Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
56. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Melihat semua temannya sudah tertidur pulas Alvin memutuskan untuk kembali ke rumah sakit internasional, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya tentang sang mama yang entah sedang sakit apa saat ini, Alvin memeng belum tahu jika yang dirawat mama nya atau bukan, tapi dia sangat yakin jika itu sang mama. Alhamdulilah nya  rumah sakit internasional buka 24 jam.


Setelah mengucapkan salam secara pelan Alvin segera bergegas menuju rumah sakit internasional dengan motor sport kesayangannya.


"Ya Allah semoga mama baik-baik aja, amin" Alvin terus berdoa dalam hatinya.


Untuk saat ini siap tidak siap Alvin akan tetap menemui sang papa dan akan menanyakan apa yang sebenarnya sudah terjadi selama 3 tahun lebih ini, kenapa mereka tak pernah menemui Alvin sekalipun, bahkan memberikan kabar pun tak pernah selama 3 tahun lebih padahal Alvin masih membutuhkan kasih sayang mereka sampai kapan pun, Alvin akan membutuhkan kasih sayang dari mereka, walaupun nanti dia sudah berkeluarga, kasih sayang mama dan papa nya selalu dia butuhkan.  


Setelah menempuh hampir 35 menit perjalanan akhirnya Alvin sampai juga di depan rumah sakit Internasional, tanpa buang-buang waktu lagi Alvin segera menuju ruang rawat mama nya yang baru Alvin ketahui tadi sore. Walaupun belum yakin jika yang dirawat mama nya, tapi hatinya menagtakan iya jika mama nya lah yang sedanga dirawat


Tak disangka padahal tadi sore Alvin baru saja dari rumah sakit ini, tapi sekarang di tengah malam pun dia masih berada dirumah sakit internasional padahal jam sudah menunjukan pukul 2 : 30 malam.


Alvin memutuskan untuk langsung masuk ke dalam ruang rawat itu, tapi sialnya ruang rawat tersebut dikunci, Alvin yakin sekali jika yang dirawat di dalam adalah sang mama.


"Kenapa harus dikunci segala" kesal Alvin.


"Ayo Vin lo pasti bisa cari cara lain buat bisa masuk ke dalam" ujarnya pada diri sendiri sambil memikirkan cara untuk bisa masuk ke dalam ruangan yang ada di depannya.


Alvin yang terus berpikir bagaimana caranya agar pintu terbuka menyadari satu hal jika pintu terkunci dengan tombol.


"Paki kata sandi? baiklah kita coba sebelum ada yang curiga" dengan sekali tekan sebuah sandi tanggal ulang tahunnya pintu itu terbuka secara otomatis. Alvin sangat paham dengan sifat kedua orang tuanya pasti akan menggunakan tanggal ulang tahunnya saat menyembunyikan sesuatu yang rahasia dengan sandi.


"Alhamdulillah berhasil" Alvin segera berjalan menuju brankar yang tersedia di ruang rawat itu.


Saat itu juga tubuh Alvin mematung ketika mengetahui siapa orang yang sedang berbaring di atas brankar.

__ADS_1


"Mama" ucap Alvin keluh, air matanya menetes begitu saja saat mengetahui orang yang paling dia sayang sedang berbaring tak berdaya dan tak sadarkan diri di atas kasur rumah sakit.


Sementara itu di luar ruangan ada dokter dan beberapa orang yang berjalan cepat menuju kamar rawat mama Alvin begitu juga dengan Diandra papa Alvin. Karena ada pemberitahuan jika ada orang lain yang masuk ke dalam kamar rawat Dina.


"Mama, mama kenapa" ucap Alvin paruh sambil mendekat ke arah mama nya, dengan tubuh yang sudah sangat lemas bahkan Alvin rasanya tak mampu menopang tubuhnya sendiri.


"Mamaaa!"


"Siapa yang masuk ke dalam sini? tanpa seizinku" ujar Diandra dengan suara lantang. Bersamaan dengan itu tubuh Alvin jatuh terperosok karena dia sudah tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.


"Bruk…"


"Astagfirullah" spontan semua orang langsung beristighfar saat melihat tubuh Alvin sudah tak berdaya.


"Alvinnn…!" dengan segera Diandra memapah tubuh anak laki-lakinya itu.


"Alvin kenapa kamu bisa tahu nak, maafkan papa ini semua atas permintaan mama" sesal Diandra.


"Dok tolong periksa keadaannya dulu" ujar Diandra sambil mengelap pelupuk matanya yang berair.


Entah apa yang terjadi pada mama dan papa Alvin, kenapa hal sepenting ini Alvin tidak tahu dan kenapa mereka menyembunyikan semua ini pada Alvin selama tiga tahun lebih, apakah ada alasan lain sehingga mereka tega tidak memberikan kabar pada Alvin hanya Diandra dan Dina yang tahu semua itu, entah Diandra akan jujur atau tidak pada Alvin nantinya.   


"Gimana keadaannya dok?" tanya Diandra khawatir.


"Dia mengalami syok berat" ujar dokter.


"Kemungkina besar semua ini terjadi saat dia melihat keadaan ibu nya yang sedanga berbaring tak berdaya di ruang tadi sehingga mengakibatkan Ketidakmampuan pembuluh darah untuk mengalirkan darah. Ketidakmampuan jantung untuk memompa darah  kurangnya darah untuk dialirkan" jelas dokter.

__ADS_1


"Keadaannya melemah karena darahnya tidak mengalir dengan baik"


"Tolon"


"Apa maksud dokter" ujar Eza dan Alex secara bersama padahal Diandra baru saja akan angkat bicara, entah datang dari mana dua anak manusia itu, dikira anak setan kali ya.


Ternyata tanpa Alvin sadari sedari tadi Eza dan Alex terus mengikutinya, yang membuta mereka heran kenapa Alvin pergi ke rumah sakit Internasional, setelah mendapat jawaban mereka malah menemukan fakta yang tidak enak Alvin sedang mengalami syok berat padahal berapa jam yang lalu Alvin masih tertawa bersama mereka.


"Kalian siapa?" tanya Diandra dan dokter.


"Om tau pasti siapa kita yang penting sekarang kenapa Alvin bisa mengalami syok berat?" tanya Eza yang mulai emosi.


Bagimanapun juga Alvin sudah seperti kakak sendiri bagi Eza. Dia sangat menyayangi Alvin bahkan berkat Alvin dia bisa memiliki banyak teman dan bisa tahu apa arti kehidupan yang sebenarnya.


"Eza tahan emosi lo" peringat Alex, mau bagimanapun juga mereka harus sopan pada yang lebih tua.


Belum sempat mereka menjawab pertanyaan yang Eza lontarkan suara dari ruang Alvin membuta mereka semua masuk ke dalam ruangan itu secara bersama.


"Mama, mama" Alvin terus memanggil nama mama nya dengan tubuh yang dipenuhi keringat dan sekujur tubuhnya gemetar.


"Mama" Alvin terus menyebut satu kata tanpa membuka mata, sepertinya Alvin sedanga mengigau.


"Ini untuk pertama kalinya gue ngeliat lo selemah ini Vin, bahkan lo selalu terliaht kuat saat sadar padahal cobaan yang menimpa lo sangat berat, gue tau lo selalu mengharapkan mama papa lo pulang tapi bahkan kabar pun lo nggak pernah tau" ujar Alex.


Mendegar kata-kata yang keluar dari mulut Alex membuat Diandara merasa sangat bersalah, nyeri dihatinya terus menajalar samapi keulu hati.


"Tapi setelah 3 tahun lebih lo nggak ketemu mereka akhirnya lo ketemu Vin, tapi kenapa pas ketemu lo malah tak berdaya seperti ini. Lo orang baik Vin, gue,Alex dan mereka semua mengharkapan lo Vin kita semua masih butuh lo Vin, jadi tolong berjuang" tambah Eza.

__ADS_1


Lagi-lagi Diandara merasa sangat bersalah atas semua yang menimpa pada anaknya seharusnya dia tidak menutupi semua ini selama tiga tahun, seharusnaya hari itu dia memperbaiki semuanya dan mencari keberadaan Alvin, pasti semua ini tidak akan terjadi bahkan sekarang bukan hanya istrinya yang berbaring tak berdaya di rumah sakit itu tapi juga putranya.


Ya hanya beberapa menit saja tubuh Alvin sudah ngedrop 


__ADS_2