
Bismillahirohmanirohim.
"Ada apa rame-rame di gerbang kampus?" tanya Alex pada salah satu teman sekelasnya.
Alex baru saja selesai kelas yang diisi oleh dosen killer mereka, tapi saat keluar kelas suasana kampus sangat ricuh bahkan banyak para mahasiswa-mahasiswi yang melihat pandangan mereka ke bawah entah apa yang sedang mereka lihat.
Merasa ada yang bertanya padanya teman sekelas Alex, menoleh pada Alex yang masih setia berdiri di sampingnya untuk menunggu respon darinya.
"Itu geng Atlas lagi bikin ribut, cari geng somplak sih katanya denger-denger gitu" terangnya lalu kembali fokus pada objek yang ada dibawah.
Universitas Negeri Jakarta memiliki 6 lantai, Alex yang kelasnya berada di lantai 6 tentu saja dapat melihat apa yang sedang terjadi dibawah, melihat temannya ada disana dengan segera Alex menyusul mereka, ada seorang diantara geng Atlas yang mengusik matanya.
"Vin, ada apa?" tanya Alex saat sudah berada di dekat Alvin. Secepat kilat Alex sudah sampai di tempat Alvin dan teman-temannya yang lain.
"Entah lah Lex, mereka tiba-tiba datang dan mengacau disini, lalu meneriaki nama geng kita" jawab Alvin.
Ditempat itu hanya ada Alvin, Fahmi, Eza dan Cecep juga Bagas di tambah Alex, sedangkan Bintang sibontot entah kemana mungkin masih ada kelas. Tapi anehnya hari ini sepertinya dosen seakan tutup mata dengan apa yang terjadi di universitas negeri jakarta itu.
"Mau apa kalian kesini?" tanya Eza setenang mungkin, kebetulan sekali Leo berdiri tepat di depan Eza. Mata Eza sudah sangat merah karena menahan emosinya, entah kenapa melihat Leo saja sudah membuat dirinya emosi tanpa bisa dibendung.
"Menurut lo gue mau ngapain disini" ujar Leo terkekeh sinis pada Eza dan menatap keenam orang itu secara bergantian dengan tatapan meremehkan.
Sedangkan ditempat yang sama seorang gadis tengah mencari cara untuk bisa segera pulang, ada hal penting yang harus dia lakukan. Tapi orang-orang yang ada di bawah sana sangat menghambat dirinya.
"Ca aku pulang duluan ya" ucap perempuan itu pada temannya yang masih setia melihat pemandangan yang terjadi di bawah.
"Tapi gimana kamu lewatnya Kia" bingung sang teman.
__ADS_1
"Kamu tenang aja Ca, ada yang lebih penting daripada liatin orang-orang nggak jelas itu, aku duluan ya Ca" pamit gadis yang bernama Kia.
"Hati-hati Kia" ujar sang teman.
Di Bawah sana suasana kian memanas tapi, tetap saja tidak ada satupun dosen yang datang untuk segera membereskan kekacauan yang terjadi.
"Mbak Kia mau kemana?" tanya Bintang, entah tahu dari mana Bintang nama gadis yang ada di sebelahnya itu dengan jarak yang sedikit jauh, seingat Bintang dia gadis yang pernah ditabrak oleh Eza beberapa bulan lalu.
"Mau pulang" sahut Kia ramah.
"Tapi gimana pulangnya mbak, kan diluar lagi ada kekacauan yang terjadi" tanya Bintang sekali lagi.
"Ya udah kalau gitu beresin kekacauannya" ucap Kia enteng.
Kia dan Bintang sampai di depan geng Atlas dan geng somplak secara bersama, Kia menatap orang-orang itu dengan jengah tepatnya pada geng atlas kenapa coba harus mencari kericuhan di area kampus tidak tau tempat sama sekali, itu lah yang dipikirkan Kia.
"Tang dari mana lo? sama cewek lagi" tegur Fahmi.
"Lo kenal sama itu cewek?" tanya Bagas dan Cecep penasaran.
"Semua orang di kampus ini kenal kali sama mbak Kia kalian aja yang ketinggalan info, juga ya mbak Kia kan perempuan yang nggak sengaja ditabrak sama Eza dua bulan lalu" Bintang kembali menjelaskan.
Geng somplak dan geng atlas sudah sempat adu jotos beberapa kali, lebih tepatnya Leo dan Alvin, juga Kenta dan Eza. Ternyata Kenta orang yang ditunggu-tunggu oleh Leo akhirnya sudah kembali.
Para mahasiswa-mahasiswi yang ada di tempat itu hanya bisa menonton kekacauan yang terjadi. Mau bertindak juga mereka tidak berani, mereka tahu betul seperti apa kebengisan geng atlas.
Kia yang semakin mendesak oleh waktu, dia segera melewati Eza dan Alvin lalu dia melewati Leo dan Kenta, tapi baru saja Kia lewat di sebelah Leo. Leo langsung menahan pergelangan tangan Kia. Eza yang melihat hal itu sontak semakin emosi kenapa juga harus menyeret orang lain ke dalam masalah yang diciptakan geng atlas sendiri. Beruntung Alvin dapat mencegah Eza sebelum dia bertindak sembarangan.
__ADS_1
"Lepas!" ketus Kia sambil menarik kasar tangannya dari tangan Leo.
Selama ini Kia tidak pernah berani menatap laki-laki, tapi tindakan Leo diluar dugaannya kenapa dia juga diseret dalam hal ini.
"Lo salah satu cewek universitas negeri jakarta kan?" tanya Leo masih berusaha memegang tangan Kia. Tapi Kia dengan cepat menghindar
"Kenapa? kalau mau cari ribut tau tempat!, kamu kira ini tempat bebas!" tegur Kia dia berusaha keras untuk tidak tambah mengacau ditempat itu.
Mendengar ada orang yang berani menantangnya membuat Leo naik pitam apalagi dia seorang cewek, Leo kembali berulah dia hendak menampar Kia tapi lagi-lagi Kia dapat menghindar dengan cepat. Kejadian itu tidak luput dari pandangan Alvin the geng dan anggota geng atlas lainnya juga para mahsiswa-mahasiswi yang berada disana.
Terbukti apa yang dikatakan Alvin dua bulan lalu jika Kia, bukan gadis sembarangan dan tidak bisa digertak sedikitpun.
"Wow, mbak Kia hebat" suara Bintang yang tidak tahu tempat, hanya bisa membuat keenam temannya menggelengkan kepala.
"Masyallah Tang bukan wo" ralat Fahmi
"Tau situasi Tang!" tegur Cecep dan Bagas pula.
"Napa sih bang iri aja sama gue" pedenya kembali menjalar kemana-mana si Bintang, haduhh!.
"Lagi kamu sebagai cowok punya etika sedikit kenapa!" sengit Kia. "Jangan pernah ngeremehin cewek, dan jangan pernah ngerendahin yang namanya perempuan, ingat ibu kamu seorang perempuan dan satu hal lagi hukum alam itu ada! Saya juga tegaskan sekali lagi ini kampus! tempat menuntut ilmu bukan tempat tawuran kalau udah nggak ada perlu lagi jadi silahkan pergi dari sini" tegas Kia.
Setelah berkata seperti itu Kia segera pergi dari tempat itu, toh percumah meladeni mereka hanya membuang waktu saja. Tak lupa Kia terus beristighfar kalau saja dia tidak sedang buru-buru dia tidak akan turun sekarang dari lantai 4 dia tahu sekali jika keadaan di bawah sangat tidak baik, tapai karena buru-buru terpaksa dia mau tidak mau melewati orang-orang itu dan akhirnya terjadi perdebatan.
Eza menatap Kia dengan tatapan yang berbeda, ada tatapan kagum yang dia lihat pada gadis yang sudah sering kali bertemu dengannya tanpa sengaja.
"Istighfar Za" tegur Alvin.
__ADS_1
Karena merasa diremehkan oleh perempuan sekaligus merasa malu Leo dan kawan-kawan hendak beranjak tapi suara seseorang yang memanggil nama salah satu anggota gengnya membuat Leo kembali berhenti.
"Dimas Vernando!" teriak Alex, suara Alex yang lumayan besar dapat terdengar di setiap telinga orang-orang yang ada disana, bisik-bisik kembali terdengar kenapa Alex seperti sangat mengenal Dimas salah satu anggota geng atlas yang berpengaruh.