Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
27. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Disebuah rumah sederhana seorang laki-laki berumur 22 tahun sedang sibuk mengurus sang ibu yang sakit, pria  itu mengurus sang ibu dengan sangat telaten dan cekat.


Melihat sang ibu yang kedinginan dan terus menggigil Fahmi dengan cepat menyelimuti sang ibu agar mendapatkan kehangatan, dengan cekatan dia juga mengompres sang ibu untuk memberikan sedikit kehangatan dari air hangat yang diberikan melalui handuk kecil.


Setelah merasa sang ibu sudah lebih baik dari sebelumnya, Fahmi membereskan semuanya, dia membawa baskom ke dapur, bersamaan dengan itu sebuah pesan di benda ajaibnya masuk, dengan cepat Fahmi mengambil benda ajaibnya dari saku celana.


From Alvin


"Gue sama yang lain udah di markas, lo kapan pulang kesini?" begitu pesan yang Alvin kirimkan pada Fahmi.


Fahmi


"Oke, gue kayaknya untuk beberapa hari kedepan belum bisa pulang ke markas, kita ketemu di kampus saja dulu" balas Fahmi.


Setelah selesai membalas pesan yang Alvin kirimkan Fahmi kembali memasukan benda ajaibnya kedalam saku celana.


Fahmi mengitari seluruh ruangan yang ada di rumahnya, dia baru menyadari jika rumah itu sangat berantakan sekali, tanpa mengeluh Fahmi segera membersihkan rumah sederhana itu dengan cepat.


"Alhamdulillah" ucap Fahmi setelah selesai membereskan rumahnya, Fahmi duduk di kursi tamu sebentar setelah beres-beres tadi, dia baru menyadari satu hal jika sedari tadi ayah dan kedua adik perempuannya tak kunjung pulang.


"Kemana mereka? kenapa sudah malam begini belum pulang juga" Fahmi bertanya tanya pada diri sendiri, akhirnya karena sang ayah dan adik-adiknya taku kunjung datang Fahmi memutuskan untuk membersihkan dirinya yang terasa sudah sangat lengket.


"Kenapa perasaan gue nggak enak gini, kayaknya sudah terjadi sesuatu sama yang lain, dan kenapa hati gue seperti mengatakan jika ayah, Melin dan Rika tidak akan pernah pulang lagi" gumun Fahmi.


Karena sudah berpikir yang tidak-tidak Fahmi memutuskan untuk sholat isya, karena waktu isya juga sudah masuk. Fahmi melaksanakan kewajibannya sebagai muslim yaitu sholat dengan sangat khusuk. Dia mencurahkan semua keluh kesahnya pada sang pencipta.


***


"Gawat apa yang terjadi?" seorang menatap layar laptopnya dengan tidak percaya.


"Apa-apaan ini? kenapa bisa jadi begini?" bingung Yudi, dia sudah berusaha keras untuk mencari tahu informasi tentang geng somplak tapi tidak menemukan apa-apa, Yudi hanya menemukan foto geng somplak yang diambil saat di kampus.


"Sial!" Yudi memukul meja yang iya gunakan untuk meletakan laptopnya dengan sedikit kuat.


"Kenapa  dengan lo hah?" Dimas langsung tersentak kaget saat melihat Yudi memukul meja dengan sangat kuat, hanya ada dirinya dan Yudi di ruangan itu, entah sejak kapan Dimas berada disana Yudi saja tidak memperhatikan.


"Kenapa? nggak suka?" tanya Yudi cuek.

__ADS_1


Yudi dan Dimas memang tidak pernah dekat, keduanya sering sekali adu sindir, karena sama-sama tidak suka entah hal apa yang membuat Yudi dan Dimas seperti musuh, padahal mereka berada di dalam satu rumah dan satu geng yang sama.


Setelah kembali memukul mejanya dengan sedikit keras Yudi pergi dari tempat itu sambil menatap Dimas dengan tajam, tapi Dimas sama sekali tidak memperdulikan hal itu.


"Leo ada yang mau gue sampein ke lo" Yudi pergi mendekati Leo yang tengah bersantai sambil menghisap batang rokoknya.


"Katakan!" tanpa menoleh sama sekali pada Yudi, Leo berkata seperti itu sambil mengeluarkan asap rokok yang dia hisab dari lobang hidung dan mulutnya.


"Gue nggak bisa nemuin data-data tentang geng somplak yang gue dapet cuman ini" Yudi memberikan selembar foto pada Leo yang sempat dicetak tadi.


Leo mengambil Foto yang diberikan Yudi barusan padanya, Leo memperhatikan orang-orang yang berada difoto itu secara saksama.


Leo mengerutkan dahinya saat terdapat foto Fahmi di dalam sana, karana saat pertengkarannya dengan geng somplak dia tidak melihat keberadaan Fahmi.


"Siapa dia? bukankah saat pertarungan sengit antar geng kita dengan geng somplak berapa hari yang lalu tidak ada orang ini?" Leo menuntut penjelasan pada Yudi.


"Gue nggak tau yang pasti namanya Fahmi, kemarin dia memang tidak ikut bersama geng somplak" jelas Yudi.


Leo menganut-angut dengan penjelasan yang diberikan oleh Yudi, sambil mematikan api di rokoknya.


"Kita harus lebih hati-hati lagi pada geng somplak, walaupun mereka  geng baru disini tapi mereka bukan orang sembarangan sepertinya, kita tidak bisa memandang mereka sebelah mata" ucap Leo.


"Baiklah, baiklah, itu terserah kau saja, kau bosnya gue capek, gue mau istirahat dulu"


Yudi pergi bergabung dengan yang lain, mereka sedang menikmati makan malam yang mereka pesan secara bersama.


"Kapan lo pulang Kenta" molong Leo.


Ada penyesalan yang Leo rasakan, kenapa dulu dia menyuruh Kenta pergi dari sisinya, orang yang memperkuat gengnya setelah dirinya dan Dimas tentunya, Leo memang tidak terlalu berbuat semena-mena jika pada Dimas.


Untuk Dimas dia juga masih tau posisi jika geng atlas pemimpinnya Leo, maka dari itu dia tidak mempermasalahkan jika Leo membentaknya atau memarahinya saat dia salah.


Tapi jika Leo berani menghajarnya saat dia tidak tahu apa-apa, maka Dimas tidak akan memaafkan hal itu, tentu dia juga akan membalas hal setimpal pada Leo. Karena Dimas tidak pernah takut dengan siapa pun, mereka belum tahu seperti apa Dimas jika sudah membabi buta, semua pasti akan hancur di sekitarnya, ya sifa Dimas ini hampir sama seperti Eza jika marah.


***



__ADS_1


ALVIN DIANDRA : 21 TAHUN




EZA ASZKA ARGINTARA : 21 TAHUN




FAHMI MAULANA : 23 TAHUN




AFKA BINTANG SAPUTRA : 20 TAHUN




AHMAD ALEX VERNANDO : 21 TAHUN




BAGAS KUSUMA : 22 TAHUN




CANDRA ( CECEP) : 22 TAHUN


__ADS_1



__ADS_2