Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
21.TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim


"Mau kemana Lex?" pertanyan tersebut Bintang lontarkan pada Alex, saat dia melihat Alex teman mereka yang paling cuek itu bangkit dari kursinya.


"Ada kelas gue, gue ke kelas dulu" pamit Alex kepada enam orang temannya.


"Gue tunggu lo abis selesai kelas, kita langsung lihat perkembangan cafe" Bintang kembali bersuara sebelum Alex benar-benar pergi dari sana.


Setelah kepergian Alex, Alvin pun ikut beranjak dari kursinya sambil memukul bahu Bintang beberapa kali.


"Jangan lupa shota dulu entar, satu lagi lo sama Alex harus hati-hati, tau sendiri jalan yang kita lewati buat ke cafe sering banget dijaga sama geng atlas" pesan Alvin pada Bintang.


Alvin berlalu pergi begitu saja dari kantin kampus, setelah membayar semua makanan yang dia pesan juga punya keenam temannya.


"Kui kelas lah" Fahmi.


"Kalian aja gue masih mau disini" sahut Eza yang masih asyik menyantap makanannya.


"Kalau habis makan jangan lupa baca hamdalah ya Za, takut keselek aja lu"


"ukhuk....ukhuk....."


Barus saja Bagas selesai bicara, Eza langsung tersedak makanan yang sedang dia santap.


"Ah" setelah selesai meneguk air putih di dalam gelas yang diberikan oleh Cecep padanya, tenggorokan Eza terasa lebih enak dari sebelumnya.


Eza menatap tajam Bagas, yang dia pikir Telah membuatnya tersedak. "Awas lo ya" sungut Eza.


"Alhamdulillah ada yang ngawasin gue" ucap syukur Bagas, dengan tatapan yang penuh haru dia berikan pada Eza.


Lama mereka ngobrol ringan sebelum kembali bubar masing-masing, karena masih ada kegiatan yang harus mereka lakukan, berbeda dengan Eza yang sudah tidak ada kelas lagi hari ini.

__ADS_1


"Hai semua" seorang cewek menyapa Eza dan yang lainnya, sayangnya mereka seakan tidak peduli sama sekali.


"Gue duluan" pamit Bintang. "Ada penyakit datang soalnya" Bintang kembali bersuara sebelum benar-benar pergi dari kantin.


"Gue ikut" sahut Eza, Fahmi dan Bagas secara bersama.


"Bisa kompak gitu ya" gumun Cecep.


Sedangkan perempuan tadi merasa sangat kesal, karena diabaikan oleh Eza dan yang lainnya.


Geng somplak memang sangat terkenal di Universitas Negeri Jakarta, siapa yang tidak tahu akan keadaan geng itu, walaupun geng somplak bisa dibilang geng baru. Tapi kabar adanya geng somplak sudah tersebar kemana-mana, apalagi isinya para cogan, tentu saja kamu hawa selalu menyanjung mereka, walaupun yang sebenarnya Alvin dan yang lainnya sangat risih jika dekat dengan perempuan yang bukan mahramnya.


Apalagi perempuan yang terus mengejar-ngejar mereka seakan lupa akan derajat perempuan, sebisa mungkin mereka memberikan peringatan daripada menjatuhkan.


Nama geng somplak dikenal karena didalamnya terdapat tujuh cogan yang sangat cuek, apalagi geng somplak diketahui tidak ada satupun yang dekat dengan cewek mana saja.


Tari yang merasa kesal dengan Eza dan yang lainnya menghentak-hentakan kakinya di lantai seakan mencari perhatian dari kelima orang itu.


"Kita masih normal dan nggak akan ngelakuin perbuatan yang dilarang oleh Allah, seenggaknya kita bisa menjaga diri dari yang bukan mahram" Eza menjawab ucapan Tari dengan penuh penekanan, tanpa memutarkan badannya yang membelakangi Tari.


"Lebih baik tau diri mbak ya, malu sama orang-orang, mbak kayak nggak ada harga dirinya ngejar-ngejar cowok, inget mbak, mbak itu cewek yang harusnya dikejar, maka coba menempatkan diri pada posisinya, wanita itu derajatnya mulai mbak, lebih mulia bahkan dari seorang laki-laki"


"Kalau mbak kayak gini terus, temen gue bukannya suka malah ilfil sama mbaknya" mulut pedas Bintang memang tidak bisa dijaga.


Mulut pedas itu akan selalu bicara jika ada orang yang mengusik dirinya juga teman-temannya.


Jawaban menohok yang Bintang berikan pada Tari, mampu membuat Tari malu saat itu juga, muka nya sudah merah padam, dengan rasa jengkel dan amarah yang sudah meluap Tari berusaha pergi dari tempat itu.


Sambil ditemani oleh tatapan yang aneh dari para penghuni kantin.


"Awas aja lo pada orang sok suci!" maki Tari, tapi makian tersebut hanya mampu diucapkan dalam hati.

__ADS_1


Bintang sangat tahu jika Tari mengejar Eza atau tidak Alvin. Tapi sayangnya kedua orang itu selalu tidak peduli dengan cewek yang namanya Tari.


Oke di dalam geng somplak Alvin memang memberikan peraturan dilarang keras untuk berpacaran, apalagi mengingat peristiwa tentang Bagas, sejak hari itu mereka lebih waspada lagi.


pertama Alvin menegaskan pada geng somplak untuk tidak meninggalkan sholat 5 waktu, termasuk dilarangnya pacaran.


Bukan apa hanya saja Alvin dan yang lainnya ini menjaga diri dan menegakan syariat yang sudah ada sejak dulu di dalam agama mereka yaitu islam.


Alvin dan keenam temannya juga sering mengikuti kajian setiap minggunya, sesekali juga mereka akan belajar pada kakek Hasan yang tahu akan ilmu agama, dan kakek Hasan juga memiliki sanad yang jelas.


Atau silsilah guru yang jelas sampai terlihat silsilah guru itu sampai ke kanjeng Nabi Muhammad SAW.


Kakek Hasan pernah menyampaikan pada Alvin dan yang lain jika belajar agama tanpa guru, sama saja dengan bergurukan setan.


Dan mulia saat itu Alvin juga para teman-temanya jika mengikuti sebuah kajain atau menonton di youtube, mereka dengan jeli mencari silsilah guru dari pada sang pengajar.


Bahaya bukan jika kita belajar agama tapi bergurukan dengan setan, karena tidak ada yang mengajar dan tidak memiliki sanad yang jelas.


Masa lalu yang kurang baik dan kurang berkesan pasti ada disetiap masa lalu seseorang, mungkin Alvin dan kawan-kawannya juga mempunyai masa lalu yang kurang baik, tapi sebisa mungkin mereka memperbaiki masa lalu mereka yang kelam di masa kini, untuk tujuan di masa yang akan mendatang atau masa depan.


Masa depan seseorang hanyalah bertujuan pada suatu tempat jika orang itu menyadarinya, tepat sekali masa depan kita para penghuni didunia ini iyalah akhirat, bukan masa depan dihari tua.


Dimana kita akan kembali, kepada siapa kita akan kembali, dan dimana kita akan pulang nantinya, jawabannya hanya satu yaitu akhirat, tapi di akhirat kelak kita tidak hanya dihadapkan dengan satu pilihan melainkan dua pilihan.


Kita bukan hanya dihadapkan dengan surga, tapi kita juga akan dihadapkan dengan neraka, sekarang pilihannya tergantung pada kita, kita yang hidup didunia ini menanam untuk menuju ke surga atau menanamnya untuk ke neraka.


Pesan yang tidak pernah asing di setiap pendengar manusia bahkan juga sepertinya hewan dan makhluk lainnya sering mendengar pesan ini. 'Dunia hanya sementara sedangkan akhirat selama-lamanya' 


Kata-kata ini akan terbukti nantinya jika waktunya sudah tiba, dan penyesalan di akhirat kelak sudah tidak akan ada gunanya, karena kita sudah berada di masa depan, dimana masa depan yang sesungguhnya akhirat.


 

__ADS_1


__ADS_2