Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
58. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Hmmmm, lo pada kagak ada kelas emang hari ini?" Fahmi melihat mereka satu persatu. Sambil seperti memberi isyarat.


Seakan maksud dengan isyarat yang Fahmi berikan mereka semua segera memberikan jawaban atas pertanyaan yang Fahmi lontarkan.


"Ada bang!" mereka menjawab dengan serentak.


"Kalau gitu kita permisi dulu ya om, Assalamualaikum" ujar Alex, Eza, Bagas dan Bintang juga Dimas, tak lupa mereka menyalami Diandra secara bergantian.


"Cepet sembuh ya bang" ucap Dimas  sebelum pergi dari ruang rawat Alvin.


"Makasih Dim"


"Gue ngampus dulu bang, tenang aja abis selesai ngampus gue bakal kesini lagi kok" Bintang si paling narsis tak mau pernah sekalipun ketinggalan.


"Nggak usah sok perhatian!" Eza menarik paksa Bintang agar segera keluar dari ruang rawat Alvin. Mereka hanya bisa menggelengkan kepala masing-masing melihat tingkah Eza dan Bintang yang tidak ada habisnya.


"Maaf om atas sikap mereka" ujar Fahmi dan Cecep tidak enak hati.


"Iya nggak papa santai aja" sahut Diandra sambil tersenyum.


Di tempat itu sekarang hanya ada Alvin, Fahmi, Cecep dan Diandra papa Alvin.


"Om kita keluar sebentar ya mau cari angin" Fahim sengaja mencari alasan untuk keluar dari ruang rawat Alvin, karena dia tahu Alvin dan papa nya butuh waktu berdua untuk menyelesaikan masalah mereka.


"Iya nggak papa" sahut Diandra dengan ramah.

__ADS_1


"Jangan emosi Vin nanti" bisik Cecep tepa di kuping Alvin, Alvin hanya bisa mengangguk.


Setelah memastikan mereka semua sudah pergi Diandra kembali melangkah mendekati brankar Alvin. Entah kenapa Alvin tidak bisa bicara sama sekali di depan papa nya, rasanya seperti ada sesuatu yang menahan agar dirinya tidak bicara apa-apa dengan sang papa.


"Alvin" Diandra menatap Alvin dengan rasa bersalah yang sangat dalam, tapi hanya ini cara satu-satunya yang bisa dia lakukan.


"Alvin maafin papa nak!" ujar Diandra penuh akan penyesalan. Diandra yang melihat tidak ada respon apa-apa dari Alvin segera menjelasakan akar dari masalah semua ini.


"Alvin papa dan mama tidak bermaksud meninggalkan kamu nak, apa kamu percaya?" Diandra berharap Alvin merespon ucapannya, tapi lagi-lagi Alvin hanya diam sambil menatap dirinya.


"Maafin Alvin pa, bukan Alvin nggak mau ngomong, tapi Alvin sendiri nggak tau kenapa bisa gini, di depan papa Alvin nggak bisa bilang apa-apa" batin Alvin merasa sesak.


"Pertengkaran yang terjadi pada hari itu memang benar terjadi nak, tapi papa dan mama tidak jadi bercerai, mamamu ingin minta bercerai dengan papa karena dia memiliki penyakit bawaan yang sangat bahaya, apalagi setelah keguguran adik kamu" Dindra sudah meneteskan air matanya, melihat itu Alvin langsung mengusap air mata sang papa dengan kedua tangannya tanpa bersuara, Diandra tersenyum karena merasa Alvin merespon dirinya.


"Dokter bilang penyakit mamamu tidak dapat disembuhkan maka dari itu dia minta papa untuk Menceraikannya, pada hari itu papa sedang emosi tapi Alhamdulillah kami tidak jadi bercerai. Sebelum pergi mama dan papa sudah mencari kamu dimana-mana tapi hasilnya kami tidak menemukan kamu. Mama memutuskan untuk pergi keluar negeri agar bisa berobat dengan baik dan dia meminta papa untuk merahasiakan ini semua darimu"


"Tapi setelah 2 tahun berada disana kondisi mamamu bukannya semakin baik malah semakin memburuk, papa memutuskan untuk mencoba bertahan 1 tahun lagi di luar negeri hasilnya alhamdulillah"


"Tapi hal sebesar ini kenapa papa nggak kasih tau Alvin, malah kalian menghilang bak ditelan bumi, jangankan batang hidung kabar kalian saja selama 3 tahun lebih Alvin nggak tau" ujar Alvin lirih dengan susah payah dia bersuara.  


"Maafkan papa Vin, ini memang salah papa nak, disaat itu mamamu minta papa untuk merahasiakan tentang mama. Dia juga tidak mau kamu tau kalau dirinya sedang berjuang antara hidup dan mati, karena mama tau jika kamu tau kondisi dirinya pasti kamu akan sangat terpuruk"


"Apalah daya papa hanya bisa menyetujui permintaan mama, papa memang bodoh Vin, kamu berhak membenci papa" ujar Diandra ari matanya sedari tadi tak sedikitpun bisa dibendung lagi. Air mata itu terus mengalir bercucuran tanpa henti.  


"Alvin mengira kalian membenci Alvin, dan menyalahkan Alvin atas kematian adik Alvin sendiri" ucap Alvin lirih.


"Boleh papa peluk kamu nak?" Dinadara bertanya dengan penuh harapan, dia tahu dirinya sudah melakukan kesalahan besar pada Alvin, Diandra siap jika Alvin membencinya karena dia merasa semua ini terjadi atas kebodohan dirinya.

__ADS_1


Mendengar permintaan papanya Alvin mengangguk pelan, Diandra yang merasa Alvin membolehkannya untuk memeluk Alvin. Tanpa buang waktu lagi dia memeluk sang anak dengan sangat erat dan menangis disana, begitu juga dengan Alvin dia meneteskan air mata.


"Apakah salah membenci orang tua sendiri? memaafkan seseorang itu sangatlah mudah, tapi mengikhlaskan semuanya dan melupakan semuanya yang telah terjadi tidaklah mudah" batin Alvin, dia memeluk sang papa dengan sangat erat.


"Ya Allah jauhkan rasa dendam di dalam diri hamba, apalagi terhadap orang tua hamba sendiri" bati Alvin lagi sambil terus berzikir di dalam hatinya.


"Maafin papa Vin, papa bukan papa yang baik buat kamu, papa telah gagal menjadi seorang ayah dan suami Vin, maaf" ya hanya kata maaf dan maaf yang bisa diucapkan Deidara rasa penyesalan itu terus menjalar kemana-mana.


"Alvin mau liat mama" satu kata yang terlontar dari mulut Alvin hanya bisa membuat hati Diandra nyeri.


"Maafkan aku istriku, aku tidak bisa menjalankan amanahmu, tapi disisi lain aku merasa sangat bersalah pada Alvin anak kita, karena sudah menelantarkannya" batin Dinadara.


"Kamu yakin mau liat mama sekarang?" tanya Diandra, khawatir karena semalam saja saat Alvin melihat mama tak berdaya di atas brankar dirinya langsung pingsan dan mengalami syok berat.


"Alvin yakin pa" jawabnya mantap.


"Tapi janji dulu sama papa, kamu bakal baik-baik aja nggak kayak semalem"


"Iya pa, tapi sama papa" pintanya.


Diandra membawa Alvin kembali ke ruang rawat istrinya, atas permintaan Alvin.


"Mama udah berapa lama kritis pa?" tanya Alvin tanpa mengalihkan pandangannya dari sang mama.


"Ma Alvin mohon cepat bangung, Alvin kangen sama mama. Kenapa pas kita ketemu mama nggak bisa apa-apa" batin Alvin.


"Hampir 3 bulan Vin" Diandra tak sanggup mengatakannya pada Alvin sebenarnya, tapi apalah daya. Padahal niat dirinya dan sang istri akan menemui Alvin saat Dina sudah sembuh total dan menjelaskan semuanya pada Alvin tapi apalah daya Allah berkata lain.

__ADS_1


Skenario Allah memang luar biasa tanpa bisa diduga entah apalagi hal yang akan membuat mereka terkejut di depan sana nanti.


Yang paling penting yakinlah di setiap musibah ada hikmat yang baik, yang dapat kita petik.


__ADS_2