
Bismillahirohmanirohim.
Setiap manusia memiliki kisah hidup masing-masing, begitu juga dengan Bagas dia memiliki kisah hidupnya sendiri, sedari kecil hanya tinggal sendiri tanpa kedua orang tua, tentu saja Bagas merasa sangat kaget ketika sudah beranjak dewasa ada orang yang mengaku sebagai kedua orang tuanya.
Terlebih lagi Bagas sedari bayi tidak pernah melihat kedua orang tuanya walaupun hanya sekedar foto dia tak pernah melihat wajah orang tuanya, bahkan siapa orang tuanya saja dia tidak tahu.
Saat ini setelah beranjak dewasa ada orang yang mengaku sebagai orang tuanya, senang tentu bahagia pastinya jika mereka benar-benar orang tuanya, siapa yang tidak ingin bertemu dengan orang tua sendiri, tapi dibalik itu semua pasti ada rasa kecewa yang amat sangat mendalam yang Bagas rasakan. Tapi kenapa mereka baru mencari dirinya saat sudah beranjak dewasa.
Bagas masih belum mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat ini, bukankah dia dan Eza hanya pergi keluar untuk refreshing, kenapa dirinya malah terjebak di situasi seperti ini.
Dengan kedua orang tua Leo, yang mengaku sebagai orang tuanya juga.
"Ibu dan bapak maaf banget sebelumnya tapi saya memang sudah tidak punya orang tua dari kecil" ucap Bagas sopan, entah kenapa hatinya merasa sakit sekali saat berkata seperti itu di depan dua orang ini.
"Situasi macam apa ini" batin Eza yang melihat mereka semua sedang menyimpan rahasia satu sama lain.
"Bisa kita bicara sebentar disini?" Leo yang mengerti jika kedua orang tuanya belum sanggup menjelaskan pada Bagas akhirnya angkat bicara.
"Lo mau ngajak temen gue ribut" dengus Eza yang tak terima mendengar ucapan Leo, apalagi Leo berkata seperti orang yang mengajak berperang, Eza paham betul bagaimana watak ketua geng atlas itu, walaupun Eza tidak pernah bersama Leo.
"Za sabar dulu, dengerin dulu orang ngomong" tegur Bagas.
"Habisnya dia kayak ngajak berantem Gas"
Leo tak berminat untuk melayani Eza, dia hanya menunggu jawaban yang diberikan oleh Bagas.
"Oke kita bicara" putus Bagas.
__ADS_1
"Gas!"
"Za lo tenang aja ok! kita dengerin dulu apa yang mau mereka omongin"
"It's okay"
Pada akhirnya Bagas dan Eza ikut bergabung di meja, keluarga Leo. "Boleh kita makan malam bersama dulu sebelum suami saya bicara hal yang penting pada nak Bagas?" pinta Anye, rasanya dia ingin sekali makan malam dengan putra sulungnya, walaupun hanya sekali saja.
Bagas tak tau harus bagaimana dia hanya menyetujui apa yang Anye katakan.
"Gue nggak nyangka kalau Bagas kakak gue, gue bener-bener bukan adik yang baik. Gue udah ngebuat Bagas merasa sakit hati, tapi kenapa kami dipertemukan dengan cara seperti ini, yang ternyata dia kakak kandungku sendiri" batin Leo, entahlah kenapa dia merasa menjadi seorang yang sangat bersalah.
Selesai makan Andi langsung membuka suara untuk menyampaikan semua kenyataan yang harus Bagas ketahui, kenyataan pahit mungkin yang akan Bagas rasakan ataukah kenyataan manis yang selama ini Bagas tunggu-tunggu.
"Nak Bagas apa yang tadi istri saya katakan benar jika kamu anak kami, ini bukti-buktinya" Andi menyodorkan beberapa fakta yang mengatakan jika Bagas anak mereka. Bukti yang tidak dapat Bagas kilah, karena semua bukti yang diberikan Andi benar tentang dirinya.
Andi segera menjelaskan semuanya pada Bagas sama seperti dia menjelaskan itu pada Leo saat di rumah.
"Kamu tau Kusuma itu nama yang diberikan mamamu, nama itu ada di dalam kalung tersebut" ujar Andi sambil menunjuk kalung yang dikenakan oleh Bagas.
Ya selama ini memang Bagas selalu memakai kalau yang kini berada di leher putihnya, dia tak pernah sekalipun melepaskan kalung itu dari lehernya sedari dulu.
"Entahlah gue harus merasa senang atau bagaimana, tapi rasa kecewa itu pasti ada" batin Bagas.
"Boleh saya meminta waktu untuk memikirkan semua ini" ucap Bagas, tidak ada emosi sama sekali yang dikeluarkan Bagas dia memang pintar mengelola emosinya.
"Baiklah nak itu hak kamu, tapi boleh kah papa memelukmu" ujar Andi. Bagas tidak dapat berbuat apa-apa dia hanya mengangguk.
__ADS_1
Andi langsung memeluk Bagas kalau sudah mendapat persetujuan dari pemilik tubuh itu. "Maaf, maafkan papa, belum bisa menjadi papa yang baik buat kamu" air mata Andi sudah menetas membasahi pipinya. Bagas tidak dapat berkata apa-apa dia hanya dia sambil membiarkan Andi memeluknya.
"Mama juga boleh peluk lagi" ujar Anye setelah Andi melepaskan pelukannya pada Bagas. Lagi-lagi Bagas hanya mengangguk. "Mama kangen kamu Bagas, setiap mama tidak sengaja bertemu denganmu ingin sekali mama memelukmu, tapi apalah daya mama hanya seorang ibu yang tidak baik, mama menelantarkan anak mama sendiri bahkan sampai dia sukses dan beranjak dewasa, hikk…hikk….! mama mungkin nggak pantes dapat maaf dari kamu" ujar Anye dia merasa sangat bersalah pada Bagas.
Sakit sekali hati seorang Bagas mendengar wanita yang mengaku mama nya itu berbicara demikian, seakan tubuhnya merespon ucapan sang mama Bagas merasa tak tega membalas pelukan Anye pada dirinya.
Anye tersenyum senang karena Bagas membalas pelukannya. "Mama" kata-kata yang keluar dari mulut Bagas membuat mereka semua merasa bahagia.
"Gini rasanya dipeluk mama" ucap Bagas lirih.
Deg….
Entah kenapa Eza yang mendengar ucapan Bagas merasa iri dia juga ingin dipeluk oleh sang mama, Eza sadar semenjak dia sudah beranjak dewasa tidak ada lagi perhatian untuknya bahkan sedari dia kecil.
Setelah Anye melepaskan pelukannya pada Bagas, kini Leo telah berdiri di depan Bagas dia tidak tau apa yang harus dia lakukan.
"Maaf" hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulut Leo dia sudah sangat sering sekali menyakiti Bagas, terlebih lagi Leo telah memisahkan Bagas pada orang-orang terdekatnya dulu, seperti Lia dan Yudi. Yudi yang merupakan sahabat Bagas harus menyakit Bagas atas keinginan Leo dia juga membuat Bagas jelek dimata orang lain.
"Terus kalau Bagas bukan kakak lo, lo kagak bakal minta maaf gitu" sahut Eza ketus Leo tidak dapat berbuat apa-apa, karena memang dia salah.
"Za jangan mulai dah"
"Dan buat lo Leo gue udah lupain semua hal yang lo lakuin ke gue, karena nggak baik menyimpan dendam. Tapi untuk hal yang saat ini maaf gue butuh waktu" ucap Bagas.
"Boleh kami permisi" ucap Bagas lagi. Andi dan Anye hanya bisa membiarkan Bagas pergi, karena mereka merasa tak pantas untuk menghalangi Bagas. Bagas berhak atas pilihanya sendiri.
__ADS_1