Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
episode 35


__ADS_3

Harina yang memang sudah tak punya perasaan apa apa sama Ari, hanya menanggapi dengan santai dan mengucapkan terimakasih atas informasi yang diberikan Yani.


Tak terdengar amarah dan umpatan apapun dari Harina, membuat Yani tak percaya dan semakin kesal.


"Aneh! suaminya selingkuh kok santai santai saja!


Kalau itu suamiku, sudah aku bejek bejek tuh janda! huh menyebalkan!" sungut Yani kesal luar biasa.


Niatnya mengadu domba ternyata tak berpengaruh sama sekali.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pukul lima sore, Ari pulang kerumahnya.


Terlihat Harina tengah duduk di teras bersama anak sulungnya yang tengah makan bakso.


"Asalamualaikum." Ari mengucapkan salam, menatap sekilas pada sosok perempuan ayu di depannya, lalu mengusap lembut kepala Zahra, putri sulungnya.


"Aku sudah masak sayur tahu kesukaan kamu, mas! Mau makan sekarang apa nanti?" sambung Harina setelah menjawab salam dari suaminya.


Ari tertegun, menatap tak percaya pada wanita yang masih menyandang istrinya, namun hampir tidak pernah sana sekali menyentuh dapur untuk menyiapkan makanan untuknya.


"Aku masih kenyang!" sahut Ari datar, lalu meneruskan langkahnya menuju kamar pribadinya, kamar yang berada di sebelah kamar anak anaknya di lantai atas, sedangkan Harina menempati kamar utama yang ada di lantai bawah.


Harina tersenyum, meskipun tak lagi cinta pada Ari, namun saat melihatnya pulang dengan wajah ceria membuatnya cukup bahagia, dan tak ada niatan untuk mempermasalahkan hubungannya dengan Harti, wanita yang dulu adalah mantan kekasih suaminya. Wanita yang selalu disebutnya setiap kali mereka melakukan aktifitas suami istri. Itulah salah satu penyebab Harina membeku dan tidak lagi punya rasa pada Ari, sakit hati juga kecewa, karena sang suami masih memikirkan wanita lain. Hingga Harina memilih mencari cinta dan kebahagiaan lain dengan menjalin hubungan lagi dengan laki laki yang dulu pernah mengisi hatinya.


"Sebaiknya, Kalian menikah. Aku sudah iklas melepas kamu, mas!" batin Harina dan tersenyum tipis menatap putrinya yang masih asik memakan bakso di mangkoknya.


"Mas!


Aku ingin kita bicara, bisa?" Harina mendatangi Ari di kamarnya, saat Ari sedang menyelesaikan pekerjaannya membuat laporan di laptopnya.


"Bicara soal apa?" sahut Ari dingin tanpa menoleh ke arah Harina, fokus pada layar datarnya.


"Soal kamu dan mbak Harti!" sahut Harina tenang dan memilih duduk di tepi ranjang menatap punggung suaminya.


Ari menoleh, mengernyitkan keningnya menatap lekat wajah sang istri, yang terlihat biasa saja bahkan dengan senyuman manis.


"Maksudnya?" sahut Ari yang masih tetap milih duduk ditempatnya namun sudah mengalihkan pandangannya pada sang istri.

__ADS_1


"Gosip itu semakin rame terdengar, mas!


Aku gak mau, namamu, nama mbak Harti dan juga aku jadi bahan gunjingan yang tidak tidak.


Halalkan mbak Harti, insyaallah aku iklas.


Kalau menunggu perceraian kita, itu akan memakan waktu panjang dan prosesnya pasti akan berbelit-belit." sahut Harina serius, tanpa ada beban sedikitpun.


"Harti yang gak mau! Dia takut akan melukaimu dan mengira hubungan kita baik baik saja." sahut Ari dengan mimik yang terlihat begitu banyak menyimpan bebannya.


"Biar aku yang nanti bicara sama mbak Harti, akan aku jelaskan. Sekaligus aku yamg akan meminangnya untukmu.


Dan untuk hubungan kita, aku sudah iklas. Kita ajukan gugatan perceraian.


Aku juga gak mau harus terus menjalani hubungan rumah tangga seperti ini." sahut Harina dengan sikap yang tenang dan masih sanggup melekukkan senyuman manis.


"Jika itu memang yang terbaik menurut kamu, aku akan ikuti. Dan kamu juga jangan terus terusan berzina dengan Soni, menikahlah!


Bukankah Soni itu duda?" sahut Ari penuh penekanan, karena selama ini seringkali melihat Haruna dan Soni keluar masuk hotel, meskipun secara agama mereka sudah tak lagi suami istri, karena sejak perselingkuhan Harina dan Soni terbongkar, sejak saat itu Ari sudah menjatuhkan talak pada Harina.


Satu atap tapi tidak pernah saling bicara apalagi bersentuhan.


Dia bulan lalu, sambil nunggu surat cerai kira beres." sahut Harina dengan suara bergetar, takut Ari murka.


Ari memejamkan matanya, mengepalkan kedua tangannya erat, menahan emosi yang membuncah di dalam hatinya.


"Keterlaluan kamu Harina! Harusnya kamu bicara denganku dan tak lagi tinggal disini!" ucap Ari dengan tatapan tajam penuh amarah.


"Maafkan aku, mas!


Aku bingung, dan gak tega sama anak anak!" sahut Harina gemetar, merasa bersalah dan juga takut Ari tak bisa menahan amarahnya.


"Telpon Soni, minta dia kesini dan jemput kamu!


Kita harus bicarakan ini sampai tuntas.


Telpon dua sekarang, aku tunggu!" sahut Ari yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kamar menuruni tangga dengan perasaan yang begitu terluka. Harina begitu keterlaluan dan tak pernah menghargai keberadaannya.


Tanpa menunggu lama, Harina lekas menghubungi laki laki yang sudah jadi suami sirinya, dan Soni langsung meluncur setelah Harina menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Ari duduk diruang tamu, dan langsung menelpon kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya, meminta mereka datang kerumah saat itu juga Tania sepengetahuan Harina. Karena mereka harus tau yang sebenarnya agar tidak salah paham, takutnya jika mereka tidak tau duduk permasalahannya, mereka akan mengira Harti lah penyebab perpisahan mereka.


Karena rumah orang tua Ari tak jauh, hanya berjarak sekitar satu kilometer, mereka sudah datang duluan, Bu Linda sudah tau kemelut rumah tangga anaknya jauh jauh hari, tapi memilih bungkam dan tak ingin ikut campur lebih jauh, mempercayakan semuanya pada anak lelakinya, karena percaya jika Ari mampu menyelesaikan semuanya dengan baik.


Harina kaget saat melihat kedua mertuanya sudah duduk di ruang tamu bersama Ari, sedangkan diluar sudah ada Soni yang baru saja datang.


'Tidak usah kaget, aku yang meminta mama sama papa datang, agar tidak ada salah paham dikemudian hari.


Ajak Soni masuk, aku dengar mobilnya sudah ada di luar." Ari menatap Harina dingin dan paham dengan kekalutan yang ada di wajahnya.


"Kita tunggu mami dan papi kamu, sebentar lagi mereka juga akan datang. Semua biar clear dan selesai dengan tanpa salah paham." lanjut Ari yang berusaha bersikap tenang namun dengan wajah yang begitu dingin, sedangkan Soni dan Harina semakin dibuat gelisah dengan kehadiran orang tua Harina. Mau tak mau mereka akan dipersalahkan karena sudah menjalin hubungan di saat Harina masih menyandang istri sah dari Ari Kusuma.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2