Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
60. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Mama, kapan mama bangun, Alvin kangen mama, kenapa mama tega sama Alvin ma" air mata cowok itu terus saja keluar tanpa mau berhenti. Sedari tadi dia hanya bisa menatap lekat sang mama yang sedang berbaring tak berdaya di atas brankar rumah sakit. 


Setelah Diandra memberi ruang untuk sang anak dan istrinya, Alvin langsung mendekat pada tubuh sang mama dengan air mata yang sudah lolos sedari tadi tanpa bisa dia bendung lagi.


Rasanya lebih sakit melihat orang yang dicintai tak berdaya daripada ditinggalkan oleh orang yang dicintai. Alvin sejenak melupakan masalahnya dengan kedua orang tuanya. Melihat sang mama tak berdaya seperti ini rasanya dia tidak kuat, Alvin ingin sekali mengubur dalam kenyataan ini, tapi apalah daya ini sudah menjadi takdirnya.


"Ma bangun! Alvin mohon ma, Alvin kangen mama, Alvin kangen dipeluk sama mama" ujarnya merasa sangat sakit, dada Alvin terasa begitu sesak saat ini, apalagi melihat sang mama tak kunjung membuka matanya. "Ma, Alvin udah disini, Alvin udah maafin mama sama papa, tapi tolong ma bangung, setelah mama bangun kita bisa sama-sama lagi kayak dulu"


Sementara itu Diandra yang sedari tadi mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut putranya hanya bisa meratapi semuanya, Diandara memang memberi Avin ruang untuk lebih dekat dengan sang mama tapi dia tidak benar-benar pergi dari ruangan istrinya, melainkan bersandar di depan pintu masuk ruang rawat sang istri.


"Maafin papa Vin, ini semua salah papa" sesal Dinadara. 


Diandra berjanji pada dirinya sendiri dia akan memperbaiki semuanya, dia akan mulai menjadi seorang papa yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Karena setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Tapi tidak tahu dengan kesempatan ketiga, keempat dan kelima bahkan seterusnya apa orang itu masih berhak mendapatkan kesempatan tersebut.


Belajar dari kesalahan itulah yang harus kita lakukan, tak mungkin orang bisa langsung bisa, tidak mungkin seorang yang ahli bermain piano langsung bisa memainkan piano itu dengan sangat mahir, pasti dia dulunya sering berlatih dan disaat berlatih itu dia pasti pernah melakukan kesalahan.


"Om bang Alvin mana?" tanya Bintang yang entah datang dari mana, orang itu sudah berdiri di depan Diandra.


Diandra mendongak ke sumber suara, karena Bintang berdiri tepat di depan Diandra yang sedang duduk. "Alvin lagi di dalam, ketemu sama mama nya" jawab Diandra lirih, sambil kembali melihat ke arah bawah.  


"Tang, salam dulu kek kalau ketemu orang itu, jangan asal nyerobot aja" bisik Alex ditelinga Bintang.


"Hehe, iya bang"


Alvin yang sudah selesai bertemu dengan mama nya segera menetralkan kembali wajahnya seperti orang yang baik-baik saja, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


"Oke Vin, sekarang yang harus lo lakukan adalah terus mendoakan mama sampai dia sembuh, dan lo harus tetap terlihat tegar didepan papa juga yang lain" Alvin keluar dari ruang rawat sang mama dengan wajah yang sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Ngapain?" Alvin menatap mereka yang berada di depan ruang rawat mama nya satu persatu.


"Duduk bang!" si Bintang sepertinya akan mulai mencari masalah, wkwkwk!

__ADS_1


"Nggak!" jawab Eza.


"Kalau gitu papa ketemu dokter dulu Vin, kamu belum sembuh jadi lebih baik sekarang istirahat terlebih dahulu" Diandra membuka suara.


"Kapan Alvin bisa pulang dari rumah sakit ini pa?" bertanya dengan penuh harapan. Alvin memang dari dulu tidak suka dengan bau rumah sakit, yang menurutnya semua obat-obatan disana sangat menyengat hidung dan tidak enak baunya. 


"Lusa In syaa Allah kamu udah boleh pulang"


"Fahmi, Cecep om titip Alvin sama kalian berdua" tambah Diandra.


"Bukannya mereka yang dijagain sama bang Alvin ya, nggak salah nih" batin Bintang.


"Yang ada Alvin yang jaga kita om" Eza juga ikut membatin.


"Kebalik sih sebenernya" Bagas juga ikut membatin. Entah sejak kapan orang satu itu sudah berada di rumah sakit, setahu saya dia tadi masih berada di kampusnya, sedang mengikuti mata kuliah yang ada.


Atau mungkin saja Bagas ke rumah sakit ikut bersama Alex, Eza dan Bintang saat di kampus tadi.


"Kalau gitu saya permisi dulu" 


Setelah Diandra pergi dari hadapan mereka, mereka semua kembali ke kamar rawat Alvin. Tentu saja dengan sebuah drama yang diciptakan oleh Bintang. Sepertinya hidup Bintang jika tanpa drama tidak menyenangkan sama sekali, contohnya sekarang ini Bintang tengah menasehati mereka dengan gaya sok paling tuanya itu.


"Tu bang Alvin dengerin apa kata om Diandra tadi, bang Alvin harus istirahat, lah ini malah main catur. Lagian bang Cecep sama bang Fahmi yang diamanahi kok nggak dilaksanakan" tegur Bintang seperti orang yang paling benar saja.


"Berisik Tang, lagian juga ya kan yang main catur itu Eza sama Bagas, kenapa lo yang sewot"


"Maklum bang Fahmi, si Bintang salah makan kayaknya" Alex kembali mengalihkan pandanganya pada gadget yang sedang dia gunkan, setelah mengeluarkan suara, tanpa memperdulikan Bintang yang menatapnya dengan kesal.


"Yes! gue menang lagi" ujar Bagas bangga.


"Kalah lagi gue" gumun Eza.


" Siapa lagi yang mau main sama gue" si Bagas mulai sombong nih kayaknya.

__ADS_1


"Jangan sombong dulu bang, lo emang setiap main catur sama kita-kita pasti selalu menang, coba mainnya sama bang Alex" tantang Bintang.


"Bener juga kata Bintang, coba lo sekali-kali main nya sama Alex" Fahmi ikut bersuara.


"Bukan gue yang kagak mau main sama Alex, tapi dia nya aja yang nggak pernah mau kalau diajak main catur"


"Iya sih, kalau gitu coba sekali-kali main Lex" ujar Cecep.


"Oke! siapa takut"


"Siap-siap lo kalah Gas" ujar Alvin. 


Alvin tau sekali seberapa hebat Alex dalam permainan catur, bahkan dia saja jika menyusun rencana menggunakan trik dari catur, dan setiap rencana yang Alex buat pasti selalu berhasil.


"Jangan gitu Vin, siapa tau gue menang lagi" ucap Bagas yakin.    


Alex dan Bagas sudah memulai permainan mereka, permainan catur antara Alex dan Bagas terjadi dengan sangat sengit tak ada tanda-tanda dari mereka berdua yang akan kalah ataupun menang.


"Buset ini siapa yang bakal menang" Bintang memperhatikan permainan catur Alex dan Bagas yang tidak dapat ditebak sama sekali.


Sampai akhirnya dua jam telah berlalu Bagas hanya kalah satu stra dari Alex. Dua jam sudah akhirnya Alex bisa menang juga.


"Lo emang susah dikalahin bang, buktinya aja main sama bang Alex dia butuh waktu lama, sampai akhirnya bang Alex yang menang" Bintang takjub dengan skil keduanya.


"Udah adzan ayo sholat dulu" ajak Fahmi pada yang lainnya.


"Iya gue baru inget si Dimas kemana?" tanya Cecep pada Alex.


"Udah pulang ke markasnya ada urusan kata dia, besok dia datang lagi buat nengokin Alvin"


"Kalau gitu apa kabar Leo, kalau tau Dimas mainnya sama kita" selor Bagas tiba-tiba.


"Itu urusan mereka Gas, gue yakin Dimas bisa mengatasi semuanya"

__ADS_1


__ADS_2