
Bismillahirohmanirohim.
"Apa peduli papa ha! apa papa peduli sama Dimas juga bang Alex" Dimas rasanya sudah tak tahan lagi dengan tingkah sang papa yang sangat egois itu.
"Dengar baik-baik ya pa, Dimas nerima Lia di keluarga kita, tapi belum tentu Dimas menerima wanita kesayangan papa itu" tekannya.
"Dimas tanya sekarang sama papa, apa apa tahu bagaimana keadaan bang Alex sekarang? Nggak kan, papa tidak pedulikan bang Alex mau makan atau tidak diluar sana! apa papa pernah mencari abang Alex semenjak dia pergi dari rumah ini!" sungguh rasanya Dimas tak tahan lagi dengan sikap sang papa yang sangat temperamen.
"Dia sendiri yang ingin pergi dari rumah ini, jadi untuk apa papa harus mencarinya" sahut Apri.
"Dia keluar dari rumah ini juga semua gara-gara papa, papa egois!" Dimas yang sudah tidak tahan lagi dengan tingkah sang papa segera pergi dari rumah itu, kalau tidak maka dia bisa melukai sang papa.
Sungguh sakit hati lebih sakit daripada sakit fisik. Sakit hati itu lebih susah disembuhkan daripada sakit hati yang tak terlihat. Apalagi sakit hati oleh papa sendiri orang terdekat yang seharusnya membuat kita bahagia, tapi tidak bagi Dimas dan Alex papa mereka malah memberikan hal sebaliknya pada mereka.
Lia yang sedari tadi mendengar pertengkaran Dimas dan papa tirinya hanya bisa bersedih dalam hati dia merasa sangat bersalah atas semua yang terjadi.
Sementara itu Tika tersenyum senang dengan pertengkaran Dimas dan sang suami.
"Baguslah anak kurang ajar itu pergi dari rumah ini juga, tidak ada lagi yang bisa menghalangiku untuk mendapatkan seluruh harta keluarga Vernando" Tika tersenyum senang.
"Apa maksud mama?" Lia yang melihat mama nya berdiri tidak jauh dari tempatnya langsung menghampiri sang mama, tapi ucapan mama nya yang tak sengaja dia dengar membuat Lia tak habis pikir.
"Lia! maksud mama ya kita bisa menguasai harta keluarga Vernando sepenuhnya" ucap Tika banga.
"Mama tidak bisa kah berhenti memikirkan harta? kenapa di otak mama hanya ada harta dan harta, inget ma bang Alex sama Dimas itu sekarang anak mama" Lia juga sudah muak dengan tingkah sang mama.
Hubungan Lia dan mama nya memang tidak dekat mereka sering kali bertengkar apalagi jika pak Apri Vernando tidak ada di rumah. Karena harta bahkan Tika tidak memperdulikan Lia sang anak, yang dia pikirkan hanya harta dan harta benar yang diucapkan Lia semua itu faktanya.
"Sudahlah Lia nggak usah munafik kamu juga menikmati harta mereka kan" ucap Tika tersenyum sinis pada Lia.
"Terserah mama, Lia capek mau ngomong gimana lagi sama mama" baru saja Lia hendak melangkah Apri sudah ada disebelah keduanya.
"Lia, mama ngapain kalian disini?"
__ADS_1
"Nggak pa, Lia mau pamit pergi keluar dulu" pamitnya sambil berlalu pergi Lia tak memperdulikan tatapan sang mama yang menatapnya dengan tajam.
*****
"Bang itu Dimas kan, salah satu anggota geng atlas adik dari bang Alex juga" ujar Bintang, saat melihat Dimas tak jauh dari mereka.
"Kayaknya iya sih Tang, samperin yuk siapa tau kita bisa bantu dia" ajak Fahmi.
"Baru tau gue ada geng yang nolongin musuh geng sendiri" Bintang tak habis pikir.
"Dengar baik-baik ya Tang, pertama kita nggak punya musuh, Alvin sering bilang sama kita kan jangan dendam dengan orang lain, kedua Dimas adik Alex salah satu sahabat kita dan yang ketiga tolong menolong itu kewajiban kita sebagai umat muslim, jadi nggak usah protes!"
"Iya salah lagi gue"
"Emang lo salah Tang!" dengus Fahmi.
Fahmi dan Bintang sebenarnya baru saja pergi dari rumah mereka setelah Fahmi menemui mama dan papa kandungnya. Tapi di pertengahan jalan ingin pulang ke markas mereka tidak sengaja melihat Dimas sedang tidak baik-baik saja.
"Assalamualaikum" sapa Fahmi dan Bintang bersama.
"Maaf kalau lancang ada masalah?" tanya Fahmi tanpa basa-basi. "Tapi kalau nggak mau cerita nggak papa itu hak lo. Tapi kita mau ke markas siapa tau lo mau ketemu Alex apa mau ikut?" tawar Fahmi.
Dimas mengangguk tanda dia mau ikut mereka, Dimas juga merasa dirinya harus bertemu dengan Alex dan menceritakan apa yang semua terjadi pada dirinya.
"Bang yang bener aja masa ajak dia ikut kita sih" bisik Bintang ditelinga Fahmi, Bintang masih merasa was-was takut-takut Dimas hanya dikirim sebagai mata-mata geng Atlas.
Melihat gerak-gerik Bintang, Dimas tahu jika takut dirinya berbohong. "Gue bukan mata-mata" ucap Dimas akhirnya.
"Lah kok tau apa yang gue bilang" Bintang bingung sendiri.
"Nggak usah peduliin dia memang kayak gitu, ayo ikut" Fahmi berlalu meninggalkan Bintang menuju mobil diikuti Dimas.
"Yaak! kok gue ditinggal" Bintang segera menyusul ke mobil.
__ADS_1
Sesampainya di markas geng Atlas Dimas disambut hangat dengan mereka semua, dimas dibuat terheran-heran kenapa bisa dia yang sebagai musuh geng somplak disambut baik oleh mereka.
"Ada masalah?" tanya Alex tanpa basa-basi. Dimas hanya mengangguk.
"Lo berantem lagi sama papa?" lagi-lagi Dimas hanya mengangguk.
"Sudahlah biarkan saja dia mau berbuat apa, nanti juga kalau pintu hatinya udah kebuka dia bakal sadar sendiri kok, kita sudah berusaha memberi tahu dia"
"Iya, gue lagi males bahas dia bang sekarang ganti topik kenapa kalian menyambut ramah gue? kan kita musuh dalam geng" bingung Dimas.
"Pertama yang bilang kita musuh itu lo, atau nggak geng kalian tapi geng kita tidak menganggap siapapun musuh, kedua jangan pernah menganggap siapapun itu musuh lo"
"Tapi bagaimana dengan papa? bukan kah lo sendiri membencinya?"
"Walaupun gue sakit hati dengan papa bagaimanapun dia tetap papa gue, tak akan ada rasa dendam untuknya"
"Lo berbuah banyak bang setelah jadi bagian dari geng somplak mampu menghargai orang lain"
Alex dan Dimas asyik berbincang sampai-sampai tidak mendengar keributan di luar.
"Ayok Ezaaaa! jangan mau kalah sama Bintang" terika Bagas dan Fahmi.
"Ayo Tang lo jangan mau kalah sama Eza" Alvin dan Cecep ikut berteriak begitu juga dengan yang lainnya.
"Bang kenapa di depan ribut-ribut"
"Lo liat aja sendiri" Alex paham betul pasti Eza dan Bintang sedang adu jotos entah apa yang dua orang aneh itu lakukan. Mau herna tapi ini Bintang dan Eza.
"Kok mereka berantem bang? nggak ada yang misahin lagi malah diteriaki" bingung Dimas.
"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang bertengkar di luar sana, bukankah tak ada yang memisahkan malah menjadi tontonan gratis bukan?"
"Bener sih bang, tapi kan mereka teman masa berantem" Dimas masih merasa heran.
__ADS_1
"Bukankah di luar sana walaupun dengan teman tetap bertengkar, udah lo liat aja apa yang mereka lakukan" setelah selesai bertengkar Eza dan Bintang saling berpelukan.
"Jadi mereka latihan, geng yang menarik" membatin dalam hati si Dimas.