
Bismillahirohmanirohim.
Alvin memutuskan untuk kembali ke rumah sakit internasional tempat kakek Hasan dulu dirawat, dia ingin memastikan apakah benar orang yang dia lihat saat akan menemani operasi kakek Hasan waktu itu sang papa.
Bukan Alvin ingin orang tuanya kembali, dia hanya memastikan apakah benar yang dia lihat berapa minggu lalu sang papa. Mengharapkan kedua orang tuanya kembali rasanya sudah tidak ada harapan lagi bagi Alvin. Dia saja tidak tahu apakah mama dan papa nya masih ada ataukah sudah tiada. Tapi yang dia harapkan sampai detik ini dia berharap kedua orang tuanya baik-baik saja.
Alvin sudah sampai di rumah sakit internasional, Alvin segera menuju tempat dimana dia melihat sekilas sosok yang mirip dengan sang papa. Walaupun ada perasaan yang mengatakan jika itu bukan lah papa nya, karena dia hanya melihat dengan sekilas saja, tapi tetap saja rasa penasaran lebih mendominan pada diri Alvin.
"Rasanya gue beneran lihat papa waktu itu disini" gumun Alvin, sambil mengamati sekitar.
"Apakah dia benar papa? tapi kenapa berada di rumah sakit" batin Alvin.
Entahlah rasanya jika dipikir Alvin seperti orang yang mengemis, kenapa bisa dikatakan seperti itu, karena sejak hari itu kedua orang tuanya tidak pernah memberikan kabar apapun pada Alvin bahkan batang hidungnya pun tidak lagi terlihat.
Sedangkan Alvin sampai detik ini dia masih mencari keberadaan sang papa dan mama, walaupun rasa kecewa meliputi dirinya. Tapi berbakti terhadap kedua orang tuanya adalah kewajiban Alvin.
Alvin terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit mengikuti dimana kakinya membawa dirinya melangkah.
"Bagaimana perkembangannya doc?"
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin pak, kemungkinan kecil untuk ibu Diana sembuh" ucap dokter itu tak tega.
"Apapun itu saya mohon lakukan yang terbaik dok"
"Kami akan berusaha sebaik mungkin pak Diandra, kami mohon doa dari bapak" ucap pak dokter lagi, bagaimanapun dia seorang dokter harus meyakinkan keluarga pasien, agar pasien bisa kembali sembuh.
Alvin tak sengaja melihat dua orang sedang berbicara serius, dia mengenal salah satu dari dua orang laki-laki itu.
"Papa" ucap Alvin lirih. "Dan apa yang terjadi sama mama? mama kenapa?" Alvin terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Alvin memutuskan untuk pulang ke markas, dia belum siap jika harus menemui papa nya sekarang, dia juga belum siap menerima kenyataan apa yang telah terjadi pada sang mama. Alvin juga belum menyiapkan mental dan belum bisa menerima penjelasan apa-apa dari mama dan papa nya dengan lapang dada. Alvin hanya takut nantinya dirinya lepas kendali
"Mama kenapa? Kenapa papa sama mama nggak nyari Alvin beberapa tahun ini? apakah kematian adik Alvin, Alvin lah penyebabnya sampai mereka tak mau menemui Alvin lagi? tapi Alvin nggak pernah tau apa-apa" tak terasa air mata Alvin kembali terjatuh membasahi pipinya. Mengingat masa lalu yang sangat kelam sungguh sangat menyakitkan untuk Alvin.
__ADS_1
Saat grabcar pesanannya sudah sampai Alvin segera menghapus air matanya yang sudah menetes tanpa permisi, lalu dia masuk ke dalam mobil.
"Abis dari mana bang? tumben abis magrib baru ada di markas" kebetulan sekali Bintang sedang duduk di teras markas mereka. Alvin baru saja sampai di markas setelah dari rumah sakit tadi.
"Biasa" Alvin menjawab sambil berlalu masuk ke dalam markas, sebelumnya Alvin memang sudah mengucapkan sama.
"Hah! gitu doang responnya" cengo Bintang tidak percaya.
Daripada mikir orang lain lebih baik melanjutkan kegiatan yang dia lakukan. Entah apa yang sedang Bintang lakukan.
Sementara itu di ruang kumpul markas"Ges gue mau diskusiin sesuatu sama kalian" ucap Alex yang baru saja selesai membersihkan diri.
"Mau ngomongin apa Lex?"
"Gini kemarin ada bapak-bapak yang nawarin biar kita buka pengajaran mengaji buat anak-anak, gue sih mau aja tapi kalian gimana?"
"Bagus juga tu kayaknya" seru Fahmi.
"Gue sih setuju, gimana kalau kita giliran ngajar ngajinya" Cecep ikut bersuara.
"Boleh juga tuh saran Cecep" Bagas tak ingin ketinggalan.
"Lo kok diem aja Za? nggak setuju atau gimana?" tanya Bagas.
"Bukan gue kagak setuju sih, lebih tepatnya merasa tersindir, kena mental gue" batin Eza.
"Gue ngikut aja bang" pasrahnya.
"Apa yang ikut aja?" tanya Alvin dan Bintang kompak dari arah yang berlawanan.
Alvin baru selesai dari membersihkan diri sedangkan Bintang baru saja selesai mencari angin di luar.
"Ini kata si Alex kemarin ada bapak-bapak yang usul biar kita buka pengajaran mengaji buat anak-anak disini" jelas Fahmi.
__ADS_1
"Bagus dong itu bang" tumben sekali rasanya Bintang mendukung kebaikan. Wkwkw!
"Jadi rencananya gimana?" tanya Alvin.
"Kalau kata bang Cecep tadi sih bergiliran aja kita ngajarnya" sahut Eza.
"Gue kira lo nggak nyimak Za"
"Gini-gini juga pendengaran gue masih sehat walafiat bang Fahmi!" dengus Eza tak terima.
Mereka tak menghiraukan Eza si tukang tak terimaan. "Gimana kalau misalnya kita bergilir tapi dengan pengajaran berbeda. Misalnya bang Fahmi ngajar Alquran. Alex tajwid dan seterusnya, tinggal kita dapat bagian apa aja" usul Alvin.
"Boleh juga tu Vin, seenggaknya mereka nggak cuman diajarin Alquran doang tapi juga hadist-hadits dan akhlak" sahut Cecep.
Mereka akhirnya menyetujui usulan Alvin dan Cecep.
Pembagiannya untuk Bagas dan Bintang mereka yang akan mengajar anak-anak Al-Quran, sedangkan Fahmi tajwid, Hadist diisi oleh Cecep karena dia termasuk paham akan hadist-hadist walaupun tidak terlalu banyak. Alvin mendapat bagian untuk mengajari anak-anak tentang akhlak. Untuk Alex dan Eza dia akan memberikan penjelasan fiqih.
"Jadi kita mulai kapan pembukaannya?" tanya Fahmi, dia harus meminta persetujuan dari teman-temannya tidak mungkin memutuskan sepihak.
"Gimana kalau hari rabu?" usul Cecep.
"Kenapa harus hari rabu bang?" si Bintang kebiasaan mulai tumbuh kembali ditanya malah balik bertanya.
"Hari rabu hari yang baik untuk memulai belajar".
"Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa Allah SWT menciptakan cahaya pada hari tersebut, dan "al-ilmu nuurun” ilmu adalah cahaya"
"Oleh karenanya untuk mendapatkan kesempurnaan belajar, hendaklah memulainya pada rabu. Jadi gimana pada setuju hari rabu?"
Mereka semua mengangguk setuju. "Berarti kita tinggal umumin aja sama warga nanti, kalau nggak pasang poster di depan markas" Bintang menyampaikan pendapatnya.
"Nggak usah, tinggal ngomong sama pak Yahya ketua RT disini, soalnya juga pak Yahya sendiri yang ngusulin semua ini ke gue kemaren" sahut Alex.
__ADS_1