Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
48. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Kek kami semua pamit pulang dulu" ujar Fahmi mewakili semua teman-temannya.


"Iya nak, kakek ngucapin terima kasih banyak sama kalian, selama ini kalian merawat kakek dengan sangat baik" kakek Hasan sangat terharu, apalagi mengingat Alvin dan keenam temannya memperlakukan diri seperti keluarga sendiri.


"Itu sudah menjadi kewajiban kami kek" sahut Bagas.


Ah, mungkin kakek Hasan akan merindukan suasana saat bersama mereka, sudah hampir satu bulan kakek Hasan hidup tidak sendiri, tapi selalu dikelilingi anak-anak muda yang baik seperti mereka.


"Kalau begitu kami permisi kek, Assalamualaikum" ucap mereka secara bersama.


"Waalaikumsalam semua, hati-hati dijalan" pesan kakek Hasan sambil menjawab dengan tersenyum.


Bukan mereka tidak ingin berlama-lama di gubuk kakek Hasan, tapi kerjaan mereka masih banyak. Ingin sekali rasanya si Eza dan Bintang mancing di sungai dekat gubuk kakek Hasan, tapi apalah daya waktu tak sesuai realita.


Sekarang mereka sudah disibukan kembali dengan kegiatan kuliah mereka masing-masing, bahkan setelah dari tempat tinggal kakek Hasan mereka akan langsung menuju kampus.


"Huh kenapa tiba-tiba gue males banget sih ngampus, bolos lah, kali-kali bolos nggak papa kali ya, kan yang punya kampus juga nyokap bokap gue" batin Eza.


"Tapi kalau mau bolos jangan sampai ketahuan sama ini abang-abang gue kalau ketahuan bisa digibeng gue, arghh! gue belum mau mati muda" masih sama Eza masih saja terus mengoceh sendiri di dalam hatinya.


Ide cemerlang tiba-tiba saja muncul di otak Eza, yang  memiliki banyak alasan untuk kabur.


"Ajak Bintang sabi kali ya" gumunnya.


Mereka sedang berada di dalam mobil untuk menuju ke kampus, rasanya tumben sekali di dalam mobil itu suasana sedikit terlihat sunyi, semua tenggelam dengan pikiran masing-masing sambil mendengarkan musik sholawat yang disetel oleh Alvin.


"Bolos ngampus kali-kali boleh juga deh kayaknya" batin Bintang. "Tapi harus punya alasan buat bisa bolos untuk abang-abang ganteng nya Bintang. Ajak bang Eza sabi kali ya" batin Bintang lagi.


Bintang menoleh ke arah Eza, entah disengaja atau hanya kebetulan mereka berdua duduk bersebelahan, seakan mengerti dari lirikan yang Bintang berikan untuk dirinya, Eza dan Bintang mengangguk bersama.


Siapa sangka Eza dan Bintang memiliki pemikiran yang sama, tapi sayangnya pemikiran kedua orang itu bukan untuk kebaikan malah untuk merugikan diri sendiri.  


"Bang boleh anter kita ke markas nggak?" suara Binatang membuat mereka semua menoleh ke sumber suara, kecuali Alex yang masih fokus mengemudi


"Ngapain ke markas? bukannya kalian juga ada kelas hari ini?" tanya Cecep santai.

__ADS_1


"Ada barang gue yang ketinggalan bang" alibi Bintang


"Barang gue juga" sahut Eza.


"Ok, kita anter kalian ke markas, tapi awas aja kalau berani bolos kuliah! kalau beneran ketahuan bolos kuliah kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal" ucap Fahmi.


Eza dan Bintang menelan salavia mereka masing-masing dengan kasar saat mendengar ucapan dari Fahmi. Bagaimana bisa Fahmi menebak apa yang akan mereka lakukan.


"Alah paling juga disuruh istighfar doang"


"Paling juga cuman disuruh istighfar" batin Bintang dan Eza yang memiliki pemikiran dan ide yang sama. 


Sampai di pertigaan Alex memutar mobil yang dikemudikan belok kanan, itu tandanya mobil mengarah ke markas jika lurus itu menuju kampus.


"Yes berhasil" batin Eza girang.


"Akhirnya" batin Bintang pula tak kalah senang seperti Eza.


Tak perlu menunggu lama mobil yang dikemudikan oleh Alex sudah sampai di depan markas mereka.


"Udah sono turun, inget jangan lama ya" pesan Bagas.


"Lo berdua yakin?" tanya Alvin penuh selidik, dia tahu sekali akal busuk kedua temannya itu, hal-hal seperti ini saja mereka berdua kompak, Alvin sendiri tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka berdua.


"Kita 100% yakin!" jawab keduanya kompak.


"Ada yang nggak beres nih kayaknya" gumun Fahmi, Fahmi menatap curiga Eza dan Bintang.


"Kok gue mencium sesuatu yang tidak sedap ya?" sindir Alex.


"Kenapa Lex?" tanya Eza.


Tentu saja pertanyaan yang dilontarkan Eza pada  Alex membuat mereka semakin curiga.


"Udah cepet turun ambil apa yang ketinggalan, kita tunggu 5 menit" mendengar perkataan Alvin, Eza dan Bintang segera turun dari mobil.


"Gimana bisa bolos kalau gini Tang?" bingung Eza, mereka berdua sudah masuk ke dalam markas, untuk mengambil barang yang tertinggal, padahal itu hanya akal-akalan Bintang dan Eza kalau ada barang yang tertinggal, karena sebenar tidak ada barang apapun yang tertinggal.

__ADS_1


"Gue curiga sama tu orang berdua, nggak biasanya akur gitu" ucap Bagas. 


Seakan mereka berlima tersadar dari ucapan yang Bagas lontarkan. "Bener juga biasanya kalau Eza sama Bintang akur berarti hal buruk lah yang akan terjadi" Cecep kini bersuara juga dia tahu sekali gelagat Eza dan Bintang.


"Biar gue susul" usul Fahmi sambil keluar dari mobil untuk menemui Bintang dan Eza yang masih berada di dalam markas.


"Gimana cara kita bolosnya Tang kalau gini? udah bohong lagi pake ngomong ada yang ketinggalan"


"Bener juga apa yang lo bilang bang, tapi karena kita udah separuh jalan nggak boleh berhenti gitu aja, jangan tanggung-tanggung bang"


"Tapi gimana caranya Tang biar kita bisa lolos dari kelima abang-abang itu"


"Bintang punya cara bang, sini" Bintang menyuruh Eza agar lebih mendekat, tapi belum sempat melangkah, Eza melihat seseorang tengah berdiri di depan pintu sambil menatap dirinya dengan tajam. Tanpa mereka berdua ketahui sedari tadi Fahmi sudah berdiri disitu dan mendengar semua yang mereka bicarakan, bukan Fahmi menguping tapi itu benar-benar tidak disengaja.


"Bang ngapain masih berdiri disitu?" kesal Bintang.


Sontak Eza segera sadar dan kembali fokus pada Bintang tapi dia tak kunjung melangkah mendekati Bintang, melainkan memberikan kode untuk Bintang agar menengok kebelakang dengan menggunakan dangunya, sayangnya Bintang tidak peka sama sekali.


"Napa bang? kesambet lo" Bintang masih bingung dengan situasi sekarang.


"Lihat belakang tang" akhirnya Eza bisa bicara juga setelah mulutnya terasa sangat kaku beberapa saat lalu. Mendengar Eza menyuruhnya menoleh ke belakang, reflek saja Bintang langsung menoleh.  


Hal yang pertama Bintang lihat adalah Fahmi yang sedang tersenyum manis pada dirinya dan Eza, tapi dibalik senyum manis yang mengerikan itu ada makna yang sangat tidak baik untuk Eza dan Bintang. 


"Udah ngambil barang yang ketinggalan nya?" tanya Fahmi pura-pura tidak tau apa-apa.


"Udah bang" ucap keduanya gugup.


"Kalau udah ayo ke mobil udah ditungguin yang lain" ucap Fahmi lagi masih dengan kepura-puraannya.


"Iya bang! tapi kalau boleh tahu sejak kapan bang Fahmi disitu?" tanya Bintang penasaran.


"Menurut kalian?" ujar Fahmi sambil tersenyum seperti tadi.


"Bang Eza kita dalam masalah" bisik Bintang pada Eza.


"Lo bener Tang, kita dalam masalah" Eza juga ikut berbisik.

__ADS_1


"Kalau udah tahu dalam masalah, jadi persiapkan diri untuk menerima hukumannya. Siapa yang berbuat dia yang bertanggung jawab" setelah mengatakan itu Fahmi pergi berlalu kembali menuju mobil.


__ADS_2