Tujuh berandal beriman

Tujuh berandal beriman
28. TBB


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Masih di tempat yang sama dan rumah yang sama, Fahmi terjaga di tengah tidurnya saat mendengar adzan subuh berkumandang, sebelumnya dia memang sempat melaksanakan sholat lail jam 3 dini hari, tapi rasa kantuk yang kembali menyerang setelah dia selesai mendirikan sholat 4 rakaat dua salam di sepertiga malamnya, akhirnya Fahmi tidur di atas sajadahnya tanpa sengaja.


"Alhamdulillah sudah adzan" Fahmi berucap syukur seraya segera bangkit dari sajadahnya untuk membersihkan diri lalu menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid yang ada tidak jauh dari rumahnya.


"Assalamualaikum, ibu sudah sehat?" Fahmi baru saja pulang dari masjid sekitar pukul 6 : 00 pagi.


"Waalaikumsalam Mi, udah mendingan, ibu mau masak dulu" sahut sang ibu.


"Biar Fahmi aja bu yang masak sama beres-beres rumah, ibu istirahat aja dulu" tutur Fahmi lembut.


"Memangnya kamu nggak kuliah?" 


"Fahmi kuliah bu, tapi masuk siang" ujarnya sambil bersiap untuk memasak.


Penyesalan tetap akan datang diakhir, bahkan sampai penyesalan yang sangat amat mendalam baru kita akan merasakannya penyesalan yang sesungguhnya dan hanya kata andai, andai dan andai yang akan menemain penyesalan.


"Maafkan ibu Fahmi, walaupun kamu bukan anak kandung ibu bahkan ibu sudah sangat jahat sama kamu, tapi kamu masih bersikap baik sama ibu, dan merawat ibu seperti ibu mu sendiri" sesal Minah, dia sadar baru sekarang dia bisa merasakan bagaimana Fahmi sangat menyayanginya bahkan setelah dibuat menjadi orang yang seakan tak berguna.


Minah menyesal baru sekarang sadar atas kelakuannya dulu terhadap Fahmi, setelah suaminya yang ternyata berselingkuh dengan perempuan lain dan putri pertamanya hamil diluar nikah sedangkan putri bungsu nya entah kemana sudah tidak ada kabar satu bulan ini.


Entahlah Minah bingung akan bercerita pada Fahmi atau tidak tentang hal ini, tapi dia yakin Fahmi akan bertanya padanya apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Bu ayo makan dulu" ajak Fahmi, keduanya makan dengan khidmah tanpa ada satupun yang berniat membuka suara.


"Kamu masuk siang jam berapa Mi?" tanya Minah dengan suara serak khas orang sakit. 


"Jam 10 bu, biar Fahmi aja yang beresin bu, ibu duduk aja dulu ya" cegah Fahmi, saat sang ibu hendak membereskan bekas makan mereka.


Setelah Fahmi membersihkan semua rumahnya dia juga sudah mencuci semua pakaian kotor, kini Fahmi dan sang ibu sedang mengobrol di ruang tamu sebelum Fahmi berangkat ke kampusnya, ada yang ingin Fahmi tanyakan pada sang ibu.

__ADS_1


****


"Napa lo bengong aja? nggak ada kelas emang jam segini belum berangkat?" Alvin menepuk pundak Cecep yang sedang melamun di dekat kolam ikan yang tersedia di markas mereka.


Cecep menoleh ke sumber suara, ternyata Alvin sudah rapi dengan pakaian yang biasa iya kenakan untuk ngampus.


"Ada sore tapi gue, gue nggak kenapa-napa Vin, cuman lagi kangen aja sama kakak gue, sama sepi juga ya nggak ada Fahmi" Cecep memang tipe orang yang tidak suka bercerita setengah-setengah, sekali ditanya saja dia langsung akan menjelaskan semuanya apa yang dia ingin katakan.


Sedangkan yang lain sudah berangkat kuliah karena ada kelas pagi. Alvin tersenyum menanggapi ucapan Cecep barusan dia tahu apa yang Cecep rasakan, karena dia merasakan hal yang sama.


"Sabar Cep, memang kangen yang paling menyakitkan, kangen dengan orang yang jiwa dan raganya sudah tidak ada" 


"Lo mau tetep di markas aja apa mau pulang, sekalian ngobatin rasa rindu" tawar Alvin.


"Gue niatnya mau pulang abis dzuhur Vin, abis itu nanti langsung otw kampus"


"Kalau gitu gue berangkat dulu Cep, Assalamualaikum" pamit Alvin.


Setelah peninggalan Alvin, Cecep terlihat membersihkan markas mereka yang masih sedikit berantakan dia juga, sempat memasak terlebih dahulu untuk teman-temannya dan mengisi perutnya yang sudah kembali keroncongan diminta untuk segera diisi.


"Assalamualaikum Mi" sapa Alvin kebetulan sekali keduanya bertemu di parkiran kampus.


"Waalaikumsalam Vin, gimana kabarnya bro" padahal mereka baru sehari tidak bertemu, tapi itu sudah menjadi kebiasaan geng somplak untuk hanya sekedar menanyakan kabar.


"Alhamdulillah seperti yang lo lihat, kenapa ada masalah?" tebak Alvin tepat sasaran.


"Cerita aja, kalau gue bisa kasih saran In sya Allah gue kasih saran" keduanya sudah jalan beriringan menuju kelas masing-masing, kebetulan sekali kelas Fahmi dan Alvin satu arah.


Alvin memang lebih mudah dari Fahmi, tapi Fahmi akui sikap dan tingkah laku Alvin lebih dewa dari pada dirinya saat menghadapi situasi yang serius, bahkan jika memberikan saran untuk orang lain dan mengingatkan dengan baik.


"Nanti gue ceritanya habis sholat dzuhur aja, lo hari ini ada berapa kelas?" 

__ADS_1


"Satu dong"


"Ya udah kalau gitu abis dzuhur ke cafe depan tempat biasa, tapi untuk beberapa hari kedepan gue belum bisa pulang ke markas" ucap Fahmi sebelum benar-benar masuk ke dalam kelasnya.


Alvin mengangguk mengerti, bagaimanapun mereka semua memiliki keluarga yang harus diprioritaskan lebih utama daripada geng, tapi tetap saja geng somplak sudah menjadi bagian dari diri mereka.


***


"Capek gue" keluh Eza, dia dan Bintang sedang menikmati suasana ditaman, tadi Eza memaksa Bintang menemain dirinya untuk melukis di taman, padahal Bintang ingin ke perpustakaan, terpaksa Bintang hanya meminjam buku di sana lalu membawanya untuk dibaca di taman, sambil menemain Eza melukis.


"Za" panggil Bintang, Eza sudah mengerjakan lukisaannya separu jalan.


"Napa sih ganggu aja tau kagak lo" kesal Eza.


"Za dengerin gue, lo gambar apa? bukannya nggak boleh gambar sesuatu yang bernyawa" Bintang kembali mengusik ketentraman Eza.


Eza memperhatikan Bintang yang sedang fokus meneliti setiap gambarnya. "Dengerin gue Tang, memang menggambar sesuatu yang bernyawa itu nggak boleh, contohnya seperti memahat patung buat persembahan menggambar sesuatu yang bernyawa lalu disembah itu tidak diperbolehkan, karena niatnya saja sudah menyimpang menyekutukan Allah, tapi jika menggambar sesuatu yang bernyawa dengan kain atau kertas itu boleh, wallahu'alam bishowab"


"Maka dari itu selama ini gue menghindari menggambar manusia, tapi jika tumbuhan dan hewan gue masih slow aja" sahut Eza.


Setelah mendengar penuturan Eza, Bintang cukup mengerti, Tapi entah kenapa ada sesuatu yang masih mengganjal menurutnya.


"Tang, gue tau lo belum puas sama penjelasan gue, coba gue mau denger penjelasan lo" pinta Eza, dia memang mengajak Bintang untuk berdiskusi.


"Gue dulu pernah dengar katanya kalau kita menggambar sesuatu yang bernyawa nantinya kita, diakhirat kelak suruh cariin buat ruh-ruh yang kita gambar"


"Woi!" serius amat lo berdua lagi bahas apaan sih?" Bagas entah datang dari mana mengganggu keseriusan Bintang dan Eza saja.


"Lagi bahas yang bernyawa" selor Bintang.


"Kita cari dalilnya dulu Tang, kalau ada berarti bener apa yang lo bilang" Eza tidak merespon Bagas, yang mengganggu dirinya sedang serius.

__ADS_1


__ADS_2