Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
46. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Za, uii, Ezaaaa!" panggil Fahim.


"Napa ngab?" tanya Eza sambil terus fokus mengemudi.


"Lo bisa nggak sih santai dikit napa kalau bawa mobil, tau kayak gini gue aja yang nyetir, entar pas bawa pulang kakek Hasan biar gue yang nyetir, gue nggak mau ya kalau misalkan kakek Hasan ketakutan pas di mobil nanti" oceh Fahmi bak perempuan.


"Iya bang, bawel banget sih lo, kaya cewek" sahut Eza, baru saja dibilang Fahmi nyerocos kayak cewek, eh si Eza juga mengatakan hal yang sama.


Jadi hari ini jadwal kakek Hasan pulang dari rumah sakit, Fahmi dan Eza yang menjemput kakek Hasan, sedangkan yang lainnya masih sibuk mungkin dengan kegiatan masing-masing. 


Sampai di rumah sakit Eza segera memarkirkan mobilnya di tempat parkiran yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.


"Ayo Za buru, ngapain lagi sih lo, kasian kakek Hasan nunggu lama nanti" ujar Fahmi.


"Iya bang, sabar napa" sahutnya santai.


Tanpa banyak drama lagi keduanya langsung menuju ruang rawat dimana kakek Hasan berada, sampai disana ternyata semuanya sudah rapi, kakek Hasan tinggal menunggu orang yang akan menjemputnya yaitu, Eza dan Fahmi.


"Assalamualaikum kek" sapa keduanya secara bersama.


"Waalaikumsalam, nak Fahmi, nak Eza" imbuh kakek Hasan.


"Maaf kek kita sedikit telat" sesal Fahmi, dia merasa tidak enak hati pada kakek Hasan, karena kakek Hasan harus menunggu.


"Iya nggak papa nak" jawab kakek Hasan sambil tersenyum. Senyum yang sudah beberapa minggu ini terlihat pucat kini sudah kembali seperti sedia kala.


"Kalau gitu Fahim ketemu dokter dulu ya kakek, biar kakek sama Eza duluan aja ke mobil" ujar Fahmi, sambil berpamitan menuju ruang dokter, setelah mengucapkan salam terlebih dahulu tentunya..


"Kek, kakek untuk sementara waktu tinggal di markas kami dulu, nggak papa kan kek?" tanya Eza dengan hati-hati.


"Iya nak Eza" ujar kakek Hasan. Sebenarnya kakek Hasan ingin segera pulang ke gubuk sederhana nya yang berada di hutan, tapi dia juga tidak mau membuat Alvin dan yang lainnya kecewa, karena menolak permintaan mereka untuk tinggal terlebih dahulu di markas. Tapi disisi lain kakek Hasan merasa sudah terlalu banyak menyusahkan mereka semua.


Kini Eza dan kakek Hasan sudah berjalan menuju tempat parkir mobil dimana Eza memarkirkan mobilnya di sana. 


"Baik dok terima kasih banyak, kalau begitu saya permisi, Assalamualaikum" pamit Fahmi dengan ramah.


Setelahnya Fahmi langsung menyusul kakek Hasan dan Eza yang sudah lebih dulu menuju parkiran, saat Fahmi sudah bergabung dengan keduanya dia langsung mengemudikan mobil. Seperti ucapannya pada Eza tadi jika dia yang akan mengemudi saat membawa kakek Hasan, dan sekarang lah Fahmi lakukan, dia tahu jika Eza yang mengemudi semua tidak akan baik-baik saja.

__ADS_1


.


.


.


"Vin udah belum nih masaknya" ujar Cecep.


"Dikit lagi bang, kitakan mau ngadain syukuran kecil atas keberhasilan operasi kakek Hasan  dan kesembuh kakek Hasan" jelas Alvin.


"Iya deh"


"Bang, si bang Bagas udah selesai beres-beres belum sama Alex?" tanya Alvin.


"Ya mana tau Vin, kan dari tadi gue di dapur sama lo" ujarnya.


"Iya juga sih, heheh" Alvin masih terus mengaduk sayur yang dia masak sampai matang sempurna. Untuk Cecep dia sedang membuat sambal sederhana yang rasanya nggak kaleng-kaleng katanya sih.


"Vin!" panggil Cecep.


"Napa bang?" Alvin menyahuti panggilan dari Cecep, tapi fokusnya sama sekali tidak teralihkan dari kegiatan yang dia lakukan.


"Lo sering nggak sih kalau lagi masak atau lagi ngapain gitu, tiba-tiba baca sholawat?"


"Emang apa manfaatnya Vin?" tanya Cecep pemasaran.


"Kan abang tau sendiri ganjaran kalau baca sholawat sama baca surah-surah pendek, apalagi kalau baca surah Al-ikhlas sampai sepuluh kali dalam sehari, sama aja kayak kita khatam Al-quran dalam sehari. Tapi juga di sisi lain dari pada pikiran kita nganggur mending dzikir di hati sama pikiran" tutur Alvin dengan jelas.


Cecep mengangkut-angkut mengerti dengan apa yang Alvin jelaskan, sampai tak terasa kegiatan yang mereka lakukan kini telah beres semua, bersamaan dengan  Bagas dan Alex yang juga sudah selesai membersihkan markas.


"Udah beres juga Lex, Gas?" tanya Cecep kala mereka berdua masuk ke dapur untuk pergi ke kamar mandi.


"Alhamdulillah udah bang" sahut Alex dan Bagas bersama.


"Nanti kalau udah bantu nyiapin ini semua ya" pinta Alvin sambil menunjukan masakan yang telah mereka masak tadi


"Oke siap"


Setelah semuanya sudah beres dan makanan sudah disiapkan Fahmi dan Eza datang bersama kakek Hasan, mereka berempat terpaku dengan kesembuhan kakek Hasan, wajah ceria itu kini sudah kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


"Assalamualaikum" sapa kakek Hasan pada mereka diikuti oleh Fahmi dan Eza yang juga mengucapkan salam.   


"Waalaikumsalam" keempat nya kompak menjawab sambil tersenyum dan merasa bersyukur atas kesembuhan kakek Hasan.


"Alhamdulillah kakek udah sembuh, duduk dulu kakek" ucap Bagas sopan.


"Terima kasih nak kalian semua memang orang-orang baik" ujar kakek Hasan terharu, apalagi kakek Hasan pasti akan merasa lebih tidak enak lagi jika kakek Hasan mengetahui  mereka mengadakan syukuran atas kesembuhan dirinya.


"Sama-sama kek, kakek sendiri pernah bilang sama kita, membantu sesama itu adalah kewajiban seorang muslim" ujar Fahmi tersenyum.


***


"Pa kakak Bintang yang sudah lama hilang kini sudah Bintang temukan keberadaan" ucap Bintang pelan pada sang papa.


Tadi Bintang mendapatkan tugas dari teman-temannya untuk mengundang penduduk sekitar agar mengikuti acara syukuran yang mereka gelar setelah sholat isya agar waktunya lebih panjang. Tapi setelah selesai memberi tahu orang-orang dia langsung menuju rumah sang papa dan mama yang terletak sangat tidak masuk akal.


"Kamu serius Bintang?" tanya sang papa penuh harapan.


"Iya pa, Bintang nggak bohong, katanya dia mau ketemu papa sama mama, tapi nggak sekarang"


"Siapa yang mau ketemu papa sama mama?" selor Ratih yang baru saja kembali dari dapur.


Mereka berdua tidak langsung menjawab pertanyaan Ratih, tapi Saputra sang suami menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Papa kenapa? siapa yang mau ketemu kita?" tanya Ratih lagi yang masih penasaran.


"Putra kita ma, putra pertama kita sudah ketemu" ujar Bima sambil meneteskan air mata, saking terharunya penantian mereka selama 23 tahun ini ternyata tidak sia-sia.


"Hah! papa serius kan?" Ratih masih memastikan.


"Papa bener mah, Bintang yang ketemu sama abang, Bintang baru sadar selama ini Bintang selalu bersama orang yang sudah lama kita cari" sahut Bintang.


"Kamu nggak bohong kan sayang?" tanya Ratih penuh harapan pada Bintang.


"Bintang nggak bohong ma, tapi katanya abang mau ketemu papa sama mama setelah urusannya selesai atau mungkin setelah wisuda" tambah Bintang lagi.


"Dia juga satu kampus sama Bintang" jelas Bintang.


"Tapi kenapa dia nggak mau ketemu sama mama dan papa sekarang nak?"

__ADS_1


"Bintang nggak tau ma, tapi mungkin abang belum siap, apalagi dia takut kalau mama sama papa nggak mau nerima dia"


"Tolong sampaikan pada abang mu jika kami munggunya untuk pulang" ucap Saputra akhirnya pasrah, apapun itu keputusannya ada ditangan Fahmi.


__ADS_2