
POV Harina
Waktu mama sama papa menjodohkan aku dengan laki laki anak temannya. Aku sudah menolak, tidak setuju karena aku sudah punya kekasih, Soni.
Meskipun Soni bukan dari keluarga kaya, tapi dia laki laki pekerja keras. Saat itu dia sedang menyelesaikan pendidikannya di kepolisian, dan kurang satu tahun lagi lulus. Tapi mama maupun papa tak mau perduli dan terkesan tak suka pada Soni, padahal aku sudah katakan kalau aku dan Soni saling mencintai.
Tak ada penolakan dan aku di wajibkan untuk mengikuti kemauan orang tua. Kalau tidak namaku akan dicoret dari daftar ahli waris. Dan mama tidak mau lagi menganggap aku putrinya.
Dengan terpaksa akhirnya akupun menyetujui perjodohan itu.
Saat berkunjung, keluar dari Ari membawa begitu banyak oleh oleh dan hadiah untukku, bukan itu saja yang membuatku kagum, ternyata Ari, laki laki pilihan orang tuaku, begitu tampan, bahkan lebih tampan dari Soni.
Kulitnya putih, tinggi tegap dan wajahnya itu mengingatkan aku dengan sosok artis Indra Brugman, keren dan tampan.
Awalnya terpaksa tapi setelah melihat wajah calon suamiku, aku berubah menjadi merasa beruntung dan bahagia.
Saat perkenalan, kami diberi kesempatan untuk mengobrol, agar kenal satu sama lain, itu kata orang tua kami.
Dan kamipun memilih mengobrol di halaman belakang, tepatnya taman kecil yang dibuat mama.
"Apa kamu menerima perjodohan ini?" tanya Ari waktu itu dengan wajah datar dan suara dinginnya.
"Aku menatapnya sekilas lalu tersenyum dan menggeleng pelan. Berusaha bersikap lembut dan lugu, agar memiliki nilai plus di matanya.
"Aku sudah mempunyai kekasih, dan sangat mencintainya. Apa kamu sanggup hidup dengan laki laki yang hatinya dipenuhi bayangan wanita lain?
Pikirkan sebelum kamu memutuskan, karena aku tidak mencintaimu dan aku yakin, kamu juga sudah punya kekasih bukan?" terang Ari dengan dinginnya, bahkan sekedar melihat ke arahku pun dia enggan.
Aku terdiam, kecewa tapi aku terlanjur menyukai dan mengagumi sosoknya.
"Tapi aku tak sanggup menolak keinginan orang tuaku. Maafkan aku!" sahutku pelan dan rasanya tak iklas melepas laki laki sesempurna Ari.
"Aku sudah jujur dengan perasaanku. Jangan menyesal jika nanti rumah tangga yang kita jalani cacat, karena tidak ada cinta dan kenyamanan di dalamnya.
Pikirkan itu. Lebih baik kamu menolak perjodohan ini!" tekan Ari dengan suara penuh penekanan.
"Aku akan bicara dengan orang tuaku.
Tapi aku tidak janji, karena aku takut dikatakan anak durhaka." sahutku tegas, karena aku memang tak ingin melepasnya. Dia terlalu sempurna untuk di hindari.
Ari pergi meninggalkan aku begitu saja. Dia kembali bergabung di ruang tamu bersama keluarga, mau tak mau akupun menyusulnya.
Ari sedikitpun tak mau melihatku, wajahnya terlihat kaku dan dingin. Dia benar benar tertekan dengan perjodohan ini.
Akhirnya perjodohan benar benar terjadi, tanggal pertunangan sudah ditentukan.
__ADS_1
Tak ada senyum terukir di wajah tampannya. Tapi aku tak perduli, yang penting dia sudah jadi milikku.
Aku yakin lambat lain dia akan bisa mencintai aku, karena aku jauh lebih cantik dari wanita yang dia cintai. Aku sudah mencari tau siapa perempuan yang Ari Cintai, ternyata hanya perempuan dari keluarga miskin dan masih cantik aku. Jadi aku tak perlu khawatir karena Ari pasti akan mudah aku tundukkan. Pikirku waktu itu!
Soal Soni, aku pura pura sedih dan terluka saat mengatakan kalau aku harus menerima perjodohan orang tua, dan Soni pun percaya dan berjanji tidak akan menikah sebelum aku bahagia, itu katanya.
Lagian aku dengan Soni sudah melakukan itu berulang kali, wajar kalau dia begitu mencintaiku.
Hari pertama aku menjadi istrinya Ari, sungguh sesak, karena dia tidak mau menyentuhku dan meminta untuk tidur di kamar terpisah.
Tentu saja aku tak Sudi dan tak rela, aku mengancamnya kalau akan bilang pada orang tua kami, dan akhirnya dia pun mengalah dan kami tidur satu kamar, tapi tanpa melakukan apa apa.
Hingga pernikahan kami sampai satu bulan lamanya, Ari belum juga menyentuhku, dan akupun pura pura sedih dan menangis lalu seperti biasa akan bilang pada kedua orang tua untuk menggertak nya, dan akhirnya kami melakukan meskipun Ari sangat terlihat terpaksa.
Setelah ritual suami istri kami lakukan, wajah Ari mengeras, dan sikapnya semakin dingin.
Mungkin dia merasakan kalau punyaku sudah longgar dan tidak perawan lagi.
Dan benar saja, dia langsung menanyakan itu padaku.
"Dengan siapa kamu melakukan pertama kali?
Tidakkah bisa kamu menjaga kehormatan kamu sebagai perempuan dan bersabar melakukan dengan laki laki yang halal." sengit Ari sinis dan menatapku tajam.
"Aku kecewa bahkan jijik denganmu, sepertinya kamu sudah biasa melakukan itu tanpa takut dosa!" sambung Ari dengan wajah yang sudah merah padam.
"Soni, kekasihku dulu!
Tapi sejak aku menikah denganmu, kita sudah tidak lagi bertemu!" sahutku sedikit berbohong, karena aku dan Soni masih tetap menjalin komunikasi.
"Pasti kamu sudah melakukan berulang kali dengannya! Sekarang dia dimana, dan apa pekerjaan laki laki itu?" tatap Ari nyalang, dan jujur aku sangat takut dengan kemarahan laki laki dingin itu.
"Dia sedang menyelesaikan pendidikan kepolisian di Semarang." sahutku jujur dan terlihat Ari memiringkan bibirnya sinis lalu pergi meninggalkan aku begitu saja.
Sejak saat itu, dia tak lagi mau menyentuhku, menatap ku pun enggan.
Dingin dan kaku, tapi aku sangat merindukan kehangatan darinya, hingga aku nekad memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya, dan kamipun melakukan lagi.
Saat sadar, Ari begitu murka. Tapi aku tidak perduli, yang penting kebutuhan batinku terpenuhi, dan sakitnya saat dia melakukan padaku, mulutnya terus memanggil nama wanita itu, cintanya benar benar begitu dalam pada perempuan miskin itu.
Tak disangka akhirnya aku hamil, meskipun hanya berhubungan dua kali.
Dan selama aku hamil, dia selalu menuruti apapun yang aku minta dengan dalih ngidam, meskipun sikapnya masih selalu dingin.
Zahra lahir dengan begitu menggemaskan, dan Ari sangat menyayangi anak itu.
__ADS_1
Karena aku tak mau repot dan tak suka mengurus bayi, akhirnya aku meminta untuk dicarikan pembantu, tapi yang sudah berumur, agar tidak terjadi drama majikan selingkuh dengan pembantunya.
Bu Dasih, wanita paruh baya yang sudah dipilih mama mertua, orangnya rajin, baik dan sangat sopan. Aku menyukai perempuan itu dan mempercayakan urusan Zahra padanya, dan bahkan Bu Dasih sudah diminta oleh Ari untuk tidak bicara pada siapapun tentang dinginnya hubungan kami, kami sudah tidur terpisah. Dan Ari tak lagi pernah memberiku nafkah batin.
Dan sampai pada akhirnya aku mendengar kabar jika Soni sudah lulus dan mulai berdinas di kota ini.
Kami pun kembali menjalin hubungan, keluar masuk hotel sudah jadi hal yang lumrah buatku dan Soni. Hingga tak disangka, suatu saat Ari memergoki kami dan menggebrek kami saat di hotel dengan tanpa sehelai benangpun.
Saat itu juga Ari langsung menjatuhkan talak padaku, tapi aku tetap bersikeras untuk tinggal dirumahnya dengan hidup masing masing dan tanpa bersentuhan, karena saat itu aku tengah hamil anaknya Soni, dan sekarang sudah besar yaitu Zaki.
Bertahun tahun kami menutupi kemelut rumah tangga dan perselingkuhanku.
Namun tanpa aku sangka dan duga sebelumnya.
Ari membongkar semua itu hari ini. Dihadapan orang tuaku dan juga orang tuanya, bahkan Soni pun juga dimintanya untuk datang.
Sudah pasti mama dan papaku murka sekaligus malu dengan kelakuanku.
Tapi semua sudah terjadi, setidaknya aku tak lagi perlu pura pura.
Karena aku juga tengah hamil anaknya Soni yang kedua.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️