
Bismillahirohmanirohim.
"Huh, panas, panas! panas-panas gini enaknya minum ape ya Tang?" tanya Eza sambil terus mengibaskan tangannya di depan muka nya sendiri dengan sedikit kuat.
"Panas, panas! panas-panas gini enak nya minum es dung-dung" sahut Bintang.
"Es dung-dung, oh es dung-dung dimana kamu berada" ujar Eza meneruskan kata-kata Bintang.
"Es dung-dung ada di warungnya" Bintang kembali menimpali perkataan Eza.
"Jangan kumat dah gilanya!" ucap Alex sambil menatap Eza dan Bintang aneh. Alex tidak habis pikir dengan kedua orang yang kini sedang duduk di sampingnya, kenapa pula ada orang seperti mereka. Tapi mau bagaimana lagi tidak mungkin sifat semua orang sama yang ada kacau lah dunia, paling tapi.
"Seet, gak baik ngomongin orang gila" ujar Eza.
"Yang ngomong gila siapa? kan gue ngomong kayak baru kayak" Alex mempertegas kata-katanya.
"Dah lah bang plis jangan ribut disini malu gue" mohon Bintang, Eza dan Alex menatap Bintang dengan tanda tanya.
"Kenapa?"
"Harusnya kita yang nanya sama lo kenapa Tang?" selor Eza.
"Tang, Tang dikira gue tang kali ya! gue ini namanya bagus-bagus Afka Bintang Saputra malah dipanggil Tang, jauh amat loncatnya" belum juga ada 5 menit Eza dan Bintang sudah mulai adu bacot lagi.
"Nah kan baru juga dibilang udah kumat lagi aja" sindir Alex.
Mereka bertiga sedang duduk bersama di taman kampus entah angin apa yang membawa mereka bisa bertemu secara bersama di taman.
Tadi Alex yang niatnya ingin membaca buku di taman kampus, tapi saking asiknya dia membaca buku, dirinya tidak sadar jika duduk bersebelahan dengan duo pembuat onar. Pindah malas tak pindah tak enak, jadi disinilah Alex berada diantara dua biangkerok. Jugan Alex heran tumben sekali mereka bisa akur, tapi tidak juga sepertinya tadi saja Bintang dan Eza masih terus adu bacot.
Bintang bangkit dari tempat duduknya. "Mau kemana Tang?" tanya Alex dan Eza bersama.
"Mau beli es cream bete disini duduk sama kalian berdua" dengus Bintang.
"Nitip!" ucap keduanya kompak.
"Nah lo, masalah titip menitip aja kompak kalian berdua bang" sinis Bintang. "Sini mau nitip apa?" ujar Bintang sambil menjulurkan satu tangan nya tanda meminta uang untuk membelikan titipan mereka. Tanpa banyak bicara Alex langsung mengeluarkan uang sebesar 50.000 ribu dari kantong celananya.
"Punya lo mana?" pinta Bintang pada Eza setelah menerima uang sejumlah 50.000 ribu dari Alex.
"Pake uang lo lah" ujar Eza santai. "Kalau nggak mau pake uang Alex" tambah Eza santai tanpa izin terlebih dahulu pada Alex.
"Ada ya orang kaya duit makan nebeng?" sindir Bintang.
__ADS_1
"Ada nih buktinya gue sendiri!" jawab Eza dengan bangga.
"Kaya tapi miskin. Gimana sih konsepnya tapi ya begitu lah Bang Eza! Orang kaya minta-minta"
"Sampai kapan lo mau terus ngoceh disitu?" Alex angkat bicara, dia menjeda sejenak kegiatan membaca bukunya demi untuk menegur Bintang yang terus nyerocos bak itik. Kalau tidak seperti itu mungkin Bintang akan beranjak dari tempat itu satu jam lagi bahkan bisa lebih.
"Heheh, iya bang ini mau berangkat" sahut Bintang dengan cepat, sedangkan Eza masih mengedarama agar tidak tertawa saat itu juga, kala melihat Bintang si tukang nantang menciut di hadapan Alex.
Tapi baru saja Bintang melangkahkan kakinya satu langkah, keningnya langsung disuguhkan dengan ciuman dari kaleng sprit yang sudah tidak ada lagi isinya.
"Astagfirullah, subhanallah" ucap Bintang spontan sambil mengelus keningnya yang mendapatkan hadiah dari botol sprit yang sudah kosong, entah siapa yang kurang kerjaan menendang botol sprit itu sampai mengenai kening mulus Bintang.
"Siapa sih yang nendang ni botol" kesal Bintang, baru saja dia hendak membuang sembarangan botol tersebut tapi beruntung Alex cepat mencegahnya, kalau tidak pasti ada korban lain selain Bintang.
"Buang tempat sampah" ujar Alex dingin.
"Iya bang" Bintang membuat botol sprit itu benar-benar pada tempatnya.
"Sama Alex aja nurut giliran sama gue ngajak ribut!" sindir Eza.
"Lo kan emang seneng ngajak orang bikin ribut bang"
Tiba-tiba Alvin dan Bagas entah datang dari mana sambil celingukan sana-sini seperti nyari sesuatu yang sangat berharga.
"Botol sprit" jawab Alvin dengan santainya, sedangkan Bintang sudah melotot tak
Percaya, dengan apa yang baru saja Alvin katakan, ah sepertinya mata Bintang akan berpindah tempat saat itu juga.
"Napa lo Tang, gitu amat ekspresinya? ada yang salah?" tanya Bagas sedangkan Alvin tak melihat hal itu karena masih pokus mencari botol sprit yang ternyata sudah Bintang buang ke dalam tong sampah.
"Itu botol sprit siapa tadi yang nendang?" tanya Bintang mengebu.
"Gue!" jawab Alvin lagi dengan santai.
"Dah lah" pasrah Bintang.
"Lah!" cengoh Bagas. "Kenapa Tang ada masalah?"
"Iya"
"Apa masalahnya?" kenapa Bagas jadi sangat kepo, entahlah.
"Masalahnya itu botol sprit kena kening gue, melayang sampek sini nih" Bintang berbicara sambil menunjukan keningnya yang sedikit merah.
__ADS_1
"Maaf Tang gue nggak sengaja" sesal Alvin, sepertinya kali ini Alvin sungguh-sungguh meminta maaf dengan tulus, tanpa adanya drama yang dia ciptakan.
"Iya bang gue maafin, tapi nggak tau sama jidat gue mau maafin lo tau nggak" ujar Bintang santai.
"Lagian kenapa coba nendang-nendang botol kayak nggak ada kerjaan lagi, untuk kena Bintang, kalau kena gue atau nggak dosen atau mahasiswa-mahasiswi lainnya gimana coba?" tumben sekali Eza bijak dalam berbicara. Walaupun tetap saja menaikan popularitas namanya di dalam geng nya.
"Lain kali hati-hati Vin" tambah Alex yang sedari tadi pokus membaca tapi masih mendengarakan ocehan mereka.
"Iya, maaf Tang sekali lagi gue beneran nggak sengaja" sesal Alvin, dia tidak berpikir jika nanti apa yang dia lakukan memakan korban.
"Iya bang, lah kok gini amat lo bang biasanya bodo amat" nah loh kumat kan mulut si Bintang.
"Makan kuy lah, pasti lo pada belum makan kan" ajak Bagas, kalau tidak seperti itu si Bintang akan terus nyerocos dengan bibir beo nya yang sama sekali tak bisa diam itu.
Alex bangkit dari tempat duduknya setelah selesai membaca satu buku dalam waktu singkat.
"Kemana?"
"Makan lah, tadi lo ngajakin makan" sahut Alex.
Akhirnya mereka berlima memutuskan untuk pergi makan di kantin kampus. Dan Bintang melupakan tujuan awalnya yang tadi mau membeli es cream, akhirnya tidak jadi karena kedatangan Alvin dan Bagas.
"Bang Fahmi sama bang Cecep masih sibuk?" tanya Bintang sedari pagi dia sudah tidak melihat keberadaan dua manusia itu.
"Iya namanya juga mau skripsi, entar lo juga ngerasai" ujar Alvin. Dan Bintang mengangguk mengerti
"Ngomong-ngomong entar lo pada udah pada selesai kuliah gue belum" sedih Bintang.
"Udah nggak usah sedih, nggak usah buat drama masih lama juga kita-kita lulusnya"
Tak berselang lama suara Fahmi dan Cecep terdengar di telinga kelima orang itu.
"Lo dapet dosen pembimbing skripsi siapa Mi?" tanya Cecep penasaran, mukanya terlihat sangat kusut sekali.
"Gue pak Galuh" jawabnya.
"Enak banget gue dapet ibu Dina" lemas Cecep, ibu Dina merupkan dosen yang terkenal sangat kiler di Universitas Negeri Jakarta dari dosen-dosen kiler lainnya dia yang paling kiler.
"Yang sabar Cep, yakin aja lo bisa dapet bimbingan baik dari beliau" nasehat Fahmi
"Iya Mi, amiin" seru Cecep.
"Woi bang Fahmi bang Cecep!" Bintang memanggil mereka dengan sedikit kencang beruntung orang-orang penghuni kantin tak perduli dengan teriakan Bintang.
__ADS_1
"Yuk ke meja merekan aja" ajak Fahmi pada Cecep. Keduanya segera menghampiri Bintang dan yang lainnya.