Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
69. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Bagas sudah menerima kehadiran kedua orang tua Leo di hidupnya, dia sudah mengakui jika orang tua Leo adalah orang tuanya juga.


Memaafkan adalah salah satu cara bagi Bagas untuk menggapai sebuah kebahagiaan yang akan datang. Bukankah dirinya sudah selalu bersabar untuk mengetahui tentang kedua orang tuanya.


Dan akhir kesabaran Bagas mencapai titik dimana dia dipertemukan dengan orang tuanya. Orang yang dinantikan kabarnya, ya walaupun hanya kabarnya.  


Bahankan Bagas juga sudah sabar ketika dulu menghadapi Leo yang selalu membuatnya dijauhi banyak orang. Dan Pada akhirnya siapa sangka akan menjadi seperti ini, bahwa mereka berdua ternyata saudara kandung. Semuanya sudah diatur oleh sang Maha Kuasa, tak akan ada sebuah cerita jika tak ada campur tangan sang pencipta.


Ets tapi jangan salah bagaimana jika dulu Bagas tidak menjadikan semua ini dengan kesabaran, sudah dipastikan cerita kehidupan Bagas tidak akan berjalan seperti ini, tapi Bagas memiliki pilihan dalam hidupnya dan pilihan yang Bagas lakukan adalah bersabar.


Ingat hidup adalah pilihan. Kita tidak bisa mencampur tangani takdir yang Allah tetapkan pada kita dengan semua yang kita lakukan, karena kita berhak memilih.


Contohnya bila ada seorang yang mabuk apakah itu takdirnya yang Allah tetapkan? Jawaban tentu tidak! Tidak mungkin Allah menetapkan seseorang dalam hal yang salah kecuali orang itu sendiri yang memilih, sekali lagi hidup adalah pilihan.


Nah sama kasusnya seperti yang Bagas alami, jika dia mau memaafkan kedua orang tuanya itu adalah salah satu pilihan Bagas. Yaitu memaafkan mereka.


Dan untuk Leo dia menerima  Bagas sebagai kakak nya, karena itu pilihan Leo sendiri, toh bisa jadi dia tidak mau memaafkan Bagas, tapi Leo lebih memilih untuk memaafkan Bagas.


Akhir dari sebuah kesabaran membuahkan sesuatu yang manis padahal tidak pernah terbayangkan.


Bukankah sama seperti Alvin memaafkan kedua orang tuanya akhirnya mereka hidup bersama tapi disamping itu semua Alvin sudah bersabar untuk bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuanya.


Sama juga dengan Fahmi yang bersabar akan ibu angkatnya tak disangka kesabaran yang Fahmi tanamkan membuat ibu angkatnya berubah lebih baik disamping itu juga dia bertemu dengan keluarga kandungnya.


Begitu juga dengan Bintang, Alex dan Cecep, sebuah kesabaran memang sangatlah luar biasa. 


Hari ini mereka berkunjung ke gubuk kakek Hasan seperti yang mereka rencanakan kemarin. Bedanya sekarang ada Leo dan Dimas yang bergabung bersama mereka. 


"Kek mama sama papa mengundang kakek Hasan untuk berkunjung ke rumah" Alvin menyampaikan pesan kedua orang tuanya untuk kakek Hasan.


"Baiklah nak Alvin Insyaaallah kakek akan datang" kakek Hasan tersenyum pada Alvin.


Mereka semua sudah hampir 3 jam berada di gubuk kakek Hasan. 

__ADS_1


"Woi! mangga nya buah" teriak Eza heboh.


Buru-buru mereka semua mendekati Eza yang sedang berada di bawah pohon mangga.


"Wih udah pada mateng sambil lah kalau dimakan" ucap Cecep sambil melihat buah mangga yang ada di atas mereka yang sangat menggoda mulut untuk segera dimakan. 


"Boleh diambil kagak sih" sepertinya Alex juga sedang menginginkan buah mangga.


"Gas Lah! Pasti dikasih sama kakek Hasan" sahut Bintang dengan pede.


"Kebiasan lo Tang! bilang dulu sama yang punya" suruh Fahmi.


"Ya bang, set dah abang gue marah, marah mulu, gimana kalau jadi suami" dengan santai Bintang berlalu pergi meninggalkan mereka untuk meminta buah mangga pada kakek Hasan tentu saja Bintang pergi diiringi tatapan tajam dari Fahmi.


"Pucuk dicinta yang ditunggu pun tiba" ucap Bintang baru saja dia berjalan beberapa langkah Bintang melihat Alvin dan kakek Hasan berjalan ke arah mereka.


"Kok kagak jadi Tang? udah minta emang?" tanya Dimas bingung pasalnya Bintang kembali dengan cepat. Padahal jarak pohon mangga dan rumah kakek Hasan sedikit jauh.


"Tu!" menunjuk Alvin dan kakek Hasan yang berjalan ke arah mereka.


"Kakek Hasan Bintang boleh minta mangganya nggak" ucap Bintang sedikit berteriak.


"Yang sopan!" tegur Alex.


"Heheh bang Alex bisa aja bikin dedek Bintang kicep" menjawab tapi langsung diam seketiak kala mendapatkan tatapan  maut dari Alex.


"Ambil aja mangganya disini juga nggak ada yang makan mubazir kalau nggak diambil, kakek emang sengaja menunggu kalian untuk memanen semua mangga itu" suara kakek Hasan membuat mereka semua berbinar.


"Apa kata gue ambil aja" ucap Eza.


"Yee, dari tadi juga lo diem" sahut Bagas. 


"Udah-udah sekarang siapa yang mau manjat buat panen mangganya" mendengar ucapan dari kakek Hasan, sontak mata mereka semua langsung tertuju pada Leo.


"Kenapa kalian pada ngeliatin gue?" tanya Leo was-was.

__ADS_1


"Lo manjat!" semuanya menjawab dengan serempak.


"Kompak banget nyiksa anak orang, punya dendam pribadi lo pada sama gue" dengeus Leo.


"Salah seharusnya sih gue yang ngomong gitu ke Lo. Punya dendam pribadi apa lo sama gue Leo? sampai dari tadi kaki gue lo injek" ucap Fahmi terteka yang membuat mereka semua menahan tawa.


Seakan tersadar Leo menoleh kebawah benar saja dia melihat kakinya sedang menindih kaki Fahmi. "Ups, sorry bang kagak liat" jawab Leo kikuk.


"Sebagai kata maafnya lo harus manjat tuh pohon mangga ambil buahnya"


"Lah kok"


"Manjat-manjat, manjat-manjat, manjat-manjat" ucap mereka semua dengan semangat, kakek Hasan tersenyum mekah melihat mereka semua bisa tertawa selepas ini.


Tanpa mereka sadari Fahmi sedang meneliti siapa diantara mereka yang paling bersemangat, "Dan kalian juga" menunjuk Bintang dan Dimas juga Eza.


"Kok kita juga" protes ketiganya tidak terima.


"Manjat-manjat, manjat-manjat" mereka semua terus meneriaki keempat orang tersebut. Hingga akhirnya mereka tak bisa berbuat apa-apa Leo, Eza, Dimas dan Bintang memanjat bersama-sama namun sayangnya Bintang yang tidak bisa memanjat hanya bisa berdiri dibawah pohon mangga itu.


"Seorang Bintang ternyata tidak bisa memanjat" ledek Cecep pada Bintang.


"Kayak situ bisa aja bang!"


"Wow tentu bisa jangan lupakan siapa yang manjat pohon jambu depan markas, pohon jambu yang tinggi itu"


"Iya juga sih" ucap Bintang lirih takut dibully dia. Wkwkw!


Kakek Hasan merasa senang bisa bertemu dengan Alvin dan yang lainnya. Kakek Hasan memperhatikan mereka yang sedang memetik mangga ditemani Fahmi.


Hos….hos..hos.


"Udah gue nggak kuat capek manjat di atas banyak angkrang nya" ucap Eza yang baru saja turun dari atas pohon mangga.


"Untung gue kagak ikut manjat ngeri kalau banyak angkrang nya"

__ADS_1


"Lebay lo Za, masa laki-laki takut digigit angkrang" kata Bagas.


Tak berselang lama dari itu Eza dan Dimas ikut turun dari atas pohon mangga.  


__ADS_2