Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
25. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim


Setelah selesai berkunjung dari panti asuhan Kencana Jaya, Alvin dan kelima temannya pamit undur diri.


Sayangnya saat di pertengahan jalan setelah dari panti asuhan mereka dicegat oleh sekelompok geng motor yang sama sekali tidak mereka kenali.


"Ini rupanya geng somplak yang sangat terkenal itu, nama gengnya saja sudah aneh, hahaha!" seorang cowok yang bicara barusan tertawa terbahak-bahak diikuti oleh temannya yang lainnya.


"Kalian mau apa?" tanya Alvin dengan santai.


"Ternyata punya nyali juga kalian" sahut orang itu lagi.


"Geng Atlas ini memang benar-benar brutal tidak punya sopan santun lagi, gue pengen liat itu muka si Leo bonyok kayak waktu itu, sepertinya akan lebih menarik jika melihat secara live" batin Bintang.


Diantara mereka hanya Bintang yang sangat tahu tentang geng Atlas itu, karena dulu Bintang hidup bersebelahan dengan geng Atlas, tapi dulu Bintang selalu menutup diri tidak seperti sekarang ini. 


Sepertinya masih banyak misteri yang tersimpan dalam diri Bintang, dia bahkan sangat tahu tentang geng atlas.


"Sepertinya gue kenal sama lo, lo bukannya pacar cewek gue dulu" ucap Leo sambil menunjuk Bagas, ya laki-laki yang tiba-tiba saja menghalang jalan geng Somplak bersama para teman-temannya adalah Leo the geng.


"Ternyata orang lemah seperti lo bisa memiliki geng juga, atau jangan-jangan geng ini sama sekali tidak bisa berkelahi" Leo seperti sedang memancing emosi lawannya.


"Kau!!" hampir saja Eza menonjok muka Leo, beruntung Alvin cepat mencegahnya.


"Kendalikan emosi lo Eza" bisik Alvin tepat ditelinga Eza. Untung saja Eza dengan cepat dapat menguasai dirinya sendiri


Alvin menanggapi semua ucapan Leo dengan santai seakan tidak terjadi sesuatu pada mereka, berbeda dengan Eza yang cepat sekali emosi, hampir saja Eza menumpahkan semua emosinya pada Leo beruntung Alvin cepat mencegahnya.


"Jadi lo yang namanya Alvin? bos dari geng somplak boleh juga lo ya" Leo masih berusaha membuat geng somplak terpancing emosinya.


Namun hanya emosi Eza yang hampir melupa tak terkendali tidak dengan yang lainnya, geng somplak mamang pandai mengendalikan emosi mereka, tapi tidak dengan Eza dia harus didampingi oleh orang lain agar bisa mengendalikan emosinya.


"Sikat aja bos" provokasi anak buah Leo.


"Hehehe" Bintang tiba-tiba saja tertawa seperti sedang mengejek ke arah Leo. Leo yang merasa diremehkan mulai tersulut emosi saat melihat Bintang tertawa mengejek padanya. Padahal Bintang tidak menertawai dirinya.


"Lo kenapa Leo?" tanya Bintang heran karena Leo menatapnya dengan sangat tajam, padahal yang Bintang tertawakan makhluk tak kasat mata yang sedang kejar-kejaran dengan temannya di sebelah Leo.

__ADS_1


"Hajar aja langsung bos" anak buah Leo kembali bersuara.


"Lo pada kalau udah nggak ada urusannya sama kita lagi mending minggir dah, gue capek mau tidur!" tegas Alex dengan nada cuek.


"Duk" satu tinjuan dari Leo mendarat pada perut Alex, tapi Alex tetap bisa saja dan hanya ekspresi datar yang dia tunjukan.


"Serang!" perintah Leo saat itu juga.


Entah sejak kapan kini Leo sudah berhadapan dengan Alvin. "Gue sebenernya males ngeladenin lo pada, gak ada faedahnya sama sekali, tapi mau gimana lagi lo yang mulai" Alvin menonjok muka dan menendang perut Leo dengan sangat kuta.


"Hebat juga ternyata lo, hehe" sahut Leo sambil tersenyum mengejek pada Alvin.


"Duk"


Satu pukulan berhasil Loe daratkan ke muka ganteng Alvin, dengan cepat Alvin mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya.


"Hmmm, kalau saja bunuh orang nggak dosa, lo udah pasti gak bernyawa lagi, tapi sayangnya bunuh orang dosa, dan mati hidup seseorang sudah Allah takdirkan" Alvin kembali menonjok muka Leo sampai babak belur, begitu juga sebaliknya Leo terus melakukan perlawanan, mereka berdua sama-sama kuat.


"Bagas kita ketemu lagi, gimana rasanya dikhianati pacar dan sahabat sendiri?"


"Untung temen-temen gue pada sibuk sendiri nggak denger apa yang gue bilang baru saja, tapi harus tetap istighfar juga, Astagfirullah hal-adzim" batin Bagas, masih sempat ngebatin sendiri.


"Hahah! lo berubah Bagas" sahut Yuda yang hampir kehabisan tenaga, tidak seperti dugaan Yuda, ternyata Bagas yang sekarang dan yang dulu berbeda sekali, sudah banyak perubahan pada Bagas.


Sedangkan Eza sudah menumbangkan satu anak buah inti geng Atlas, secara membabi buta.


"Wah gawat ini si Eza kalau nggak dicegah, bisa mati itu anak orang" dengan Cepat Cecep menarik tangan Eza.


"Istighfar Eza!" Cecep mengguncangkan sedikit tubuh Eza.


"Inget Za, kita disini cuman membela diri, bukan untuk menyerang mereka secara membabi buta"


"Astagfirullah hal-adzim" Eza meremas rambutnya dengan kuat, sambil terus beristighfar dia sudah terlalu terbawa emosi.


"Thanks Cep" akhirnya Eza sadar juga, sungguh setan sangat senang hadir diantara perseteruan para saudara sesama muslim, karena Eza yang belum bisa mengendalikan emosinya secara baik, maka setan akan masuk pada hati kita yang sedang lengah.


"Eza, Cecep kalau udah bantu gue!" teriak Alex yang sangat kewalahan menghadapi 5 orang anggota inti geng atlas sekaligus.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi Eza dan Cecep segera membantu Alex, sedangkan Bintang terus membalas serangan-serangan dari lawan, sambil terus tertawa, karena melihat dua makhluk kecil tak kasat mata itu sedang menonton perkelahian mereka.


"Manusia sama Manusia bisa bertengkar juga ternyata" komentar makhluk halus itu.


"Kita aja bisa bertengkar apalagi manusia yang kadang memiliki kesombongan yang sangat teramat" sahut temannya.


Perkelahian itu terus berlanjut, sampai Leo menyuruh para anggotanya untuk mundur, tak kalah babak belurnya seperti anggota geng Atlas, begitu juga dengan geng somplak.


"Kita istirahat dulu" suruh Alvin, sambil berjalan pelan ke sebuah rumput jepang yang berada di dekat mereka.


"Yah, kok udahan sih, padahal kan masih seru" makhluk tak kasat mata itu kembali mengeluh, Bintang yang melihat itu berusaha keras tidak tertawa, jika dia tertawa dadanya akan semakin sakit, akibat pukulan keras dari Yudi saudara kembar Yuda.


"Pakai ini dan lakukan dengan saling membantu" Alvin menyerahkan kotak p3k pada teman-temannya yang dia ambil dari jok motornya.


Alvin memang selalu membawa kotak p3k di dalam jok motornya, untuk persediaan jika ada hal  yang tak diinginkan terjadi, seperti sekarang ini.


"Eza lo harus diintrogasi kayaknya" ucap Alvin sambil menatap Eza dengan serius. Eza tahu apa yang dimaksud oleh Alvin.


"Yang tadi gue bener-bener nggak bisa ngendaliin emosi Vin" tegas Eza.


"Iya, kalau nggak ada Cecep, anak orang bisa mati ditangan lo Ezaaa!" sindir Alex.


"Kalau dia mati itu takdirnya"


"Terus lo mau masuk penjara gitu? atas tuduhan kasus pembunuhan, apa kata orang- orang indonesia nanti jika pewaris tunggal keluarga Argintara masuk penjara, akibat kasus pembunuhan? terus lo nyeret nama kita juga" sela Bintang dengan cepat.


Semua orang membenarkan ucapan Bintang terbukti saat Bintang berkata mereka semua menganggukan kepala untuk membenarkan ucapan Bintang.


"Udah sekarang cepat istighfar dulu" suruh Alvin, sedangkan dirinya sedari tadi terus beristighfar di dalam hatinya.


"Maaf" hanya satu kata itu lah yang mampu keluar dari mulut seorang Eza, dia tahu dia memang salah.


Alvin menepuk pundak Eza dengan lembut. " Sans Za, kita semua disini tau lo belum bisa ngendaliin diri lo, kita semua maafin lo Za, tapi lo juga harus terus berusaha untuk bisa mengendalikan emosi lo dengan baik, terus berusaha Za lo pasti bisa" tutur Alvin lembut, diikuti tatapan meyakinkan untuk Eza dari mereka semua.


"Dan yang mereka lakuin sama lo itu bukan buat nyudutin lo, tapi buat ngelatih mental lo" Alvin kembali bersuara.


Akhirnya mereka saling merangkul bersama-sama untuk lebih mengeratkan persahabatan mereka.

__ADS_1


__ADS_2