
Bismillahirohmanirohim.
Selepas sholat isya acara syukuran pun segera diadakan, lumayan banyak orang yang datang diacara syukuran malam ini.
Mereka memulai acara syukuran dengan kalimat-kalimat Allah terlebih dahulu, sebelum membaca yasin dan surah-surah pendek lainnya, tak lupa pula mereka memberi salam pada baginda agung Muhammad SAW yang telah membimbing kita dari zaman yang gelap menuju zaman yang terang ini.
Setelah puji-pujian dan lantunan doa juga pembacaan yasin selesai mereka semua memulai acara makan-makan, semua kegiatan dipimpin oleh kakek Hasan sendiri, tak hanya makan di markas geng somplak beberapa warga yang datang juga mereka bekali oleh-oleh untuk orang rumah.
Bintang yang baru saja kembali saat waktu isya terlihat berada diantara tamu yang datang dia dijepit di tengah-tengah tamu yang berdatangan. Alvin dan yang lainnya memang sangat terkenal di halaman sekitar markas mereka, karena keramahan dan kebaikan yang mereka lakukan pada saksama.
"Terima kasih banyak bapak-bapak semua sudah menyempatkan diri datang diacara syukuran ini" ujar Alex tersenyum. Dia dan Bintang sedang bertugas untuk mengantar para tamu pulang sampai di depan pintu markas.
"Sama-sama nak, kalian memang anak-anak muda yang patut dicontoh, ah kalau boleh usul bisakah kalian membuka pengajaran mengaji untuk anak-anak" ujar seorang bapak-bapa yang kebetulan sekali dia keluar paling terakhir dari yang lainnya.
"Ah, kalau itu In Syaa Allah pak, nanti saya diskusikan dengan yang lain" jawab Alex.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu terima kasih banyak, Assalamualaikum" pamit sang bapak sambil memakai sandalnya.
"Waalaikumsalam" jawab keduanya kompak, setelah dirasa tidak ada lagi tamu Bintang dan Alex kembali masuk ke dalam markas, ternyata mereka semua sedang membereskan bekas-bekas makan.
Mereka tidak membiarkan sampah berserakan dimana-mana, juga tak ada satupun lagi piring kotor semuanya mereka bersihkan dengan sangat baik.
"Alhamdulillah kelar juga akhirnya" syukur Eza yang sudah duduk dilantai dengan beralaskan tikar diikuti oleh semua beberapa temannya.
"Nggak kerasa ternyata capeknya kalau kerja bareng-bareng" imbuh Bintang.
"Kayak pernah beresin markas sendiri aja" sahut Bagas, sambil mengibaskan tangannya di udara.
__ADS_1
"Nggak sih"
"Ya lo mana pernah beresin markas Tang, yang ada berantakan markas baru benar" sahut Eza yang baru saja bergabung dengan yang lainnya.
"Kayak situ pernah aja beresin markas sendiri" selor Bintang.
"Heran dah sama ni anak dua berantem terus kerjanya" ujar Fahmi, dia juga baru bergabung dengan yang lainnya, karena tadi Fahmi dan Alvin mengantar kakek Hasan untuk istirahat.
Eza dan Bintang langsung bungkam kala melihat Fahmi datang dan mendapatkan tatapan tajam dari Alex.
"Mending pada istirahat gih, ingat disini ada kakek Hasan jangan ganggu istirahat orang nggak baik" Fahmi mengingatkan mereka, ah mungkin lebih tepatnya mengingatkan Bintang, Eza dan Bagas, karena hampir setiap malam mereka selalu begadang hanya untuk mabar, biasanya juga Cecep ikut tapi sudah beberapa minggu ini dia tidak lagi bermain, mungking sadar akan umur atau lebih tepatnya tak ada waktu karena sangat sibuk sekarang.
"Iya bang" jawab mereka kompak, setidaknya mereka harus menghargai seorang tamu.
"Tidur dimana padaan?" tanya Cecep.
"Disini aja yuk bang, rame-rame biar seru" usul Bintang. Bintang mengajak mereka semua tidur di depan televisi.
Akhir mereka memutuskan untuk tidur di depan televisi, tentu saja sudah ada permadani yang tebal juga bantal yang mereka bawa masing-masing.
Alvin yang baru saja keluar dari kamar kakek Hasan segera ikut bergabung dengan mereka yang sudah terlelap tidur, tapi sayang baru saja Alvin akan merebahkan dirinya sudah dicegah terlebih dahulu oleh Bintang diikuti Fahmi yang juga terbangun, sedangkan yang lainnya sudah tertidur pulas, mungkin sudah bermimpi masing-masing.
"Kenapa Tang? ngapain juga kalian bangung bareng?"
"Nggak Kenapa-napa Vin. Kalau bangun bareng mungkin kebetulan aja" sahut Bintang.
Tiba-tiba saja Bintang teringat pesan sang mama dan papa, untuk mengatakan pada Fahmi jika mereka menunggu kepulangan Fahmi.
__ADS_1
"Bang" panggil Bintang pada Fahmi. "Ada yang mau gue omongin" tambahnya lagi.
"Kalau mau cerita atau curhat jangan disini kasian yang lain" ujar Alvin yang melihat pergerakan dari Bagas.
"Ikut gue" mereka berdua mengikuti langkah kaki Alvin yang ternyata berhenti di ruang santai.
"Sekarang kalau mau ngomong, ngomong lah" setelah berkata seperti itu dengan santainya Alvin duduk di sofa yang sudah tersedia.
"Bang tadi gue pulang ke rumah, terus ketemu papa sama mama, mereka ingin abang pulang, mereka menunggu abang pulang" ujar Bintang, dia lega, karena sudah menyampaikan pesan dari papa dan mama nya.
"Mereka juga nunggin abang" tamban Bintang.
"Boleh gue tanya sesuatu?" Fahmi tidak segera menjawab ucapan Bintang. Dan sayangnya Bintang juga tidak bisa membaca ekspresi dari wajah Fahmi.
"Silahkan bang" ujar Bintang, Alvin masih ada diantara kedua orang itu, dia hanya diam saja tak membuka suara tapi mengamati dengan seksama apa yang sedang dibicarakan oleh Bintang dan Fahmi.
"Kenapa mereka baru mencari keberadaan gue sekarang?" tanya Fahmi dengan menahan rasa yang amat sesak di dadanya.
"Abang salah, bahkan sejak hari itu sampai detik ini mereka masih terus berusaha mencari keberadaan abang, begitu juga dengan gue, sejak gue udah berumur 15 tahun, gue udah memiliki tekad untuk menemukan abang, karena gue ingin abang hidup bersama kami, apalagi cinta sang ibu begitu besar pada abang, keyakinan ibu yang membuat kami tambah yakin jika abang masih hidup"
"23 tahun mereka mencari keberadaan abang tapi hasilnya tetap saja sama, mereka belum menemukan keberadaan abang. Tapi Allah berkata lain, usaha dan penantianku selama 7 tahun ini akhirnya berhasil dan membuahkan hasil, itu artinya penantian mama dan papa selama 23 tahu tak sia-sia dan penantianku juga selama tujuh tahun akhirnya berhasil. Aku yakin bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar" papa Bintang panjang kali lebar..
"Abang akan pikirkan semua, mungkin dalam waktu dekat abang bakal bertemu dengan mereka"
"Alhamdulillah" syukur Bintang dengan hati yang gembira.
Setelah selesai mereka berdua baru sadar jika Alvin sudah tertidur pulas di sofa sambil duduk.
__ADS_1
"Kita benerin aja tidurnya bang, biar nggak duduk" usul Bintang, Fahmi mengangguk dengan pelan Fahim dan Bintang membenarkan posisi Alvin yang tadinya duduk sambil tertidur kini sudah berbaring dengan sempurna. Dengan selimut yang menutupi separu badan kekarnya.
Setelah melihat Alvin tidur dengan posisi yang baik, Fahmi dan Bintang segera kembali ke tempat semula untuk tidur pula, meneruskan tidur mereka yang sedikit tertunda.