Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
43. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Bang ayo katanya mau pulang, udah janji lo sama Bintang, inget janji nggak boleh diingkari. Janji adalah hutang!" tegas Bintang.


"Being ayi ketinyi miu piling, udih jinji simi Binting, inget jinji nggik bilih diingkiri. Jinji idilah hitiing. Nye, nye, nye" Eza mengikuti gaya bicara Bintang sambil mengejeknya.


"Ribut aja terus!" sindir Alex.


"Gue mau pulang kalau kakek Hasan sudah dinyatakan sembuh total" ujar Fahmi.


"Lah kok gitu bang, kemarin janjinya kalau masalah ibu udah selesai semua abang mau pulang, teruskan sekarang masalah ibu udah beres, surat cerainya aja udah dateng kemaren, kenapa sekarang jadi berubah pikiran lagi?" ucap Bintang tidak terima dengan keputusan Fahmi.


"Kalau gitu gue nggak mau pulang" ancam Fahmi.


"Iya! dah lah ngalah aja, jugaan yang waras ngalah" kesel Bintang.


"Jadi lo ngatain gue nggak waras? inget gue abang lo, kalau nggak gue nggak mau pulang" Fahmi kembali mengancam Bintang, sepertinya dia memang senang membuat Bintang kesel.


"Nggak bang! kan tadi Bintang bilang yang waras ngalah" kilahnya.


"Berarti sama aja lo ngatain gue gila kalau gitu" Fahmi kembali angkat bicara.


"Ng…"


"Kalian kalau mau ribut silahkan pergi, jangan ganggu gue!" ujar Alex dingin, padahal Bintang baru saja ingin kembali angkat bicara.


Sontak Bintang dan Fahmi diam seribu bahasa melihat aura dingin dari Fahmi. "Gue ini abang lo loh, jadi sopan dikit lah" dengus Fahmi, tapi dia hanya bercanda, disaat-saat aura dingin Alex keluar hanya Alvin dan Fahmi yang bisa bersikap biasa saja.


"Iya bang maaf, lagian lo berdua dari tadi debat mulu kek nggak ada kerjaan lain aja, panas sih kuping gue!" 


"Sorry" apa kata dunia Bintang meminta maaf, mereka bertiga tidak salah dengarkan.


"Lo serius minta maaf?" longok Eza tidak percaya.


"Dikira seumur hidup gue nggak bisa ngomong maaf apa! yang ada lo yang nggak pernah minta maaf"


"Yang sopan sama yang tua, nggak gitu juga Bintang! biasanya aja lo kalau sama gue nggak pernah minta maaf"


"Lo…"


"Nggak usah ribut!" ucap Alex dan Fahmi secara bersama.


"Iya" nyali keduanya langsung ciut.

__ADS_1


"Za main yuk, disini diamuk mulu kita" ajak Bintang berbisik di kuping Eza.


"Gas lah!" sahutnya.


"Bang kita pergi dulu ya" pamit Eza dan Bintang pada Fahmi juga Alex.


"Mau kemana?" tanya Fahmi penasaran.


"Refresh otak bang" sahut Eza santai.


"Yoi" tambah Bintang.


"Gini aja lo berdua aku, coba kalau hal yang dibawa debat mulu" tutur Fahmi tidak habis pikir dengan Bintang dan Eza, kalau jalan-jalan aja kompak mereka berdua.


"Nggak  boleh ribut terus bang harus akur, kalau begitu kita pergi dulu, Assalamualaikum" ucap keduanya bersama.


"Wa'alaikumsalam"


Di ruang rahasia geng somplak kini hanya tinggal Fahmi dan Alex yang sedang mengumpulkan bukti-bukti tentang Fahmi yang merupakan anak kandung keluarga Afka Saputra.


"Lo pada kenapa sih, akhir-akhir ini pada manggil gue abang mulu, serasa tua banget dah gue" bingung Fahmi, ya Fahmi menyadari satu hal, jika akhir-akhir ini semua teman satu gengnya memanggilnya dengan embel-embel abang.


"Kan nggak lo aja yang dipanggil abang, si Cecep juga" Alex menanggapi ucapan Fahmi sambil terus fokus pada laptop di depannya.  


"Iya juga sih, tapi aneh aja gitu" ucap Fahmi lagi.


"Ya lo bener juga sih Lex, ngomong-ngomong kapan lo lulus dan dapet gelar master?" Fahmi mencari obrolan lain.


"Masih lama bang tiga atau empat tahun lagi"


"Emang ngambil gelar master berapa lama?" tanya Fahmi masih setia menatap hpnya.


"Lima sampai enam tahun"


"Lumayan lama sih"


"Lo bentar lagi ngurus skripsi kan bang sama bang Cecep juga"


"Iya"


Sementara itu di tempat lain Alvin sedang fokus mengerjakan tugas tekniknya yang diberikan dosen secara tiba-tiba, tadi Alvin kira hari ini tidak ada kelas, tapi temanya yang satu kelas dengan dirinya siang tadi menghubunginya jika ada kelas mendadak.


Dengan terpaksa Alvin berangkat ke kampus, karena memang itu sudah menjadi kewajibannya.  

__ADS_1


"Vin udah selesai belum?" tanya teman Alvin.


"Bentar lagi Fer, sedikit lagi abis itu kelar" sahut Alvin yang masih tetap fokus pada pekerjaannya.


"Lagian dosen ada-ada aja, ngasih tugas mendadak gini, nggak bisa liat gue tenang sehari aja gitu" keluh Ferdi teman satu kelas Alvin.


"Nggak usah ngeluh terus Fer, kerja biar cepet beres, kalau lo ngeluh terus nggak papa juga, tapi itu tangan kerja, ini ngeluh mulu tapi tangan nggak kerja, nggak bakal selesai kalau gitu caranya"


"Iya bawel banget dah lo Rin"


"Ferdi, Rina udah nih tinggal lo berdua terusin,  udah nggak usah debat" lerai Alvin.


"Iya" jawab keduanya kompak


Sama dengan Alvin Bagas juga sedang berada di kampus, karena memang Bagas ada kelas siang sampai sore. Tidak seperti Bintang, Eza dan Alex yang memiliki kelas pagi.


Untuk Cecep dan Fahmi sudah tidak banyak kelas lagi, tapi tetap saja keduanya akan sering bolak-balik kampus, karena akan melakukan konsultasi untuk skripsi keduanya nanti. Sepertinya akhir-akhir ini Fahmi dan Cecep akan sama-sama sibuk 


***


"Kek makan dulu ya" ujar Cecep.


Saat ini giliran dirinya yang bertugas untuk menjaga kakek Hasan, mereka semua memang bergilir untuk menjaga kakek Hasan.


"Iya nak Cecep makasih banyak" ujar kakek Hasan sambil tersenyum.


Kakek Hasan divonis mengidap penyakit tumor di dalam tubuhnya dengan itu mereka semua sudah mengambil keputusan sebaik mungkin jika kakek Hasan akan dioperasi satu minggu lagi, untuk membiasakan berbaur dengan rumah sakit dan menjaga kesehatan kakek Hasan tetap stabil sampai hari dimana operasi akan dilakukan. Kakek Hasan diharuskan untuk menginap terlebih dahulu di rumah sakit.


Dokter juga akan memberikan vitamin pada kakek Hasan. Geng somplak bukan hanya akan menjaga kakek Hasan saja. Tapi juga kakek Hasan menyempatkan diri untuk mengajar mereka dan memberikan nasehat-nasehat yang baik.


Kakek Hasan tidak berkecil hati jika dirinya mengidap penyakit, karena beliau yakin semua masalah ada hikmahnya. Bahkan ibadah yang kakek Hasan lakukan semakin beliau pegang erat dan dzikir beliau tidak pernah berhenti.


"Kek Cecep boleh tanya?" tanya Cecep ragu saat kakek Hasan sudah selesai makan.


"Silahkan mau tanya nak Cecep" ucap kakek Hasan tersenyum.


"Cecep mau tanya kek, seperti apa ciri-ciri orang yang kehilangan akan nikmat ibadahnya?" tanya Cecep penasaran.


"Salah satu musibah terbesar adalah ketika kita sudah nyaman dalam kemaksiatan sehingga kita kehilangan nikmat ibadah. Maksiat itu ada banyak, maksiat mata, lisan, hidung, kedua tangan, kedua kaki dan banyak lagi" jelas kakek Hasan.


"uhkuh…ukhuk….!" kakek Hasan terbatuk.


Dengan sigap Cecep memberikan segelas air pada kakek Hasan. "Minum dulu kakek" ujar Cecep.

__ADS_1


"Makasih nak Cecep"


"Sama-sama kakek, makasih juga atas penjelasannya, sekarang kakek istirahat dulu.


__ADS_2