Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
Bab 10


__ADS_3

Tidak ada satupun keluarga Santo yang berani keluar, bahkan keadaan semakin mencekam, karena Parjo mulai menggedor gedor pintu rumah Santo dengan parangnya yang justru sekarang di bantu sama Parto anaknya yang membawa linggis, meskipun parta sakit hati dengan perlakuan orang tuanya, sebagai anak lelaki dia tidak terima kalau orang tuanya diperlakukan begitu hina oleh keluarga Santo, ngeri dan semakin brutal, itulah gambaran kemarahan keluarga yang sudah berhasil di injak-injak harga dirinya.


Kericuhan yang terjadi begitu cepat tersebar, sehingga banyak warga yang berdatangan, ibu ibu saling bersahutan dalam jeritan melihat betapa marahnya pak Parjo yang terus berteriak dan berusaha mendobrak pintu rumahnya Bu Tini, ngeri dan juga takut itulah yang dirasakan oleh hampir semua orang yang melihat, tidak sedikit yang berusaha mendekat dan menenangkan pak Parjo, tapi mereka mundur lagi karena pak Parjo langsung mengacungkan parang pada siapa saja yang berusaha menghalanginya.


" Astagfirullah pak, iling, nyebut pak, nanti kalau terjadi apa apa sama bapak, ibu gimana?." Huhuhuhu Bu Sumi menangis tergugu melihat suaminya yang sedang dikuasai emosi, Bu Sumi marah, benci juga ingin membalas keluarga itu, tapi tidak dengan cara yang justru akan berakibat fatal untuk diri sendiri, mendengar istrinya histeris pak Parjo melunak, menatap ke arah Bu Sumi dengan pandangan sayu, tangan kirinya mengusap lelehan keringat serta air mata yang mulai membasahi pipinya, tubuh tambunnya lunglai merosot dan tak kuasa menyembunyikan segala sesak yang telah menyatu dengan amarah, melihat pak Parjo mulai sedikit tenang dan dalam keadaan lemas, beberapa orang laki laki mendekat dan langsung mengambil alih parang yang sudah tergeletak dilantai teras Bu Tini, mengamankannya dari jangkauan pak Parjo, agar tidak lagi berbuat nekat.


Banyak pasang mata yang ikut menangis melihat keterpurukan lelaki paruh baya yang memperjuangkan hak anaknya, memang tidak ada yang tau seperti apa sebenarnya, tapi semua orang terlanjur menilai buruk keluarga Santo yang dianggap keterlaluan dan tak punya perasaan.


Setelah mengamankan senjata tajam seperti parang dan linggis, semua orang mulai berkumpul menjadi satu dan kompak meneriaki nama Bu Tini dan Santo untuk keluar.


"Heh Santo, keluar kau, jangan jadi pengecut."


"Keluar kalian, jangan cuma berani sembunyi dan menghindar, atau kami akan mendobrak pintu rumahmu dan menyeret paksa kalian untuk keluar."


"Keluar kau! Tini, Santo, Arip, keluar kalian."


Warga mulai emosi, karena tidak ada satupun keluarga dari Santo yang mau keluar, padahal warga sudah memintanya untuk keluar dan menyelesaikan masalah.


"Asalamualaikum, ada apa ini, kenapa pada kumpul disini dan apa yang terjadi dengan pak Parjo? " Tiba tiba ada suara bariton dari pria tinggi tegap dengan aura penuh wibawa berjalan membelah kerumunan warga, pak Akwan, pria yang berprofesi sebagai polisi yang rumahnya tepat ada dibelakang rumah Yani.


Semua mata beralih pada pria yang berumur tiga puluhan tahun itu, dan nampak ada ustad Ridwan juga menuju ke arah Parjo yang masih meraung meratapi nasib anak perempuannya.


Pak RT menjelaskan apa yang terjadi pada pak Akwan dan ustadz Ridwan, terdengar kalimat istighfar dari keduanya.

__ADS_1


Pak Akwan mengetuk pintu rumah Bu Tini sopan, berharap keluarga ini mau membukakan pintu, agar keributan tidak semakin melebar, karena bisa saja jika warga sudah mulai gerak dan marah, keluarga ini akan menerima amukkan masa, dan sudah bisa dibayangkan apa yang terjadi, hal mengerikan tentunya.


Setelah beberapa ketukan dan salam serta suara pak Akwan dan Ustadz Ridwan yang menjamin keselamatan mereka, barulah terdengar suara kunci yang mulai diputar, ceklek, nampak wajah pak Arip yang sudah mulai memucat terlihat sangat gugup, dengan bibir bergetar, pak Arip mempersilahkan beberapa orang untuk masuk, tak terkecuali pak Parjo, pak akwan dan ustadz Ridwan.


Hening......


Hanya terdengar helaan nafas yang saling bersahutan, mata saling pandang satu sama lain, sedangkan nampak pak Arip juga Bu Tini hanya mampu menunduk, malu bahkan tak punya keberanian menatap satu persatu wajah orang orang yang ada diruangan ini.


"Langsung saja, Bu Tini, pak Arip..., Saya sudah mendengar pangkal masalah yang terjadi saat ini, dan saya menyayangkan kenapa pak Arip sekeluarga bisa berbuat demikian, apakah kalian tidak berpikir akibat dari kejadian ini, banyak pihak yang anda dizolimi disini, dan bahkan Santo bisa dihukum." Pak Akwan membuka obrolan dengan menatap ke arah Bu Tini juga pak Arip, tapi keduanya hanya menunduk saja sedari tadi.


"Sekarang katakan dimana keberadaan Santo, jangan menunggu warga bertindak baru kalian buka suara." Pak Akwan masih terus menekan dan berusaha mengorek informasi.


"Santo pergi, karena dia merasa yakin, kalau Yani hamil bukan karena dirinya, Yani sudah biasa berhubungan dengan banyak pria, kalau tidak percaya silahkan tanya saja pada anaknya." Ucap Bu Tini bergetar, ada lelehan air mata yang terus berjatuhan, wanita paruh baya itu tak lagi bisa menyembunyikan rasa kesal, benci, marah dan juga takut, pikirannya sudah teramat kacau, tapi yang satu, Bu Tini harus tetap berjuang agar bukan Santo saja yang dijadikan tersangka atas kehamilan Yani.


"Jaga mulutmu Mak lampir, jangan fitnah anakku, Yani tidak seburuk tuduhan mu, Yani hamil itu karena anakmu yang bejad, yang memaksa Yani untuk melayaninya, paling Santo juga mengancam anakku hingga Yani terpaksa mau menuruti keinginan bejad anakmu, dasar keluarga sakit." Maki Bu Sumi tak terima kalau anaknya di hina, meskipun dalam hati Bu Sumi tak menyangkal jika apa yang dituduhkan Bu Tini benar adanya.


"Sudah! sudah!


Bu Sumi juga Bu Tini tolong tenang dulu, jangan saling hujat seperti ini, masalah tak akan pernah selesai kalau semua saling mengedepankan emosi, tolong tenang." Ustadz Ridwan yang dari tadi hanya diam menyimak akhirnya buka suara karena tak tahan mendengar perseteruan dua wanita yang sama sama merasa benar, sontak Bu Tini maupun Sumi langsung terdiam dengan muka ditekuk, kesal.


"Jadi benar kalau Santo sengaja kabur? Tanya pak Akwan dingin dengan tatapan penuh selidik ke arah dua orang yang masih saja betah menunduk, hening!


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2