
Bismillahirohmanirohim.
Hari ini Fahmi sudah bisa kembali ke markas, alhamdulillah keadaan ibu Minah sudah kembali membaik total, setelah hari dimana Alvin dan yang lain berkunjung. Keadaan ibu Minah terus membaik sampai sekarang.
"Gimana lo udah dapet informasi tentang bapak gue?" tanya Fahmi pada Alex.
"Gue udah dapet petunjuk yang terang" sahutnya masih fokus pada layar laptop di depannya itu.
Sudah seminggu ini pula mereka menjalankan misi untuk mencari kebenaran tentang keluarga angkat Fahmi.
Fakta satu yang sudah diketahui anak perempuan Minah yang paling tua, ternyata sudah menikah dengan orang yang telah merebut mahkotanya terlebih dahulu sebelum halal, sang laki-laki akan bertanggung jawab jika Nilam anak perempuan Minah yang lebih tua itu mau pergi dari rumah dan tidak mengakui keluarga Minah lagi.
Mendengar penjelasan yang diberikan Fahmi dua hari yang lalu pada sang ibu angkat membuat sakit hati, tapi dia juga tidak dapat berbuat apa-apa, selagi anak sulungnya hidup bahagia Minah tidak akan mengikut campuri urusan mereka. Yang terpenting dia tahu keadaan sang anak baik-baik saja.
"Maaf gue udah banyak nyusahin kalian" sesal Fahmi, seharusnya dia bisa melakukan ini semua sendiri.
"Sans ngab, kayak sama orang lain aja lo" jawab Alex lagi. "Mi ngomong-ngomong lo mau tetap tinggal sama ibu lo atau nyokap bokap lo?" kali ini Alex yang bertanya pada Fahmi.
Fahmi mengangkat kedua bahunya acuh. "Gue juga belum tau Lex, lagian juga apa mereka bakal percaya kalau gue anak kedua mereka yang telah hilang 22 tahun yang lalu"
"Ngomong soal keluarga Afka Saputra, kayaknya lo sama Alvin tau banget ya tentang mereka" imbuh Fahmi dengan nada seakan penasaran.
"Lo mau tau, sebenarnya 4 keluarga ini dulunya sahabat dekat, mereka semua memiliki niat untuk menjodohkan putra-putri mereka nantinya, sayangnya ternyata dari 4 keluarga ternama ini hanya ada keluarga Afka Saputra yang memiliki seorang anak perempuan itu juga tidak sampai beranjak dewasa sudah tiada"
"Sedangkan keluarga Diandra anak perempuan mereka belum melihat dunia sudah tiada, kekacauan dari semua keluarga mereka itu, karena keluarga mereka sendiri"
"Gue berpikir seakan sayang pencipta tidak mengizinkan mereka hidup dalam satu genggam yang sama, sedangkan diluar sana masih banyak orang yang ini menjadi bagian dari 4 keluarga besar itu"
"Tapi bukankah jodoh, Maut dan rezeki itu sudah ada yang mengaturnya, sudah ditetapkan untuk setiap makhluk Allah masing-masing" sela Fahmi.
"Nah maka dari itu, sepertinya kita memang disuruh mencari tulang rusuk kita sendiri tanpa ada namanya perjodohan"
"Ngomong soal jodoh, target nikah lo umur berapa Lex?" tanya Fahmi menyimpang, dia masih sedikit malas membahas tentang 4 keluarga ternama di kota jakarta yang akhirnya membuat kepalanya pusing.
"Dua…"
"FAHMI! woi Mi, tu dari tadi ditungguin juga sama Cecep, malah pacaran aja disini sama si Alex" teriak Bagas yang mampu menghentikan perkataan Alex yang belum usai.
"Apa sih ganggu aja tau kagak" dengus Fahmi, orang lagi serius juga dasar Bagas.
__ADS_1
"Sono sekarang giliran lo sama si Cecep meninjau keadaan cafe sama toko udah dua minggu ini kagak ada yang liat, sono pergi keburu pak Alvin pulang marah-marah lagi, yang kena kita semua juga akhirnya" papar Bagas panjang lebar.
"Gue selalu mantau kok" celetuk Alex.
"Gue tahu bang, tempe juga iya, kalau lewat laptop mah" Bagas kembali mendengus sebal.
***
"Napa muka lo ditekuk gitu? kek baju belum digosok" bingung Fahmi.
Fahmi dan Cecep sudah sampai di cafe yang mereka punya. Setelah Fahmi mendengarkan ceramah tak berfaedah dari Bagas panjang kali lebar.
"Gue itu lagi males keluar, malah dipaksa-paksa sama si bagasi! kalau kayak ginikan kesannya gue jadi nggak ikhlas melakukan sesuatu" jelas Cecep.
"Udah nggak usah banyak ngeluh, istighfar abis itu niatin buat ibadah"
"Oke deh"
"Kalau gitu gue kesana dulu" Fahmi pergi menemui Niah, karyawan kepercayaan mereka.
"Assalamualaikum semua" sapa Fahmi pada karyawan yang sedang berada di dapur.
"Semangat semua" ucap Fahmi lagi. "Niah gimana perkembangan kafe akhir-akhir ini, apakah ada masalah?" tanya Fahmi sambil mulai mengotak-atik laptop yang ada di depannya.
Kini Fahmi, Cecep dan Niah sudah berada di ruang rapat yang biasa digunakan untuk mereka diskusi.
"Alhamdulillah sejauh ini baik-baik aja kak, tapi kemarin ada masalah sedikit" sesal Niah.
"Apa masalahnya?" tanya Fahmi dengan tenang.
"Kemari ada satu pelanggan yang mengacau beruntung tim kita bisa mengatasi kekacauan dengan cepat" jelas Niah sedikit takut.
Entah kenapa Niah selalu takut jika berhadapan dengan Fahmi, tapi jika dengan Alvin dan yang lain dia biasa saja.
"Niah" panggil Cecep. "Niah tenang jangan takut si Fahmi nggak bakal makan lo kok" celetuk Cecep sambil tertawa.
"Iya Cep gue tau, nggak mungkin juga gue muat di mulut kak Fahmi" sahut Niah ikut tertawa.
"Hmmm" dehem Fahmi. "Berapa umur kamu Niah?" tanya Fahmi memincang.
__ADS_1
"20 tahun kak" sahutnya lagi, Niah berusaha keras untuk tidak gugup, karena takut pada Fahmi.
"Oke! Cep gue udah beres sekarang gantian lo yang cek, abis itu kita ke toko yang lain"
"Beres"
Saat Fahmi keluar dari ruangan mereka dia seperti melihat orang yang sama sekali tidak asing menurutnya.
"Niah sini" ujar Fahmi sambil mengkode Niah untuk mendekat ke tempatnya.
"Kenapa kak?" tanya Niah penasaran.
"Kamu liat dua pelanggan yang duduk di kursi pojok itu" ucap Fahmi tanpa menoleh pada Niah sama sekali.
"Iya kak, mereka akhir-akhir ini hampir setiap hari makan di kafe ini" terang Niah.
"Oke makasih infonya saya pergi dulu" ujar Fahmi kala melihat gadis yang dia maksud bersama cowok tadi pergi ke toilet. Sedangkan Niah kembali mengerjakan tugasnya.
"Kemana aja selama ini lo dek?" tanya Fahmi penuh selidik.
"Apa ini bukan urusan lo anak pungut!" ketus gadis itu.
"Oke ini bukan urusan kakak, tapi kamu tau ibu butuh kalian ibu sakit Naya! pulang!" bentak Fahmi.
"Peles kakak mohon pulang kasihan ibu, lagian juga kenapa kamu pergi sama cowok?" geram Fahmi, bagaimanapun Fahmi sudah menganggap Nilam dan Naya sebagai adiknya sendiri, dia tidak mau kecolongan untuk yang kedua kalinya, cukup Nilam saja yang rusak, jangan Naya juga itulah yang Fahmi pikirkan.
"Kalau gue pulang lo mau jamin hidup gue enak kak?" untuk kali pertamanya Naya memanggil Fahmi dengan sebutan kakak.
"Kakak seneng kan keluarga aku hancur, bapak selingkuh dengan perempuan lain, kakak Nilam pergi gitu aja, aku hancur kak bahkan bapak dan kak Nilam yang tidak pernah membentakku selama ini, mereka akhir-akhir ini sering membentak aku dan ibu, aku nggak kuat kak" Naya sudah mulai luluh rupanya.
"Fahmi memeluk sang adik dengan sayang, dek dengerin kakak ibu masih butuh kamu, bukan kamu aja yang hancur dan sakit hati, tapi ibu juga sama dia sakit butuh kalian, kakak juga sama kakak hancur melihat ibu seperti itu jadi kakak mohon pulang ya dek" ucap Fahmi lembut sambil mengelap air mata adiknya yang terus jatuh tanpa henti.
"Terus cowok yang sama kamu tadi siapa?" tanya Fahmi dengan hati-hati.
"Bian kak temen Naya"
"Bener temen kok keliatan mesra banget, kakak nggak ngizinin kamu pacaran dek"
"Iya kak" sahutnya sendu.
__ADS_1