
Bismillahirohmanirohim.
Berbeda dengan Alvin, Alex dan Fahmi yang sudah kembali berkumpul dengan keluarga mereka setelah kesabaran dan Ikhtiar yang mereka lakukan.
Sungguh skenario Allah memang benar-benar indah, tak ada yang akan bisa menyamainya. Mereka akhirnya berkumpul dengan keluarga kembali setelah cobaan yang menimpa mereka.
Berbeda halnya dengan Bagas yang ada tumbuh perasaan iri pada teman-temannya, karena mereka sudah kembali berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing, tapi sebisa mungkin bagas membuang perasaan iri itu yang seharusnya tidak terjadi.
Bagas senang bisa melihat teman-temannya berkumpul dengan keluarga mereka lagi, tapi setan benar-benar mengusik hati Bagas.
Tak jauh beda dengan Bagas, Eza pun merasakan hal yang sama, anak tunggal keluarga Argintara itu juga merasa sedih karena kedua orang tuanya masih saja memikirkan materi, Eza mengerti jika semua itu untuk dirinya juga, tapi dia butuh perhatian kedua orang tuanya.
Mereka sedang berkumpul di markas seperti biasanya.
"Bang gue mau main dulu" pamit Bagas pada Fahmi.
"Kenaman Gas?" Fahmi bertanya pada Bagas tapi dia masih fokus pada kegiatannya.
"Refreshing bang" sahut Bagas sambil tersenyum jahil.
"Kalau gitu ntar pulangnya mampir ya Gas, ngontrol restoran utama" pesan Fahmi pada Bagas.
"Asiap bang!"
"Gue ikut boleh kagak Gas?" Eza yang sudah rapi entah mau kemana, tiba tiba saja ingin ikut dengan Bagas.
"Za, Za ikut tinggal ikut juga, ets tapi nanti pas pulang jangan langsung kabur, kita ngecek restoran utama dulu" peringat Bagas.
"Ngapain sih Gas harus kita kan bang Fahmi ada, biar bisa ketemu sama Niah kan bang Fahmi" ucap Eza sedikit keras, tak lupa senyum jenakanya.
"Za lebih baik lo cabut sekarang dari pada macan ngamuk" suruh Cecep.
"Marah tandanya sayang loh bang Fahmi" ucap Eza sekali lagi menggoda Fahmi, kali ini lebih sedikit keras.
"Za belajar dari siapa?" tegur Alvin dia baru saja masuk ke dalam markas dan mendengar perkataan Eza.
"Belajar dari Bintang Vin, gue pergi dulu Assalamualaikum" teriak Eza.
"Bang Ezaaaa…..!" Bintang ikut berteriak tak terima saat Eza mengkambing hitamkan namanya.
"Bukan hutan!" suara Alex langsung membuat Bintang terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
"Gini nih kalau bang Alex yang negor gue kagak bisa berkutik" batin Bintang.
"Napa Tang pms?" Cecep sengaja membuat Bintang semakin tersudutkan.
"Nggak!" satu kata yang keluar dari mulut Bintang membuat mereka yang berada disitu terkekeh.
Begitulah keseharian mereka, walaupun Alvin dan yang lainnya sudah berkumpul dengan keluarga masing-masing mereka tak pernah meninggalkan markas, dan juga selama berada di markas mereka tak pernah menceritakan tentang orang tua mereka di markas.
Mereka menjaga perasaan Bagas dan Eza, apalagi untuk Bagas dia sudah tidak memiliki kedua orang tua sejak kecil, entah Bagas saja tidak tahu apakah kedua orang tuanya masih ada ataukah sudah tiada.
"Udah lama nih kagak main tempat kakek Hasan, kapan main kesana lagi? jujur gue kangen sama beliau" ucap Cecep memecahkan keheningan.
"Sama gue juga kangen sama beliau" sahut Fahmi.
"Gimana kalau besok kita kesana" usul Bintang.
"Ya kagak besok juga Tang, besok gue sama Cecep wisuda"
"Iya juga sih bang, kan gue lupa"
"Nanti kita diskusikan lagi sama yang lainnya, lagian Eza, Bagas dan Alvin nggak disini" sahut Alex.
"Kan bang Alvin ada di markas bang"
"Kak Bintang" teriak seorang anak kecil pada Bintang.
"Filix sini" Bintang mendekati Filix sambil membawa Fillix ke teras markas merekam
"Kakak Bintang nanti malem ngaji apa?" tanya anak laki-laki itu pada Bintang. Dia duduk di pangkuan Bintang. Bintang memang sangat menyukai anak kecil.
"Ngaji tajwid Lix. Kamu tau kan siapa yang mengajar tajwid?" Bintang ikut bertanya pada anak laki-laki berumur 7 tahun itu.
"Tau dong kak!"
"Siapa coba yang nanti ngajar tajwid entar sore" pancing Bintang pada Filix.
"Kakak" Filix menggantung ucapanya, dia masih memikirkan siapa yang nanti malam mengajar ngaji.
"Filix lupa kakak, hehehe" kata anak laki-laki itu sambil nyengir.
"Kalau Filix lupa sama yang ngajar ngaji nanti sore liat aja siapa yang ngajar ngaji. Kakak Alvin, kakak Alex, kakak Bagas, kakak Fahmi, kakak Cecep atau kakak Eza, kalau tidak malah kakak Bintang"
__ADS_1
Filix mengangguk tanda mengerti apa yang Bintang ucapkan padanya. "Kalau gitu Filix pulang dulu ya kakak Bintang takut dicari mama"
"Siap Filix anak soleh" ucap Bintang tersenyum, sambil mencium pipi anak laki-laki itu.
Memang sudah hampir satu bulan ini geng somplak membuka acara mengajar ngaji untuk anak-anak yang tinggal di dekat markas mereka.
"Siapa Tang!" tanya Alvin saat berada di teras markas.
"Filix bang, baru juga pulang"
***
"Bagas…..!Woi Bagas….!" teriak Eza dari motornya.
Bagas yang sedang mengendarai motornya dengan santai terpaksa memberhentikan motornya, karena teriakan dari Eza yang sedari tadi tak kunjung usai. Sungguh rasanya kuping Bagas sudah panas mendengar teriakan Eza.
"Apa sih Za, teriak-teriak mulu dari tadi" protes Bagas, sambil menatap Eza datar.
Yang ditatap datar oleh Bagas ikut menatap Bagas dengan datar. "Lo mau kemana sih dari tadi cuman motoran aja kagak berhenti-berhenti juga laper nih gue" kata Eza sedikit sowot.
"Dih, suka-suka gue dong, lagian juga nih ya ngapain lo ngikutin gue Eza Azka! kalau lo laper ya tinggal makan gitu aja kok repot" dengus Bagas.
"Ya kan gue bilang emang mau ikut lo, berhenti bentar kek Gas buat makan sate atau kagak soto ayam" ucap Eza lagi, sambil melirik beberapa penjual kaki lima yang ada disekitar mereka.
"Ayo gue juga laper" akhirnya Bagas menuruti kemauan Eza.
"Inget abis ini jangan kabur, kita mau ke restoran utama, udah lama kagak ngecek keadaan disana" Lagi-lagi Bagas mengingatkan Eza.
"Ya! lagian kenapa sih kita disuruh ngecek kesana, biasanya juga bang Fahmi sama Alvin atau Alex mantau terus lewat laptop"
"Beda konsep Eza! ini juga mumpung kita posisinya dekat sama restoran utama. dah lah kagak bakal kelar kalau debat sama lo, mau makan apa jadinya?" Bagas terpaksa harus mengalah pada Eza. Kalau tidak enta kapan perdebatan itu akan usai, yang pasti jika berdebat dengan Eza pasti Bagas yang akan kalah.
"Soto ayam sama sate" pesan Eza sambil membayangkan betapa enaknya soto ayam dan sate.
"Bagas! lo kenapa masih disini?" tanya Eza bingung.
"Tapi lo bayar sendiri" ucap Bagas.
"Astagfirullah! kok lo sekarang pelit sih" canda Eza.
"Iya gue bayar!"
__ADS_1
Setelah Eza dan Bagas selesai memakan pesanan mereka keduanya segera pergi menuju restoran utama milik geng somplak. Untuk mengecek keadaan restoran disana. Masih muda sudah punya banyak usaha itulah anak muda yang kreatif.