karena sudah masuk waktu magrib mereka mulai mengantri mengambil air wudhu setelah kakek Hasan selesai mengambil air wudhu. Walaupun tidak pernah merasakan berada di pesantren tetap saja mereka merasakan yang namanya ngantri. 


"Huh, ternyata ngantri nggak enak" keluh Bintang.


"Justru yang nggak enak itu mendatangkan pahala, karena dari tadi lo harus tetap berusaha sabar" ujar Cecep bijak.


Eza dan Bintang yang kebetulan berada didekat Cecep menoleh secara bersama begitu juga dengan Bagas yang tidak jauh dari mereka.


"Kenapa? mau bilang tumben bang bijak" selor Cecep cepat, dia hafal betul tingkah si Bontot dan Eza.


"Tau aja lo bang!" sahut ketiganya kompak.

__ADS_1


"Hahaha!" mereka tertawa bersama.


"Udah nggak waras!" Cecep menyerobot antrian, karena Bintang, Eza dan Bagas masih sibuk tertawa ngakak.


"Inget magrib!"


"Inget dihutan!" 


"Inget ambil wudhu!" kompak Alvin, Alex dan Fahmi.


"Mampus, kena juga lo pada" batin Cecep, ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak saat itu juga, tapi kalau dia tertawa dia malah akan kena semprot 6 orang sekaligus jadi lebih baik diam.


Selesai sholat magrib mereka kabur masing-masing entah kemana setelah berzikir dan membaca Al-quran terlebih dahulu. Tapi berbeda dengan Alvin dan Bagas entah mereka berdua membahas apa sepertinya masalah yang lumayan serius.


"Vin ada yang mau gue omongin" ujar Bagas serius.


"Ada masalah apa Gas? kayak ada yang serius banget" sahut Alvin.


"Ini masalah penyakit kakek Hasan" 


"Kenapa dengan penyakit kakek?"


"Kita harus bawa kakek Hasan ke rumah sakit, gue nggak bisa liat jelas kakek Hasan sakit apa yang pasti sakitnya lumayan parah"


Mendengar penjelasan yang diberikan Bagas, tubuh Alvin terasa lemas seketika, bagaimanapun juga kakek Hasan sudah seperti kakek Alvin sendiri.


"Jangan asal memutuskan sesuatu Vin, gue tau lo khawatir sama keadaan beliau, kita juga sama tapi kita harus bicara baik-baik sama beliau, kita juga harus meminta pendapat beliau"  


"Maaf!" ujar Alvin lesu.


Tanpa keduanya sadari kakek Hasan mendengar semua yang mereka bicarakan, kakek Hasan mengelap air matanya yang jatuh, bukan karena sedih akan penyakitnya tapi merasa bahagia karena ada orang yang masih menyayanginya, kakek Hasan merasa sangat terharu.


Jika kamu melakukan kebaikan pada orang lain, maka kamu akan merasakan kebaikan itu sendiri, kata-kata itulah yang sepertinya cocok untuk diberikan pada kakek Hasan yang selalu berbuat dan berbagi kebaikan pada sesama.


 


Kakek Hasan segera pergi dari tempat itu sebelum Alvin dan Bagas melihat dirinya berada disitu, beliau akan berpura-pura tidak tahu tentang apa yang sudah terjadi padanya, usia yang kian bertambah dan juga berkurang membuat kakek Hasan sadar, lambat laun semua akan kembali pada sang pencipta. Sang pemilik segala-galanya. Jika dia berkehendak saat itu juga kita bisa apa, tetaplah berdoa agar kita selalu berada dijalan-Nya.


"Oke gue akan bicarakan ini baik-baik dengan kakek Hasan" putus Alvin yang diganggu oleh Bagas.


Bagas sudah pergi terlebih dahulu, Alvin yang ingin menyusul Bagas dia urungkan karena suara dari benda ajaibnya yang tiba-tiba saja menandakan ada panggilan masuk. 


"Assalaumalikum" sapa Alvin terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bagaimana?" ujar Alvin kemudian di telponnya.


"Semuanya sudah beres, surat cerainya akan jadi satu minggu lagi"


"Baiklah satu minggu lagi surat cerainya kirim ke alamat rumah Xx"


"Kalau begitu saya tutup, Assalamualaikum" Alvin segera menutup teleponnya setelah mengucapkan salam.


 


Masalah bapak angkat Fahmi sudah selesai tinggal menunggu surat cerai ibu dan bapak angkat Fahmi lagi, setelah ini Fahmi akan menepati janjinya pada Bintang bahwa dia akan bertemu dengan ibu dan bapak kandungnya.


"Mi, semua sudah selesai" ujar Alvin. "Tinggal nunggu surat cerianya dateng ke rumah"


"Thanks Vin, buat semua juga" 


"Jangan sedih lah ngab" si Bintang emang nggak pernah tau tempat.


"Ngab apa sih Tang?" tanya Bagas entah dia lola atau memang benar-benar tidak tahu.


"Balik aja coba" Bagas yang tidak paham langsung membalikan badannya.


"Aduh!" mereka semua menepuk jidat masing-masing, bisa-bisanya si Bagas salah arti.


"Bukan lo nya yang balik bagasiii! tapi baca tulisannya secara kebalik" ucap Alvin berusaha untuk tidak membuat kegaduhan.


"Ngab, bang, berarti ngab itu bang maksudnya?" Bagas mulai ngeh juga, siapa tau bakal ada drama panjang.


"Ho'oh bang" sahut Bintang.


"Kita mau nginep apa gimana?" si kutub bersuara..


"Kita nginep dulu, ada yang mau gue omongin sama kakek Hasan, masa iya juga sih kita cuman main doang lagian juga udah malem"


"Terus lo kalau minep tidur dimana?"


"Tidur aja lo pikir Za! kalau nggak tidur ya makan yang ada di otak lo" Fahmi menjitak jidat Eza sedikit kuat.


"Lagian kayak cewek aja lo Vin, udah malem lebay" Eza tidak memperdulikan Fahmi, tapi dia mengelus jidatnya yang diserang oleh Fahmi. Sakit tentu saja.


"Sakit nggak Tang?"


"Lo mau juga?" tawar Fahmi pada Bagas.

__ADS_1


"Dah lah, capek ngomong sama kalian"


"Lo dari tadi kagak ngomong bang Ceceppp…….!!" teriak Bintang.


__ADS_2