Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
59. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


"Woii! Owi, Bagas, oh Bagas, napa dah itu muka kusut bener?" Eza berjalan mendekati Bagas, sambil menyodorkan sebotol air aqua.


"Capek" singkat padat dan jelas, hanya satu kata itulah yang berhasil lolos dari mulut Bagas. Sambil mengambil air aqua yang disodorkan Eza.


"Nih ya, seharusnya kita sekarang itu bersyukur, karena Alvin udah siuman, lah kok lo malah lemas tak berdaya seperti orang yang tidak sanggup untuk hidup lagi, ada apakah gerangan sehingga menjadi galau seperti ini" nah loh si Eza mulai keluar mulut cerewetnya itu.


"Berisik!"


"Astaghfirullah hal-Adzim, gue disini itu berusaha menghibur lo Gas, tapi kok lo malah jahat sama gue" Eza mulai keterusan mengedrama.


 "Lo bukan ngehibur gue Ezaaa! Tapi malah buat pala gue pusing" Bagas berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan Eza begitu saja.


"Yaak! kok gue ditinggal, gue belum selesai ngomong Bagasi!" Eza yang hendak menyusul Bagas dia urungkan, karena tangannya ditarik oleh seseorang.


"Napa?" menatap tajam orang yang telah berani memegang tangannya, sambil menarik tangannya dengan kasar dari tangan orang tersebut.


"Boleh minta wa Za?" tanya orang itu tanpa malu.


"Buat apa?" Eza malah balik bertanya dengan aura dinginnya yang sangat mencengkam.


"Ya ilah, pelit amat sih lo Za, minta wa doang kali gue nggak yang lain" ujarnya tak mau kalah.


"Gue peringatin ke lo ya, jadi cewek itu harus punya rasa malu, jangan asal pegang tangan orang apalagi tangan cowok, dan sekarang dengan tak tau malunya lo minta wa cowok. Mbak anda itu perempuan jadi dimana rasa malu anda terhadap kamu laki-laki" tegas Eza yang sudah mulai kesal. (Sungguh jika sudah seperti ini mulut tajam Eza tak bisa dikondisikan)


"Alah, lo pada aja yang lebay, dipegang cewek dikit aja udah kayak apa aja, sok alim banget sih jadi cowok" bantah Tari tak mau kalah.


Ya orang yang sudah membuat Eza hampir emosi adalah Tari, cewek yang setiap harinya selalu mencari perhatian Eza dan Alvin, tapi sayangnya kedua orang itu tak ada yang peduli pada cewek tersebut. 


"Serah lo!" Eza yang hendak melangkah pergi tangannya hampir saja akan kembali ditarik oleh Tari, beruntungnya Eza lebih cepat menyadari tindakan Tari.


"Jaga adab mbak" ujar Eza sinis lalu segera pergi dari tempat itu sungguh dia merasa sangat kesal, dengan perempuan seperti itu.


"Huhh, kemana kan si Bagasi! ilang aja tuh kan, gara-gara cewek nggak jelas tadi nih" gerudel Eza.


Sementara itu Bagas sudah masuk ke dalam kelasnya, karena kelas kedua Bagas sudah dimulai.


Saat dosen menjelaskan Bagas sama sekali tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh sang dosen, entah apa yang sedang anak itu pikirkan sekarang, yang pasti hanya dialah yang tahu.


"Huhh, sabar Gas" gumunnya pelan, sambil membuang nafas kasar dan mengelus dadanya.

__ADS_1


"Bagas kamu kenapa?" tegur dosen.


"Bagas, Bagas"


"Eh, iya pak kenapa?" Bagas yang sedari tadi tidak memperhatikan dosen, kelimpungan sendiri saat melihat dosen yang sedang mengisis kelasnya sudah ada di depan mejanya sendiri.


"Perhatikan!" Dosen itu segera pergi dari hadapan Bagas dan kembali menerangkan di depan.


"Huh! fokus Gas, ayo lo bisa jangan bawa masalah lo saat di kelas" batin Bagas, sambil berusaha kembali fokus pada mata kuliahnya hari ini.


***


"Gue harus cepet-cepet ke rumah sakit" Bintang yang tak sabar ingin menemui Alvin kembali di rumah sakit, hingga dia tidak memperhatikan langkahnya saat sedang berjalan terburu-buru di koridor kampus tak sengaja menabrak seseorang.


"Bruk" semua buku yang orang itu bawa jatuh berserakan.


"Ya Allah, Ca"


"Auu"


"Astagfirullah hal-adzim" ucap ketiga orang secara bersama dengan kata yang berbeda.


"Hati-hati dong kalau jalan, lo pikir ini jalanan nenek moyang lo apa" maki cewek yang telah Bintang tabarka dengan tak sengaja.


"Maaf ya mbak saya beneran nggak sengaja, lagi buru-buru soalnya" ujar Bintang tulus.


"Udah Ca kita juga buru-buru"


"Sampe lupa aku Kia" ujar Ica.


"Eh, ada mbak Kia, kayaknya kita jodoh deh mbak ketemu terus" si Bintang udah tau buru-buru tapi masih sempet-sempetnya cari perkara.


"Katanya buru-buru masih bisa gombalin orang" ketus Ica.


"Ca udah, nggak usah diladeni" tegur Kia.


"Tang, disini rupanya lo, dari tadi dicariin juga" belum sempat Ica menjawab pertanyaan Kia, tapi suara seseorang yang menyebut nama Bintang membuat ketiga anak manusia itu menoleh ke sumber suara.


"Heheh, bang Eza, lagi ketemu bidadari jangan dianggurin bang" ucap Bintang ngelantur.


Eza menabok pelan kepala Bintang. "Udah nggak waras ni orang" bergumun pelan tapi masih bisa didengar oleh ketiga orang yang sedang berdiri di depannya.

__ADS_1


Sedangkan Kia sedari tadi berusaha menarik  tangan Ica agar segera pergi dari tempat itu, tapi Ica belum ingin pergi, karena dia masih pengen memarahi Bintang habis-habisan.


"Ca ayo, udah hampir habis nih waktunya" dengan terpaksa Kia menarik tangan Ica dengan kuat.


"Lo awas aja kalau kita ketemu lagi bakal abis lo" kesal Ica yang menatap tajam Bintang. Sedangkan Eza tanpa disadari sedari tadi pandangannya tak teralihkan dari Kia.


"Hmm, bang istighfar belum muhrim" tegur Bintang yang tau arah pandang Eza.


"Apa sih lo Tang, jadi kagak ke rumah sakit" mengalihkan pembicaraan sambil terus beristighfar dalam hati, karena Eza merasa memang dirinya salah.


"Jadi bang, sekalian sama bang Bagas, bang Alex juga kagak?"


"Mengenai si Bagas kayaknya dia ada masalah deh Tang" ucap Eza tiba-tiba.


"Lo waras bang?"


"Lo kira gue gila gitu!" memukul kepala Binatang dengan keras.


"Ini namanya penganiayaan bang, lagipula siapa yang bilang lo gila, bukannya lo sendiri" nah kan si Eza kena jebakan Bintang.


"Sama aja lo ngatain gue gila, karpet!" sudah jengah dengan Bintang, Eza pergi meninggalkan Bintang begitu saja. Sepertinya si Eza tidak bersemangat hari ini untuk mencari masalah dengan Bintang.


"Woi! bang tunggu" teriak sekencang-kencangnya. Untung di koridor kampus sedang sepi.


"Duk" sebuah botol plastik mengenai punggu Bintang.


"Ya Allah, gini amat nasib, siapa pula yang nendang botol aqua ini" berbalik ke belakang untuk mencari pelakunya. 


"Jangan teriak-teriak ini bukan hutan" Alex menatap tajam Bintang.


"Iya bang" langsung kicep seketika, Bintang tau pasti tadi yang menendang botol aqua pasti Alex orang yang kini berjalan di depannya.


"Untung abang kalau bukan udah gue tendang"


"Gue masih denger ya Tang"


"Iya bang, tajem banget itu kuping" belum sadar jika dirinya dan Alex sudah berjalan sejajar.


"Jangan sering ngatain orang dibelakang Tang, kena sama diri sendiri tau rasa" tegur Alex.


"se-jak ka-pan abang disini?" bertanya dengan terbata-bata. 

__ADS_1


"Lo salah makan sesuatu kayaknya Tang!" Alex tak habis pikir dengan tingkah Bintang hari ini.


__ADS_2