Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
39. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim


"Gimana bang Fahmi, apakah perlu dilaporkan ke polis?" 


"Entahlah, gue harus meminta pendapat ibu sama Naya dulu, ini hak mereka berdua" 


Mereka semua sedang mengurus kasus perselingkuhan bapak angkat Fahmi, akhirnya setelah beberapa minggu mencari keberadaan bapak angkat Fahmi mereka menemukan juga persembunyian Ajis. 


Hari ini juga dua minggu setelah kejadian dimana Leo the geng hendak menyerang geng somplak di kampusnya, dan juga kejadian dimana Dimas di introgasi oleh sang kakak. Alex tidak menyuruh Dimas keluar dari geng atlas, tapi Alex menasehati sang adik agar tidak bertindak sembarangan. Menurut Alex itu hak Dimas jika dia masih mau berada di geng atlas.


"Tapi ibu sama bapak lo udah resmi cerai belum Mi?" tanya Cecep penasaran.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Cecep pada dirinya Fahmi hanya mengangkat kedua bahunya tanda dia belum tahu. Fahmi menyenderkan badannya di bahu sofa sambil memejamkan kedua matanya untuk melupakan sejenak rasa lelah yang dirasakan, karena memikul beban yang terlalu berat.


"Jangan dipikirin Mi, jalani aja" tegur Alex.


"Thanks Lex" sahut Fahmi sambil kembali membuka matanya.


"Gimana kalau kita main ke rumah kakek Hasan? udah lama nih nggak kesana" Eza membuka suaranya.


"Bilang aja lo kangen sama makanannya" selor Bagas dan Bintang secara bersama.


"Ets, jangan suudzon terus nggak baik tau" imbuh Eza dengan santainya.


"Kita ke rumah kakek Hasan setelah dari rumah Fahmi, sekarang otw tunggu apalagi!" Alvin yang sedari tadi tidak membuka suara kini bangung dari kursinya menuju parkiran.


"Vin! bawa motor apa mobil?" teriak Cecep.


Alvin tidak menjawab tapi dia sudah setia duduk diatas motornya. "Menurut lo?"


"Yang sopan sama yang lebih tua" tegur Cecep.


"Iya abang Cecep!" jawab Alvin. "Ying sipin seme ying tui, seneng banget dah bang dibilang tua lo" tutur Alvin sambil menirukan gaya bicara Cecep.


"Canda Vin, gitu doang baper lo" Cecep pergi meninggalkan Alvin, Cecep mengambil motornya di parkiran.


"Tang motor lo udah sejak kapan pulang?" Bingung Bagas.

__ADS_1


"Lah napa emang?" 


"Bukannya waktu kita tawuran itu motor lo kagak dibawa, lo dibonceng sama Alex" sepertinya Bagas sedang bernostalgia beberapa bulan yang lalu.


"Woi! ngab itu sudah beberapa bulan yang  lo masih inget?" Bisa bisanya si Bagas bernostalgia cuman masalah motor Bintang.


"Ngeladenin dia nggak bakal selesai" tegas Alex lalu menyalakan motornya.


"Sabar Gas, lo yang paling tua, kok lo yang kao" Bagas mengelus dadanya sendiri.


"Sabar Gas, kita yang lebih tua tapi kita juga sengsara" ucap Cecep dan Fahmi.


"Bang jangan meratapi nasib, liat noh bang Alvin udah melotot matanya hampir keluar" tegur Bintang, kebetulan sekali dia ada paling belakang dan melihat Alvin masih di pagar sambil menatap mereka dengan tajam.


"Bocil!"


Mereka bertujuh berangkat menuju rumah Fahmi dengan motor masing-masing, hembusan angin yang segar dan cuaca yang cerah menemani perjalanan mereka dengan tenang dan santai.


"Allahuakbar, Allahuakbar" mendengar adzan dzuhur berkumandang di salah satu masjid ya tidak jauh dari tempat mereka Alvin segera pergi mencari masjid tersebut untuk menunaikan sholat dzuhur terlebih dahulu diikuti oleh semua anggota gengnya tentu saja.


"Kita sholat dulu" putus Alvin, tanpa banyak tanya mereka semua segera mensucikan diri dari hadas kecil lalu menunaikan sholat dzuhur berjamaah, hampir 40 menit Alvin dan yang lainnya baru saja keluar dari masjid.


"Astaghfirullah hal-adzim" spontan Eza langsung menyebut kala tidak sengaja melihat laki-laki dan perempuan yang sedang bermanja tanpa tau tepat, Eza terus beristighfar beberapa kali sambil mengelus dadanya juga menghindari melihat hal yang seharusnya tidak dilihat, bukan itu saja disitu ada dua gadis yang berpakaian kurang bahan.


"Bang napa?" tanya Bintang yang sudah menyusul Eza terlebih dahulu, tapi tak sengaja Bintang juga melihat pemandangan yang Eza lihat tadi.


"Anjir!" sepertinya Bintang melupakan sesuatu.


"Bintang! istighfar malah ngomong yang aneh-aneh" tegur Eza.


"Mulut! kenapa lo nggak bisa dikompromi sih, minta difilter kali ya" bukannya istighfar malah ngebatin si Bintang.


"Bintang istighfar!" tegur mereka secara bersama ternyata Alvin dan yang lainnya mendengar suara Bintang yang lumayan keras, mereka tahu apa penyebab Bintang terikat seperti tadi, tapi segera mereka beristighfar secara bersamaan dalam hati.


"Ternyata benar wahana yang paling menakutkan itu adalah kehidupan, tanpa disadari kehidupan lah menjadi wahana yang paling ekstrim" batin Alvin.


"Udah yuk lanjut jalan lagi" ajak Fahmi.

__ADS_1


"Inget Tang, istighfar sampai rumah kakek Hasan nggak boleh berhenti"


"Iya bang Ezaaaaa!"


***


"Dimas lo belum jelasin kenapa lo kenal sama anak geng somplak?" tanya Loe dengan penuh amarah.


Dari hari dimana Dimas dipanggil secara langsung oleh Alex sampai sekarang, Dimas tidak menjelaskan apa-apa pada Leo dan yang lainnya sampai membuat Leo marah.


"Apa perlu gue jelasin?" tanya Dimas semakin menantang Leo, mereka semua kebetulan sekali sedang berkumpul  bersama.


"Maksud lo?" bingung Leo.


"Apa Lia nggak cerita sama lo? kalau gue masih punya kakak, dan pasti Yudi sudah tahu secara dia yang cari informasi" dengus Dimas.


Leo mamang sudah tahu jika Dimas dan Lia saudara tiri, maka dari itu dia tidak keberatan jika Lia dekat dengan Dimas. Toh Leo sangat tau jika Dimas menganggap Lia hanya sebatas adik tidak lebih.


"Kok gue, gue juga baru tahu kalau lo dan Alex saudara kandung" tidak tahu Yudi keceplosan atau tidak, tapi tahu darimana dia jika Dimas dan Alex saudara.


"Sejak kapan lo tau?" tanya Leo penuh selidik.


"Gue juga baru tau tadi, denger si Lia naya sama Dimas kapan bang Alex pulang" jawabnya enteng.


Lia memang sering main ke markas geng atlas untuk bertemu dengan Leo, Dimas memang mengizinkan Lia berpacaran dengan Leo asalkan tidak diluar batas, maka dari itu juga Lia tidak berani lama-lama berada di markas mereka.


"Sudah jelas semua jadi nggak usah ribut kayak anak kecil" ujar Kenta.


"Hmmm"


"Leo ada yang mau gue omongin, kemarin  pas gue mengotak-atik informasi keluarga lo"


"Lo ngapain cari informasi keluarga gue!" sahut Leo cepat padahal Yudi belum selesai bicara..


"Denger dulu gue ngomong, makan  jadi orang jangan mudah emosi" tegur Yudi.


"Gue nggak sengaja liat di dokumen laptop, pas gue buka laptop langsung muncul dokumen itu dari pada penasaran yang gue buka aja, ternyata identitas keluarga lo. Lo punya kakak?" tanya Yudi kemudian.

__ADS_1


"Entahlah, mama sama papa gue nggak mau buka mulut, tapi dari informasi yang gue cari gue punya kakak yang jaranya cuman satu tahun sama gue"


"Dia cowok kalau nggak salah" tambah Leo.


__ADS_2