
Bismillahirohmanirohim.
masih ditempat yang sama dimana Dimas masih berada di markas geng somplak bukan untuk menyerang geng somplak melainkan sekedar menenangkan diri dan bertemu dengan sang kakak, yang menjadi bagian dari geng somplak.
"Bang boleh tau gimana abang bisa masuk ke dalam geng somplak?" tanya Dimas tiba-tiba. Dimas juga tidak tau kenapa dia menjadi penasaran bagaimana Alex bisa menjadi salah satu anggota geng somplak.
Biasanya Dimas tidak kepo dengan urusan Alex, tapi untuk yang satu ini jiwa penasarannya tumbuh begitu saja.
Mendengar pertanyaan dari Dimas, Alex memincangkan matanya, Alex tahu sekali bagaimana sikap Dimas terhadapnya.
"Jangan salah sangka dulu bang, gue cuman kepo aja" Dimas paham dengan lirikan yang diberikan oleh Alex pada dirinya.
"Tumben kepo" setelah satu kata itu keluar dari mulutnya, Alex berlalu pergi masuk ke dalam markas meninggalkan Dimas begitu saja yang masih merasa penasaran.
"Yaak! bang lo belum jawab pertanyaan gue!"
"Apa sih Dim, ini bukan hutan jangan terika-terika" selor Bagas.
"Hehe sorry bang, habisnya bang Alex belum jawab pertanyaan gue, main pergi gitu aja" tanpa diminta oleh Bagas, Dimas menjelaskan apa sebab dirinya berteriak sedangkan Bagas bersikap bisa saja.
"Masuk dulu nanti kalau mau tanya lagi di dalam, jam segini peraturan disini nggak boleh ada di luar lagi, kalau nggak dapet hukuman"
"Siapa yang buat peraturan kayak gitu, masa iya cowok jam 12 malem udah nggak boleh diluar, peraturan macam apa itu" dengus Dimas.
"Gue yang buat peraturan kalau nggak suka jangan disini" tanpa Dimas dan Bagas sadari keduanya sudah berada di tengah-tengah geng somplak.
"Hehe bang Alvin, sorry tadi cuma angin lewat aja kok bang" bela Dimas. Tapi Alvin sudah melupakan masalah barusan dia hanya menegur Dimas saja.
"Lah kok gue udah disini aja" Bagas merasa bingung.
"Kaki lo jalan bang!" sahut Eza spontan.
"Iya, iyalah kaki gue jalan masa ngesot" dengus Bagas.
__ADS_1
"Kalau gitu kenapa lo nanya ngab" Bintang ikut bersuara juga dia.
Fahmi, Cecep, Alex dan Alvin hanya menatap mereka bertiga datar berbeda dengan Dimas yang merasa heran.
"Nggak usah heran sama mereka, emang kayak gitu tingkahnya" ujar Fahmi yang berada disamping Dimas.
"Iya bang" menjawab dengan sopan. Wkwkwk!
"Bang Alex lo belum jawab pertanyaan gue tadi" ujar Dimas menuntut.
"Apa!" sungguh sepertinya Alex tidak memiliki ekspresi lain selain datar dan tegas.
"Gimana abang bisa jadi bagian dari geng somplak!" Dimas sudah mulai kesal.
"Itu semua berawal dari gue makan di cafe Alvin, ter"
"Wah, serius bang Alvin udah punya cafe!" belum juga Alex menyelesaikan ucapannya sudah dipotong saja oleh si Dimas.
"Hehe, iya bang maaf"
Tumben sekali si Dimas sedari tadi mau mengucapkan kata maaf, biasanya dia bodo amat saja lah.
"Terus juga kalau kagum dengan sesuatu jangan bilang wah, tapi ucapkan Masya Allah" lanjut Alvin lagi.
"Salah tempat kayaknya gue malah diceramahin, tapi nggak papalah ya biar nambah ilmu" batin Dimas, sambil mengangguk untuk merespon ucapan Alvin.
"Terus kalau subhanallah buat ngucapin apa?" Alex sengaja bertanya seperti itu agar Dimas bisa belajar agama lebih baik lagi, dan tidak membuat Dimas seperti sedang diceramahi melainkan belajar bersama.
Alex juga melontarkan pertanyaan itu agar Dimas tidak bertanya lagi bagaimana dia bisa menjadi bagian dari geng somplak.
"Biasanya subhanallah diucapkan saat kita melihat atau merasakan hal-hal yang negatif, misalnya kaget maka ucapkan subhanallah"
"Lalu apa perbedaan MasyaAllah dan Subhanallah" tambah Bagas yang ikut penasaran.
__ADS_1
"Biar lebih jelas gini sebelumnya banyak orang yang tidak paham akan penempatan dari kalimat MasyaAllah dan Subhanallah. Kadang ada orang yang mendengar sholawat yang sangat merdu mengucapkan Subhanallah padahal seharusnya dia mengucapkan kalimat MasyaAllah yang lebih pas. Karena kalimat MasyaAllah sendiri memiliki makna merujuk pada setiap sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah. Sedangkan kalimat Subhanallah memiliki makna maha suci Allah. Jadi dapat difahami kan kapan kita harus menggunakan kalimat MasyaAllah dan kapan kita harus menggunakan kalimat Subhanallah" papar Alvin panjang lebar.
"Misalnya kalau kita mendengar geledek maka kita akan mengucapkan kalimat Subhanallah? begitu bukan?" tanya Dimas.
Alvin dan yang lainnya menangguk, karena mereka sudah paham apa yang disampaikan Alvin.
"Berarti kalau kita dengar orang ceramah dengan baik, maka pengucapan yang lebih pas MasyaAllah bukan Subhanallah?" Bintang juga ikut bertanya.
"Iya benar sekali adik Bintang tersayang" sahut Eza.
"Jangan mulai Eza!" tegur Fahmi. Seketika Eza langsung mingkem. Eza dan Bintang kalau mau buat ulah memang tidak pandang tempat dan situasi. Hadeh-hadeh.
"Lo semua pada pintar-pintar dalam bidang apapun termasuk bela diri, tapi gimana lo pada bisa nggak bersikap sombong? malah bersikap apa adanya" bingung Dimas, karena biasanya Dimas melihat orang-orang yang bisa dalam hal apapun akan bersikap sombong tidak seperti geng somplak ini yang malah bersikap rendah hati. Sepertinya Dimas mendapat banyak pelajaran dari geng somplak malam ini.
"Karena semua yang kita miliki dan kemampuan yang kita punya hanyalah titipan Allah, tanpa Allah kita tidak ada artinya. Semua yang ada di alam semesta ini hanyalah milik Allah"
"Jika kita sombong untuk apa toh tak akan ada gunanya, malah merugikan diri sendiri, kalau kita sombong akhirnya banyak orang yang nggak suka sama kita, bukan orang aja yang nggak suka Allah juga, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bersikap sombong"
"jugaan di luar sana masih banyak orang yang lebih pintar dan lebih baik dari kita"
"Kembalikan semua pada Allah, dan bersyukur atas segala apa yang telah Allah berikan pada kita, maka In Syaa Allah rasa sombong dalam diri kita akan sirina"
"Orang sombong juga ada dua, yang pertama dia sombong tanpa disadari dirinya dan yang kedua dia sombong karena menyadarinya" jelas Cecep.
"Contohnya sombong tanpa disadari gimana bang, kalau sombong dengan sengaja kita juga tau kayak mana" tanya Eza.
"Kalau sombong tanpa disadari lo merasa diri lo lebih baik dari orang lain, terus lo ngerasa diri lo lebih suci dari orang lain, karena sesungguhnya kita tak pantas menilai diri sendiri dengan suci atau tidak sucinya kita" kali ini Alex yang menjawab.
"Terus gimana kalau kita merasa dendam sama orang lain, maaf melenceng dikit nggak papa lah ya" Bagas ikut bertanya.
"kata-kata emas dari sayyidina Ali bin abi thalib, Balas dendam terbaik adalah dengan cara menjadikan dirimu lebih baik. bukan membalas perbuatan yang telah membuat kita merasa sakit" sahut Fahmi.
"Sungguh berdamai dengan rasa sakit itu lebih menyenangkan daripada harus membalas dendam pada orang yang membuat kita merasa sakit, sesungguhnya setan mudah sekali masuk kedalam celah diri kita yang merasa sakit hati"
__ADS_1