Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
50. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Bintang, Alex dan Bagas baru saja sampai di depan pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di kalangan anak muda maupun usia tua di kota mereka, ya apalagi kalau bukan mall internasional.


Jadi di mall internasional itu lengkap semuanya, mall internasional di kota Jakarta tempat Alvin dan yang lainnya tinggal, memang menjadi pusat perbelanjaan dalam maupun luar negeri yang sangat terkenal.


"Kita mau cari apa kesini?" Bintang menoleh pada Alex juga Bagas untuk mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


"Kita mau tidur Tang disini!" dengus Bagas.


"Namanya pergi ke mall ya belanja lah, masa iya numpang ngising, tapi bisa jadi sih numpang ngising doang"


"Kok lo tau bang, jangan bilang lo pernah numpang ngising di mall" tuding Bintang.


Bagas menatap tajam Bintang. "Hello sadari diri ya adek ganteng adek cantik, yang pernah ke mall cuman numpang ngising doang itu lo" 


"Ribut aja terus!" Alex pergi meninggalkan Bintang dan Bagas yang sedang berdebat masalah perngisingan yang tidak ada faedahnya sama sekali.


"Bang tungguin kita napa" teriak Bintang yang masih berdiri di dekat mobil, sedangkan Bagas sudah menyusul Alex.


"Jalan pake kaki Tang! bukan pake mulut" Bagas berjalan masih menghadap Bintang sambil berteriak sedikit keras.


"Iya! bawel banget dah jadi laki!" umpat Bintang, dengan sedikit berlari Bintang menyusul Alex dan Bagas yang sudah masuk ke dalam mall.


"Jadi kita mau beli apa bang kesini?" Bintang sudah berhasil menyusul Alex dan Bagas.


"Masih nanya lagi lo? beli apa yang lo butuh" rasanya Alex mau marah, tapi bagaimana mau marah, karena dia tahu Bintang tetaplah Bintang, akan terus berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Terus bertanya jika belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Kita makan aja dulu lah, laper nih gue dari tadi" ajak Bagas akhirnya.


Sesuai dengan permintaan Bagas, disinilah mereka bertiga sekarang, di restoran berukuran sedang yang terdapat di dalam mall. Restoran  sedang yang mereka kunjungi bernama Berkah somplak.


"Ngapain makan disini sih bang?"


"Promosi biar banyak yang makan disini, ada yang gratis ya dimanfaatin jangan buang-buang duit cuman makan doang" jawab Bagas lugas.


"Makan kok di restoran sendiri, orang itu makan di restoran orang lain, biar keuangan berjalan dan juga kita sudah secara tidak langsung membantu mereka, karena membeli makanan yang mereka jual" papar Bintang panjang lebar. 


"Iya!" jawab Alex dan Bagas kompak, tumben sekali si Bintang ngomong panjang lebar ada faedahnya.


"Untuk sekarang kita makan disini dulu ya Tang!" bujuk Bagas.


Mau membantah toh percumah ya jadinya ikuti saja apa kata yang lebih tau. Di mall internasional Jakarta memang Alvin sengaja membuka satu restoran sedang disana. Maksud Bagas dan Alex makan di restoran sendiri itu karena mereka ingin memantau keadaan restoran disana. Restoran Barokah somplak memang termasuk baru dibuka di mall internasional.


Sementara itu…


"Le, kita makan dulu ya" ajak Lia. Dia dan Leo sudah selesai berkeliling mall, lebih tepatnya Leo menemani Lia berkeliling mall.


"Iya mau makan dimana?" tanya Leo lembut.


"Ada restoran baru katanya di mall ini, menunya enak-enak dan harganya pas dikantong anak muda, kesana yuk" Lia menarik tangan Leo agar mau ikut dengannya.

__ADS_1


"Memangnya kamu tau dimana tempatnya?"


"Tau lantai empat" jawab Lia cepat.


Sampai di lantai 4 Lia langsung mencari restoran yang direkomendasikan oleh teman-temannya.


"Nah ini dia tempatnya, ayo Le masuk"


Lia dan Leo segera mencari tempat duduk, sambil menunggu pesanan mereka datang mereka berdua ngobrol biasa. 


Saat sedang mengobrol dengan Leo, Lia tak sengaja menangkap sosok yang dia kenal, sedang duduk berhadapan dengan dirinya, sedangkan Leo membelakangi tempat duduk orang itu.


"Bang Alex!" pekik Lia tak percaya, dia sedikit merindukan kakak tirinya itu.


Lia tidak tahu Alex bersama siapa yang jelas dengan dua cowok, Lia tidak jika salah satu dari mereka Bagas. Karena Bintang dan Bagas duduk menghadap Alex.


Mendengar teriakan Lia, Leo segera menoleh kebelakang. "Siapa?" tanya Leo penasaran.


"Abang Alex, abang tiri aku" jawabnya antusias.


"Le kita makan satu meja disana yuk" tanpa menunggu persetujuan dari Leo, Lia segera menarik tangan Leo.    


"Abang apa kabar?" tanya Lia.


"Alhamdulillah sehat kamu sendiri gimana?"


"Baik bang, kenalin ini Leo, pacar Lia"


Sepertinya Lia dan Leo belum menyadari keberadaan Bagas diantara mereka, untuk Bintang dia hanya fokus pada makanannya saja.


Lia tidak tahu jika Leo sangat tidak suka dengan geng somplak, tapi Lia juga belum tau jika Alex bagian dari geng somplak. Leo hanya menatap datar mereka semua. Sedangkan Alex dan kedua orang itu hanya bersikap biasa saja, seakan tidak ada apa-apa. Karena memang mereka tidak menyimpan dendam pada Leo. Leo saja yang terlalu berambisi ingin menghancurkan geng somplak.


"Bang kita boleh gabung kan?" 


"Gabung aja"


Tak berapa lama seorang karyawan mengantarkan pesanan Leo juga Lia di meja Alex.


"Selamat menikmati" karyawan laki-laki itu menyambut ramah tamu mereka.


"Ada bang Alex, bang Bintang sama bang Bagas, tumben kesini bang mau mantau ya jangan-jalangan" tebak Reno, seorang karyawan laki-laki yang baru saja tamat sekolah SMA.


"What! Bagas jadi dari tadi dia duduk disini!" heboh Lia. 


Gimana rasanya duduk satu meja sama mantan yang dikhianati oleh diri sendiri, mantan yang dipandang rendah, ternyata sekarang lebih baik dari sebelumnya. 


"Kagak kita numpang makan doang" akhirnya Bintang bersuara juga, dia tak menghiraukan Lia.


"Mumpung udah disini biar sekalian gue cek perkembangan restoran" Bagas pergi meninggalkan mereka semua yang disetujui Alex dan Bintang. Sekarang entah apa yang ada di dalam pikiran Leo dan Lia. Apakah Lia menyesal? entahlah.


***

__ADS_1


"Buset dan mobil udah kagak ada aja di parkir, gue gimana baiknya" Eza segera merogoh hpnya yang ada di dalam saku celananya lalu dia mengetik pesan di grup geng somplak.


Grup Berkah.


(Eza)


"Mobil dimana woi! gue mau balik" begitulah kira-kira pesan yang diketik oleh Eza.


(Alvin)


"!!!!"


(Fahmi)


"Serius lo mobil kagak ada?" ikut heboh dia.


(Eza)


"Lima rius bang!"


(Cecep)


"Ketinggalan apa gue!"


(Bintang)


"Kata bang Alex sama bang Bagas. Abang-abang yang lainnya pulang nge grab atau nggak ngojek aja bang, soalnya mobilnya lagi kita pake" si Biang Kerok keluar juga ternyata.


(Bagas)


"Sorry"


(Alex)


"Nggak usah pada manja"


Nah lo si biang kerok yang sebenarnya keluar juga tak merasa bersalah kah dia, wkwkwkwk!


(Eza)


"Dah lah"


(Alvin, Fahmi, Cecep, Bagas, Bintang, Alex)


"Read"


"Nasib gini amat, nyesel gue kagak bawa motor sendiri tadi.


(Eza), Eza kembali mengetik sesuatu di hp nya. "Jemput gue sekarang bang! gue kasih waktu 10 menit, kalau 10 menit belum juga sampai, siap-siapa aja sih dapet hadiah tak terduga dari gue.


Membaca chat dari Eza. Alex segera kembali ke kampus tentu Bintang dan Bagas ikut serta.

__ADS_1


__ADS_2