
Bismillahirohmanirohim.
Alvin tengah berjalan tergesa-gesa menuju ruang operasi kakek Hasan. Hari ini kakek Hasan akan melakukan operasi tumornya. Tidak tahu kenapa rasanya hari ini rumah sakit itu terlihat seperti sangat sesak.
Lalu-lalang orang di dalam rumah sakit itu seperti tiada hentinya, hal ini membuat jalan Alvin sedikit terhambat karena banyak nya orang, Tapi mau bagaimana lagi Alvin harus berjalan pelan agar tidak membahayakan dirinya sendiri.
Saat di pertengahan jalan menuju ruang operasi kakek Hasan, Alvin tidak sengaja melihat seseorang yang sangat dia kenali, seseorang yang sangat Alvin rindukan pula beberapa tahun ini, juga orang yang telah membuat dirinya seakan mati rasa.
Alvin terpaku sejenak di tempat dimana dia melihat orang yang sangat dia kenali, sebelum dirinya kembali tersadar dengan apa yang baru saja dia saksikan.
"Papa" ucap Alvin dengan suara lirih, bahkan ucapannya hanya sampai ke tenggorokan. Satu kata yang sudah lama tidak dia sebut kini ia sebut saat melihat seseorang yang begitu mirip dengan sang papa.
"Papa" Alvin berbicara sedikit kencang, tapi sosok yang dia lihat barusan entah kemana, sosok itu sudah tidak ada lagi ditempat pertama kali Alvin lihat, seorang yang Alvin panggil papa tadi hilang di tengelaman banyak manusia yang lalu-lalang di rumah sakit itu.
Alvin segera mencari sosok yang dia rindukan selama bertahun-tahun, untuk pertama kalinya Alvin melihat sosok papa nya setelah hari itu. Hari ini saja bahkan Alvin hanya melihat sekilas saja, Alvin sangat yakin jika yang dia lihat barusan sang papa.
"Alvin" panggil seseorang sambil memegang pergelangan tangan Alvin.
"Mau kemana Vin? ruang operasinya sebelah kiri bukan sebelah kanan" tegur Cecep.
"Ya Allah sampai lupa" batin Alvin.
"Hehe, iya bang" jawabnya sambil nyengir.
Seakan Alvin lupa dengan apa yang baru saja dia pikirkan. Tapi Alvin mengingat jika tujuannya berada di rumah sakit ini untuk menghadiri operasi yang akan dilakukan kakek Hasan bukan hal lainnya.
"Katanya lo nggak bisa ikut nemenin operasi kakek" Alvin dan Cecep sudah berjalan beriringan menuju ruang operasi kakek Hasan.
"Alhamdulillah bisa, kerja nya ditunda sama dosen, karena dosennya ada pertemuan dengan orang lain, ya jadi besok baru ada pertemuan sama dosen" jelas Cecep. Alvin mengangkut mengerti.
"Ngomong-ngomong perasaan gue aja apa emang biasanya kayak gini ya? kok ini rumah sakit rame bener dah kagak kayak biasanya" bingung Cecep.
__ADS_1
"Namanya juga rumah sakit internasional ngab"
"Iya juga sih, ngomong-ngomong lo tau nggak siapa yang punya rumah sakit ini?" keduanya terus mengobrol tanpa sadar ternyata mereka sudah berada di depan pintu ruang operasi kakek Hasan.
"Gimana dok? apakah operasinya sudah dilakukan?" tanya Alvin sopan. Karena kebetulan sekali dokter baru saja keluar dari ruang operasi jadilah percakapan keduanya harus terhenti.
"Operasinya akan dilakukan 5 menit lagi, menunggu dokter bedahnya datang" jelas sang dokter yang bernama Arif tertera jelas di name tag sang dokter.
"Kami akan melakukan operasi ini sebaik mungkin, jadi tolong bantu kami dengan doa kalian, semoga operasinya berjalan dengan lancar" dokter Arif kembali bersuara.
"Amin" jawab mereka kompak, ternyata Fahmi, Eza dan Bagas ada disitu juga
"Kalau begitu kami masuk dulu dokter bedahnya sudah datang" ujar dokter Arif sambil berjalan masuk dengan dokter yang dimaksudnya tadi.
Mereka berlima terus berdoa yang terbaik untuk kakek Hasan selama operasi dilakukan, bahkan Eza yang sangat tegang sedari tadi dia mondar-mandir kesana-kemari tidak bisa diam sama sekali.
"Za lo napa? dari tadi gue liatin mondar-mandir aja" Fahmi angkat bicara, sudah tau sedang tegang seperti sekarang malah Eza tak bisa diem.
"Gue khawatir banget sama operasinya semoga lancar, Amin. Jadi untuk saat ini abaikan saya yang sedang mondar-mandir tak jelas ini" ucap Eza berbicara formal.
"Ya dah, susah amat jadi gue serba salah mulu perasaan"
"Baru nyadar Za" sahut Alvin dan Cecep, keduanya nyengir bersama.
"Hmmmmmmmmmm, banyak-banyak. Serius dulu napa ini lagi genting" ujar Eza sok tegas.
"Lak kan yang mulai lo Za" sahut Alvin.
"Lah kok gue" menunjuk diri sendiri. " Yang mulai pertama itu noh" Eza menunjuk Fahmi sambil menatap Fahmi dengan tajam, tapi Fahmi tak peduli dia masih fokus pada pekerjaannya, entah apa yang dilakukan Fahmi terus mengotak-atik layar hp nya.
Dua jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah yang kusut namun terlihat lega.
__ADS_1
"Gimana operasinya dok?" tanya Bintang dan Alex secara tiba-tiba saat dokter keluar dari ruang operasi.
Entah datang dari mana kedua orang itu bahkan sudah langsung berada di hadapan dokter Arif, untung saja dokter Arif tidak kaget, karena kedatangan dua orang itu sungguh sangat tiba-tiba sekali.
"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar" jawab dokter Arif dengan senyum sumringah.
"Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat" ujar dokter Arif. "Tolong salah satu dari kalian ikut saya ke ruangan saya" ucap dokter Arif lagi, lalu berlalu pergi dari hadapan mereka diikuti Fahmi dibelakangnya.
"Lo berdua tiba-tiba dateng asal nyosor aja itu mulut untung dokter Arif nggak jantungan" ucap Cecep sambil bangung dari tempat duduk nya.
"Hehe namanya juga orang khawatir bang" sahut Bintang dengan santainya.
Mereka semua berjalan mengikuti brankar yang digunakan untuk tempat berbaring kakek Hasan, menuju ruang inap pasien.
Alvin sedari tadi pikirannya terus berkelana pada kejadian tiga jam lalu saat di rumah sakit. Alvin yakin betul jika yang dilihatnya tadi benar-benar sang papa, tapi entah kenapa jika ada yang membisikan bahwa yang dia lihat tadi pagi bukan sang papa.
"Kakek kapan bangunnya sus?" tanya Bintang penasaran.
"Nanti beliau akan bangung sendiri, saat ini beliau sedang dalam pengaruh obat tidur" papar suster yang sedang memeriksa kembali keadaan kakek Hasan.
Alex menghampiri Alvin yang duduk di sofa ruang inap kakek Hasa. Alex menepuk pundak Alvin sedikit kuat.
"Ada masalah bro?" Alex paham betul raut muka Alvin yang menurut Alex sama sekali tidak bisa menyimpan masalah yang baru saja dia alami.
"Nggak papa kok Lex, cuman lagi bersyukur aja akhirnya operasi kakek Hasan berjalan lancar" jawabnya.
"Yakin?" tanya Alex sekali lagi. Alvin mengangguk yakin. "Ok"
Bukannya Alvin tidak ingin cerita pada Alex tapi menurutnya ini bukan waktu yang tepat membicarakan masalahnya.
Sementara itu Fahmi sedang fokus mendengarkan penjelasan dari dokter Arif, tentang apa saja makanan yang boleh dikonsumsi kakek Hasan, dan hal-hal apa saja yang boleh dilakukan oleh kakek Hasan pasca operasi, Fahmi menyimak penjelasan dokter Arif dengan saksama dan hati-hati dia takut salah.
__ADS_1
"Bagaimana kamu paham kan dengan apa yang saya jelaskan?" ujar dokter Arfi.
"In Sya Allah dok dan terima kasih banyak" ujarnya, lalu setelahnya kedua orang itu saling berjabat tangan.