
Bismillahirohmanirohim.
"Leo lo beneran mau cari saudara lo yang sudah lama hilang itu?" Kenta berjalan mendekati Leo.
Mendengar ada yang mengajaknya bicara Leo membalikan tubuhnya untuk melihat siapakah gerangan yang mengajaknya bicara, Leo sudah tahu jika yang mengajak dirinya bicara adalah Kenta, demi merespon Kenta,
Leo berbalik badan dia tidak punya keberanian jika harus berbicara dengan Kenta tanpa melihat orangnya.
"Ya begitulah Ken, sebenernya gue udah lama nyari diem-diem, tapi nggak membuahkan hasil sama sekali" Kenta menepuk-nepuk pundak Leo.
"Lo yang sabar, gue yakin pasti saudara lo bakal ditemuin, nggak ada yang mustahil di dunia ini, jika Tuhan berkehendak" Leo mengangguk mengerti.
Tak bisa dipungkiri Kenta masih menyimpan rasa kecewa dan ada sedikit dendam pada Leo, akibat kejadian dua tahun lalu.
Dimana kala itu Leo menuduhnya sebagai pengkhianat di dalam geng, Loe menuduh Kenta ingin mengambil posisinya sebagai ketua geng, siapa sangka efek tuduhan Leo kepada Kenta sangat berat, sampai akhirnya Leo memutuskan untuk mengasingkan Kenta selama beberapa tahun terlebih dahulu, sampai kebenarannya terungkap.
Setelah satu bulan Kenta berada di luar negeri semuanya terbongkar, Leo menyadari satu hal jika dirinya dan Kenta sedang diadu domba, oleh Dika yang ingin mengambil posisi Leo. Dika ingin dirinya lah yang menjadi ketua geng sehingga rela mengkambing hitamkan Kenta.
Sejak hari itu Leo langsung menghukum Dika dengan ganas dan membuat Dika kapok, sampai akhirnya Dika dikeluarkan tidak hormat dari geng Atlas. Sayangnya Leo tidak langsung menyuruh Kenta kembali setelah mengetahui dalang di balik perpecahan geng mereka.
Kekalahan yang dialami geng Atlas saat itu, saat melawan geng Somplak yang masih termasuk ke dalam geng yang baru tumbuh, membuat Leo memutuskan untuk menyuruh agar Kenta segera kembali, padahal waktu yang seharusnya membawa Kenta pulang masih tersisa 1 tahun lagi untuk Kenta.
"Anak-anak pada dimana Ken?" Leo berjalan keluar dari ruang rahasia mereka.
"Entah lah" sama dengan Leo, Kenta juga pergi dari ruangan itu.
Walaupun masih bertegur sapa, tapi Kenta tetap menampilkan sikap dinginnya pada Leo. Kenta akan bersikap biasa saja hanya pada Dimas.
"Leooo…….!" teriak seorang perempuan yang baru saja masuk ke dalam markas geng Atlas.
"Ada apa?" Leo mendekat pada gadis yang sudah berdiri di depannya, Leo bertanya dengan suara yang lembut pada gadis itu.
"Ayo jalan-jalan" ajaknya. "Bosen kalau perginya sama Dimas terus nggak asik dia mah" tambah sang gadis lagi sambil merajuk.
Leo mengelus rambut gadis itu dengan sayang. "Mau jalan-jalan kemana? Hmmm" Leo akan bersikap lembut seperti sekarang ini hanya pada Lia, sang pacarnya yang direbut dari Bagas.
__ADS_1
Entah seperti apa ceritanya apakah Leo merebut Lia dari Bagas kekasihnya dahulu, ataukah Lia yang meninggalkan Bagas karena sudah bosan, bisa jadi mereka berdua memang sengaja berselingkuh untuk menghancurkan Bagas. Tapi nyatanya ekspektasi tak sesuai keinginan, mereka yang ingin Bagas hancur, bahkan sekarang terlihat biasa-biasa saja tanpa terlihat adanya beban berat yang dia tanggung.
"Kita ke mall ya Le" pintanya sambil menggandeng tangan Leo dengan manja.
"Kita berangkat sekarang" Leo langsung bergegas menyambar kunci mobilnya.
Mereka para anggota geng atlas mengira jika hubungan Leo dan Lia akan berjalan sebentar saja mengingat tabiat Leo yang sering sekali bergonta-ganti pacar, hanya suka mempermainkan perasaan perempuan, tapi siapa sangka hubungan keduanya bisa sejauh ini, apa lagi ada Dimas yang akan maju di garis depan jika Leo berani-beraninya menyakiti Lia. Sang adik tiri.
***
"Apes banget dah gue hari ini" gerut Bintang.
"Hus, gak boleh ngomong gitu Tang" tegur Bagas.
"Abisnya gimana ngab, dapat hukuman yang sangat membagongkan" dengus Bintang.
"Lo sendiri yang berulah, jadi tanggung sendiri, inget berani berbuat berani bertanggung jawab" sela Alex, entah datang dari mana dia. sepertinya Alex suka sekali muncul tiba-tiba.
Tiba-tiba cinta datang padaku. Elah malah nyanyi, gas kita lanjut lagi si tukang rusuh sudah kembali lagi, fahamlah ya siapa si tukang rusuh siapa lagi kalau bukan si bontot Bintang.
"Napa?" heran Alex sambil menatap tajam Bintang, Bagas hanya melihat apa yang akan Bintang perbuat pada Alex. Sungguh Bintang memang tak bisa mengontrol diri agar tidak berbuat ulah dan sembrono.
"Heheh, nggak kok Lex reflek aja" alibi Bintang sambil nyengir.
"Lo berdua udah kagak ada kelas gitu?" akhirnya Bagas membuka suara juga.
"Nggak" mereka berdua menjawab dengan kompak.
"Kalau gitu cari angin yuk lah" ajak Bagas.
Karena malas berdebat Alex dan Bintang menyetujui ajakan Bagas, tanpa Bintang membuat drama terlebih dahulu, karena dia tahu diri jika Alex tak akan menganggapi dirinya untuk masalah lelucon.
"Hahaha! Ketawa boleh nggak sih?" (autor)
"Lo udah ketawa tor, jadi jangan kayak orang lola" sindir Alex.
__ADS_1
"Mampus lo tor, hahahha!" (Bintang balas dendam). "Makanya jangan ngetawain gue" (masih Bintang).
"Mohon maaf lo pergi dari sini tor, lo kagak ada dalam cerita! jadi jangan buat ceritanya acak adul" (Bagas mempertegas)
"Dah lah, mohon maaf iklan🤧, mari kita kembali kepada tujuh cecunguk yang tidak tau diri itu, tapi sekarang mereka sedang bertiga yang lain entah kemana, sedang melalang buana di alam mimpi sepertinya"
"Tor kapan lanjutnya lo malah curhat" (Bintang si tak bisa diam)
"Iya!"
"Jadi kita mau kemana nih?" Bintang melihat Alex dan Bagas secara bergantian adakah dari mereka yang akan menjawab pertanyaannya.
"Mall gimana?" usul Alex.
"Gas lah"
"Tapi bang ngapain kita ke mall kayak cewek aja" Bintang tidak setuju dengan usulan yang diberikan Alex.
"Sekali lagi lo protes gue pites juga lo" gertak Bagas.
"Iya!"
"Gini nih kalau jadi bontot, nasib-nasib nggak bisa ngelawan yan tua, wkwkwk" batin Bintang.
"Itu mah ya salah lo sendiri, kenapa seneng banget bikin ulah, sama seneng banget dah kayaknya buat gara-gara" (autor muncul lagi)
"Napa lo dateng lagi ha? sono pergi, lagian yang buat peran gue kayak gini itu lo, rasanya gue ingin sekali mengumpat!" (Melempar sedal pada autor)
"Nah kan auto ilang lo tor kena mental" (Bintang merasa menang).
"Udah ayo bawa mobil" ujar Alex.
"Terus entar yang lain gimana bang?" Bintang menatap Alex tak percaya, pasalnya tadi mereka bertujuh berangkat ke kampus secara bersama menggunakan mobil Alvin.
"Gampang, lagian juga mereka udah gede kok" sahut Bagas dengan santainya diikuti anggukan oleh Alex.
__ADS_1
"Tak ku sangka kalian sekejam itu pada teman sendiri" ucap Bintang dramatis, jiwa dramanya sudah mulai muncul, tak bisa dibendung lagi.