
Bismillahirohmanirohim.
" Papa bagaimana kalau kita ajak teman lama untuk kumpul bersama, sudah lama sejak 3 tahun terakhir ini kita tidak pernah kumpul bersama, mama rasa silaturahim
kita menjadi terputus sejak lama. Tidak baik kalau kita memutus tali persaudaran pada teman dan sahabat sendiri"
Dina terlihat sedang membuatkan kopi untuk Diandra, dia berkata sambil meletakan satu cangkir kopi di depan suaminya.
"Tapi ma apa mereka semua mau?" Diandra menyeruput kopi buatan istrinya.
Mendengar jawaban yang diberikan Diandra, Dina segera membenarkan tempat duduknya. "Bukan kah kalau tidak ada yang memulai maka tidak akan terjadi pa"
"Mama benar, papa juga merasa seperti seorang yang memutuskan tali silaturahmi itu sendiri, ya sudah kalau begitu biar papa hubungi mereka satu persatu"
Dina tersenyum mendengar penuturan suaminya. "Makasih pa"
"Iya ma, ma gimana kalau kita ajak Alvin dan mereka ajak anak kita juga" usul Diandra.
"Ide bagus itu pa" ucap Dina dia kembali tersenyum.
Alvin yang baru saja akan mengucapkan salam dari luar rumah tersenyum saat melihat papa mama nya yang bahagia dan akur, dia juga merasakan kebahagiaan itu. Begitu juga dengan keenam temannya yang ikut Alvin pulang ke rumah Alvin, karena mereka hendak makan-makan di rumah itu, Dina tadi menelpon Alvin jika dia mengatakan masak banyak. Maka dari itu Dina menyuruh Alvin dan keenam temannya untuk pulang ke rumah agar bisa makan bersama.
Tapi saat di markas terjadi drama terlebih dahulu, siapa lagi yang membuat drama itu kalau bukan Bintang. Seharusnya mereka sedari tadi sudah sampai di kediaman kedua orang tua Alvin.
Namun Bintang yang kesal dengan Bagas dan Eza. Karena mereka ditunggu tapi lama sekali datangnya membuat Bintang ngoceh panjang lebar untuk kedua abangnya itu, tentu saja perdebatan terjadi semakin panjang oleh Eza yang meladeni Bintang.
Ditambah lagi saat Eza merasa kesal pada Bintang akhirnya dia keceplosan masalah Bagas yang bertemu kedua orang tuanya. Sontak hal itu membuat mereka kaget dan berujung mereka mendengarkan cerita Bagas dan Eza terlebih dahulu sebelum ke rumah Alvin.
"Assalamualaikum" sapa mereka semua kompak.
Dina dan Diandra yang mendengar salam dari luar langsung menoleh kesumber suara, mereka tersenyum saat melihat Alvin dan yang lainnya sudah sampai, walaupun mereka berdua menunggu lama kedatangan Alvin dan keenam temannya. "Waalaikumsalam" Diandra dan Dina menjawab dengan kompak.
Tanpa disuruh Alvin dan yang lain sudah masuk kerumah itu, rumah kedua orang tua Alvin sudah seperti rumah sendiri bagi Fahmi dan yang lainnya.
"Kok baru sampek?" tanya Dina sambil menatap mereka satu persatu.
"Biasa ma drama yang tak berujung" sahut Fahmi.
__ADS_1
"Bang Bagas sama bang Eza lama ma, ditunggu kagak sampek-sampek nggak tau apa orang udah laper" sahut Bintang.
"Nah kan dramanya sudah dimulai" ucap Alex.
"Ya begitulah ma kelakuan si bontot satu ini"
"Sudah-sudah lebih baik kita makan dulu sekarang" ajak Dina dia sudah biasa melihat perdebatan Bintang dan keenam abangnya.
Sedangkan Alvin sudah tidak ada lagi disitu tadi saat Alvin sampai Diandra langsung mengajaknya pergi dari ruang tamu karena Diandra ingin bicara serius pada putranya.
Disinilah mereka berdua sekarang ruang kerja papa Alvin. "Vin papa mau ngajak teman-teman papa sama mama kumpul kamu ikut ya" ucap Diandra langsung pada intinya.
Alvin menatap sang papa curiga. "Tumben ngajak Alvin jangan-jangan ada apa-apa nya ini"
"Nggak tenang aja ini cuman kumpul-kumpul sama temen lama"
"Ok"
"Ya udah kalau gitu ayo kita susul yang lain ke meja makan" ajak Diandra.
"Bang dari mana aja sih dari tadi mau makan aja susah banget rasanya gue" bisik Bintang di dekat telinga Alvin kebetulan Alvin mendapat kursi di sebelah kanan Alvin.
"Eh, bang Alex" ucap Bintang kikuk.
Diandra dan Dina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Bintang.
Selesai makan malam bersama mereka berkumpul di ruang utama hanya untuk sekedar ngobrol sambil bercanda bersama ditemani cemilan yang Dina buta.
Tak lupa kopi buatan Cecep yang tiada duanya.
"Gimana Fahmi sama Cecep wisudanya?" Diandra memulai obrolan pada mereka.
"Alhamdulillah lancar pa" jawab Fahmi.
"Maaf papa sama mama nggak bisa dateng kemaren di acara wisuda kalian"
"Heheh, nggak papa ma, pa yang penting doa nya. Wkwkwk ya nggak Mi"
__ADS_1
"Ngelunjak bang" sahut Bagas dan Eza secara bersama.
"Hmmmm"
"Jadi kapan rencana mau nikah Mi? Cep?" Diandra beralih topik.
"Masih lama pa belum ada calonnya, wkwkwk" si Cecep tukang jujur.
"Kalau Fahmi gimana?" Dina ikut menimpali.
"Bang Fahmi mah udah ada calon nya tinggal nunggu waktu yang pas aja, ya kan Bang Fahmi" goda Eza sambil menaikan kedua alisnya.
Fahmi hanya bisa mengelus lehernya yang terasa gatal. Biasanya jika diledek di markas dia bisa melawan, tapi sekarang beda waktunya karena ada kedua orang tua Alvin.
"Tumben diem bang" kebetulan sekali Alvin dan Alex bicara dengan kompak.
"Tumben kompak bang" bales Bagas.
Alex tetaplah Alex dan memang paling irit bicara diantara yang lainnya mau di hadapan siapapun itu. Tapi sesekali dia tetap ikut nimbrung candaan mereka.
"Kalau sudah mapan dalam ekonomi dan sudah punya bekal ilmu agama, lebih baik disegerakan Mi apalagi kalau sudah ada calonnya nggak baik ditunda-tunda. Apalagi kalau suka sama orang setan mudah sekali masuk ke dalam hati manusia untuk menyesatkan manusia apalagi dalam hal cinta bisa jadi maksiat nantinya" nasihat Diandra.
"Iya pa" jawab Fahmi seadanya dengan kikuk.
"Tu bang denger kata papa disegerkan!" tegas Eza.
"Gue belum mapan Za, duit juga belum ada buat persiapan nika" sahut Eza akhirnya.
Bagas dan yang lainnya mendengus kesal saat mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Fahmi. "Duit kagak ada lah cabang toko ada dimana-mana, cabang restroran pun sama, kayak gitu kok masih ngomong kagak ada duit" sahut Cecep yang diikuti gelak tawa oleh mereka semua.
"Kok lu jadi ikut-ikutan ngeledek gue sih Cep. Kalau restoran kan kalian semua tau dong siapa onwernya" sambil menatap Alvin.
"Sama aja bang, bang Fahmi udah punya tiga cabag yang abang kembangin. Atau kagak black card abang buat gue aja, lumagakan isinya" usul Eza.
"Mata duitan lo Za. Heran dah gue sekarang bukan orang yang pura-pura kayak aja yang mata duitan tapi juga orang kayak asli pun mata duitan" sahut Fahmi.
"Ya nggak papa lah kaya masih mata duitan yang penting duit banyak ya nggak pa" sahut Dina.
__ADS_1
"Iya nguras duit anaknya papa sama mama" sahut Alvin dan Alex secara bersama lagi.
Mereka semua kembali tertawa bersama mendengar ucapan Alvin dan Alex.