
"Ini semua gara gara janda sialan itu, kamu harus balas mereka, mas! bikin malu saja sampai kita di datangi pak RT juga Babinsa. Sialan!" sungut Yani dengan wajah masam dan hati berkobar penuh kebencian.
"Iya! Kamu tenang saja, tidak harus sekarang.
Tiga hari lagi, kita akan obrak abrik tanaman di rumahnya si Harti itu. Itu kan bunga mahal mahal, biar nangis dia!" sahut Rudi dengan memiringkan bibirnya ke atas, akal liciknya sudah menyusun rencana untuk membalas sakit hatinya pada Harti.
"Wah, idemu boleh juga! aku saja gak punya pikiran ke sana. Sudah gak sabar lihat perempuan itu nangis kejer." Yani tertawa senang, dan membayangkan tetangga yang selalu dia benci menjerit dan menangis karena bunga bunga mahal nya dirusak. Padahal selama ini, Harti tidak pernah mengganggu kehidupan Yani, bahkan juga tidak pernah merasa ada masalah dengan keluarga Yani.
Hanya karena iri dan merasa malah saing, Yani begitu sangat membenci Harti.
Harti melakukan pekerjaannya seperti biasa, setiap dua hari sekali, Harti pergi kerumahnya Bu Lina untuk setrika dan bersih bersih rumahnya. Harti perempuan yang pekerja keras, tidak malu meskipun harus jadi pembantu, asal uang yang dihasilkan itu halal, untuk mencukupi kebutuhan anak semata wayangnya.
Harti sangat menyayangi Lisa. Tidak mau sampai Lisa kekurangan. Sejak kecil Lisa tak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.
Ayahnya sibuk dengan istri barunya dan juga anak bawaan istri baru, sedangkan Lisa yang anak kandung, diabaikannya.
"Mbak, apa bener kalau Yani di datangi pak RT juga bapak bapak?" tanya Bu Lina setelah Harti baru saja masuk rumahnya bersama Lisa.
"Iya, Bu! mereka sudah sangat meresahkan.
Mungkin dengan ditindak tegas begitu, mereka tidak lagi berbuat onar.
Apalagi, saya itu nyesek banget kalau pas mereka gangguin Lisa. Omongannya itu loh, ya Alloh! kasar dan tak pantas buat di dengar." balas Harti dengan mimik tak biasa, masih merasakan sesak dan sakit hati, dengan celotehan anak anak jalanan yang tadi dilontarkan pada anaknya.
"Iya mbak, aku juga tau kok. Bahkan kadang suaranya juga sampai dirumah sini.
Mas Doni, mau negur itu masih sungkan, karena warga masih diem saja, tidak ada yang mengeluh." sahut Bu Lina dengan mimik heran juga campur kesal dengan sikap Yani selama ini.
"Aku itu lagi kesel banget sama Yani itu, mbak!
__ADS_1
Masak dia terus telpon dan chat aku, mau pinjam uang tapi tidak tau sopan santun dan waktu.
Masa tengah malam nelpon, gak aku angkat kirim chat banyak banget, isinya ya itu, mau pinjam uang katanya. Sampai mas Doni marah." sungut Bu Lina gerah dengan kelakuan ajaib Yani.
"Terus, Bu Lina kasih?" tanya Harti dengan mimik penasaran menatap Bu Lina.
"Ya enggaklah, mbak!
Wong cara dia pinjam saja sudah gak sopan banget. Ya akhirnya aku ganti nomor telpon mbak, atas saran mas Doni. Biar gak dihubungi terus sama Yani, lama lama aku bisa emosi sama anak itu." sahut Bu Lina dengan menggelengkan kepalanya dan memijat pelipisnya pelan.
"Yang sabar, Bu! Dan jangan sampai dia tau nomor baru Bu Lina." balas Harti dengan sambil memulai menyetrika baju yang ada dalam keranjang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
POV Lara
Aku sedih dan juga bingung, sejak ibuk meninggal, aku sama sekali tak punya tumpuan hidup. Karena tidak ada yang perduli dan menyayangi aku seperti ibuk.
Makanya, saat keluarga dari ibuku, bik Rini mau bawa aku agar mau ikut dengannya dan disekolahkan, aku langsung mau dan tidak pikir panjang lagi. Apa lagi Yani sama sekali gak perduli. Rasanya malas sekali memanggilnya ibu, karena dia gak pantas disebut sebagai seorang ibu, gak punya perasaan sama sekali.
Namun, bayangan dan harapanku tak seindah kenyataan. Ternyata aku diperlakukan begitu buruk dirumah baik Rini. Hanya dijadikan pembantu, menyakitkan!
Dan aku pun tidak disekolahkan seperti janjinya waktu mau membawaku.
Dan parahnya lagi, suaminya akan menodaiku.
Untung saja bik Rini memergoki laki laki biadab itu.
Sebenarnya aku cuma kura kura tidur waktu itu.
__ADS_1
Makanya aku tau semua apa yang di katakan bik Rini dengan suaminya yang kurang ajar itu.
Waktu itu aku selamat dari niat jahat suaminya bik Rini, tapi aku harus terus hati hati. Dan aku mulai akan mengumpulkan uang, agar bisa pulang ke Kediri, menyelamatkan kehormatan ku sebelum direnggut oleh suami bik Runi yang tak punya nurani itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️