Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
31. TBB


__ADS_3

"Yuk ke rumah Fahmi, mumpung hari ini lagi pada nggak sibuk masing-masing" ajak Alvin.


Hari ini setelah tiga hari mereka bermain game yang dibuat oleh Bagas, sudah tiga hari ini juga Fahmi belum kesini entahlah kenapa bisa begitu, tapi jika ditanya di grup wa Fahmi hanya menjawab belum sempat soalnya masih mengurus ibu nya.


Sedangkan Alvin dan yang lainnya baru hari ini memiliki waktu bersama setelah tiga hari saling sibuk satu sama lain oleh jadwal kuliah mereka masing-masing, kadang mereka hanya bertemu saat makan malam, bahkan ada yang sudah tidur ataupun masih belum pulang kuliah sangking sibuknya. 


"Ngapain sih males tau gue" sahut Bagas yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari teman-temannya, kecuali Alex.


"Gas dengerin gue, menjenguk orang sakit itu adalah salah satu hal yang dianjurkan dalam islam, ada lima hak muslim terhadap muslim yang lainnya, yang pertama menjawab salam ketika orang muslim lain mengucapkan salam pada kita, kedua mengangkat jenazah, ketiga memenuhi undangan apabila kita diundang dalam satu acara misalnya pernikahan, empat menjenguk orang yang sakit dan yang keempat menjawab orang yang bersin[ Tasymith al-athis] (HR. Bukhori)"


"Jadi dapat disimpulkan jika salah satunya menjenguk orang sakit, menjenguk orang sakit itu menjadi salah satu sunnah muakad atau sangat dianjurkan" jelas Alex.


"Tu denger ustadz ngomong Gas" sahut Cecep.


"Maaf bang keceplosan" ucap Cecep polos kala mendapatkan tatapan tidak enak dari Alvin.


"Gelar ustadz itu bukan buat main-main Cep, inget itu gelas yang tinggi" tegas Alvin.


"Maaf Vin, lupa" kilahnya.


"Ngeles aja teruss!" dengus Bintang dan Eza.


"Udah-udah nggak usah ribut, jadi apa nggak nih" lerai Alvin.


"Jadi!" jawab mereka kompak.


"Bawa mobil aja gimana" usul Eza.


"Boleh juga tuh. kita juga kan nggak mungkin jenguk orang tua Fahmi dengan tangan kosong" sahut Bintang. 


Akhirnya mereka setuju untuk membawa mobil milik Eza, tentunya setelah perdebatan yang lumayan menguras emosi, siapa lagi yang emosi kalau bukan Eza si tukang emosi bar-bar. 


"Berhenti dulu bentar Za, kita mau beli buah sama kue dulu" ucap Bagas.


"Biar gue sama Bagas aja yang turun, biar nggak lama" ucap Alvin tegas, dia yakin jika Bintang, Eza dan Cecep ikut turun bukannya cepat selesai belanja malah tambah panjang urusannya.


"Ingat jangan ada yang turun!" tegas Alvin sekali lagi, sambil melirik Alex untuk memberi isyarat agar menjaga para pembuat onar itu, Alex mengangkat jempolnya yakin.

__ADS_1


"Ingat jangan ada yang turun, jangan ngulah!" tegas Alex dia kembali mengulangi ucapan Alvin kala melihat Eza hendak turun setelah kepergian Alvin dan Bagas.


"Astagfirullah haus tau gue" dalih Eza.


"Udah gue pesen sama Alvin buat bawa minum, ada yang mau titip lagi?" tanyanya sambil menatap ketiga orang itu dengan horor.


"Ini lebih horor dari pada setan-setan yang biasa gue liat" gumun Bintang. Kalau tidak begitu teman-temannya tidak akan menurut.


Sudah dibilang mereka lebih takut pada Alex daripada Alvin sebenarnya, karena Alex lebih mengerikan tentunya.


Sementara itu Alvin dan Bagas tengah membeli buah dan kue yang mereka butuhkan untuk menjenguk ibu Fahmi.


"Lo pilih-pilih dulu Gas, gue mau beli pesanan anak-anak" ucap Alvin sambil berlalu meninggalkan Bagas yang tengah sibuk memilih buah segar.


"Oke Vin, jangan lama" pesan Bagas.


Setelah membaca pesan dari Alex, Alvin langsung bergegas mencari pesanan mereka yang berada di mobil, jangan katakan  jika Eza hanya memesan minuman saja, oh tentu tidak tahu sendiri si Eza bagaimana apalagi dirinya tidak diperbolehkan keluar dari mobil, tak lupa Bintang dan Cecep juga tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas belanja banyak tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.


"Subhanallah, gimana ceritanya ini mereka titip banyak banget" Alvin sampai bingung sendiri.


Merasa sudah terlalu lama meninggalkan Bagas, Alvin segera kembali ke tempat semua dimana dia dan Bagas membeli buah, Alvin juga sudah membeli kue nya agar tidak bolak-balik lagi, pasalnya letak toko kue di dalam sedangkan penjual buah-buahan ada di luar mall tersebut.


Bagas yang sedang sibuk memilih buah-buahan terpaksa menghentikan kegiatannya untuk melihat siapakah gerangan yang telah menyapanya, Bagas terpaku sejenak kala mengetahui siapa orang yang sudah menyapanya itu, ternyata mantan kekasihnya.


"Kabar baik" ucap Bagas cepat setelah tersadar dari lamunannya.


"Orang kere juga bisa belanja di Mall ya Gas" ucap perempuan itu tadi, hal itu tidak luput dari pemandangan Alvin yang baru saja hendak menghampiri Bagas.


Bagas sama sekali tidak merespon gadis itu dia hanya tetap fokus pada kegiatannya.


"Miskin aja sombong" ucap cowok yang ada di sebelah cewek itu, ikut menghina Bagas.


Alvin yang  tak tahan akan hal itu segera menghampiri Bagas, tentu saja Alvin tau siapa cowok yang ada di sebelah perempuan itu.


"Gas udah belum" ucap Alvin tanpa menghiraukan dua manusia yang masih setia berada di depan Bagas dan dirinya sekarang.


"Udah Vin" ucap Bagas sambil menenteng 4 kantong buah-buahan yang berbeda.

__ADS_1


"Lo yang bayar sekalian sama itu" tunjuk Alvin sambil nyengir tanpa dosa, tentu saja Alvin melakukan itu agar kedua manusia sombong itu bisa diam.


"Lo yakin mau ngabisin semua itu?" tanya Bagas dengan bengong.


"Alah, bilang aja kalo lo nggak punya uang" sela Lia cepat, belum sempat Alvin menjawab pertanyaan yang diberikan Bagas untuknya.


"Buat anak-anak Gas" ucap Alvin seakan tidak peduli dengan orang yang baru saja bicara mungkin Alvin menganggap mereka makhluk gaib, harus panggil Bintang ke tempat ini kalau begitu.


"Ohhh" 


Sedangkan cowok yang ada di sebelah Lia hanya dia saja sambil mengingat siapa cowok yang berada di hadapannya ini, rasanya sangat familiar sekali.


"Dimas" seakan tersadar Dimas dari lamunannya saat Lia memanggil namanya.


"Alvin Diandra!" ucap Dimas saat sudah mengingat nama Alvin. Tanpa menyahuti Lia.


Alvin menatap Dimas tersenyum biasa. "Masih inget ternyata lo sama gue, Dimas Vernando!" ucap Alvin tersenyum aneh.


"Kalau gitu kita duluan, sampai ketemu dilain waktu" ucap Alvin sambil berlalu pergi.


"Ya Allah, Ya Robb, Astagfirullah hal-adzim, lahaula wala kuata illa billa hil 'aliyil adzim, subhanallah, masyaallah"


"Napa lo Tang sampek nyebut sebanyak itu?" ucap Bagas, dia dan Alvin sudah kembali dari membeli belanja.


"Cuman beli ginian doang sampek hampir 30 menit" protes Bintang.


"Tau! tadi aja gue nggak dikasih turun" Eza menyahuti Bintang, kedua orang itu sama-sama kesal.


"Sas bang, dan lo bontot tadi itu kita ada sedikit masalah" ucap Bagas dengan polosnya.


"Masalah apa?" tanya mereka serempak, melihat itu Alvin dan Alex hanya bisa menggelengkan kepala.


"Abis ketemu teman lama gue" akhirnya Alvin buka suara kalau tidak entah sampai kapan mereka akan berdebat di dalam mobil, untung mobil Eza mewah dan menampung banyak orang.


"Ohhh!"


"Udah pada nggak waras" gumun Bagas.

__ADS_1


 


__ADS_2