
"Sudah! sudah!
Bu Sumi juga Bu Tini tolong tenang dulu, jangan saling hujat seperti ini, masalah tak akan pernah selesai kalau semua saling mengedepankan emosi, tolong tenang." Ustadz Ridwan yang dari tadi hanya diam menyimak akhirnya buka suara karena tak tahan mendengar perseteruan dua wanita yang sama sama merasa benar, sontak Bu Tini maupun Sumi langsung terdiam dengan muka ditekuk, kesal.
"Jadi benar kalau Santo sengaja kabur? Tanya pak Akwan dingin dengan tatapan penuh selidik ke arah dua orang yang masih saja betah menunduk.
Hening...!
"Iya, kami memutuskan untuk menyuruh Santo pergi, agar tidak bertanggung jawab pada janin yang belum tentu itu darah dagingnya." Pak Arip menguatkan diri untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pak Akwan tegas, tak ada lagi keraguan yang tadi sempat membuat nyalinya ciut.
Sebelum melanjutkan pembelaannya, pak Arip, berulang kali menghembuskan nafasnya kasar, melawan rasa takut akan penghakiman dan berusaha meluruskan apa yang telah menjadi tuduhan pada keluarganya.
"Sudah bukan menjadi rahasia umum, jika saat ini Yani dikabarkan sedang hamil, dan tidak dipungkiri lagi seperti apa tingkah laku Yani dikampung ini, dari tentang gosip dengan Reno hingga Kirman, saya yakin semua yang ada diruangan ini pasti mengetahui desas desus tersebut, itulah kenapa kami meragukan pengakuan Yani yang menuding Santo ayah dari anak tersebut, sedangkan dia melakukan dengan beberapa laki laki lainnya, dan satu lagi, bukankah wanita hamil tidak diperbolehkan melaksanakan pernikahan, dan harus menunggu melahirkan dulu?" sambung pak Arip lancar dengan wajah mengeras.
Pak Arip mengatakan secara gamblang apa yang ada dipikirannya, kali ini dengan sikap tenang bahkan dengan sorot tajam ke arah Bu Sumi, pak Arip menangkap ada aura tidak nyaman dari gelagat perempuan yang terkenal banyak bicara itu, dan itu semakin membuat pak Arip yakin, jika tuduhan yani terhadap Santo pasti ada andil dari Bu Sumi.
Masih dengan posisi semula, pak Arip berulangkali nampak meraup mukanya dengan kasar, terlihat lelaki tinggi tegap itu sedang berusaha mengontrol dirinya untuk tetap tenang, setelah berhenti sesaat, pak Arip kembali membuka suaranya.
"Saya tau, kalau Santo juga punya andil dalam masalah ini, Santo sudah mengakuinya, kalau pernah melakukan perbuatan tidak senonoh dengan Yani sebanyak dua kali, tapi disini yang melakukan itu bukan hanya Santo saja.
Bukankah begitu Bu Sumi?" Lanjut pak Arip tegas, bahkan sempat membuat Bu Sumi salah tingkah ketika tiba tiba namanya disebut dengan tatapan tak suka dari sorot mata pak Arip.
"Jangan banyak bicara kamu, anakku tidak seburuk itu, tidak usah mencari pembenaran dengan memfitnah anakku, bilang saja kalian ingin lepas tanggung jawab atas perbuatan Santo, laki laki brengsek itu sudah menghamili anakku tapi justru kalian melindunginya dengan berbagai alasan yang dibuat buat, memalukan!". Ucap Bu Sumi penuh amarah, meskipun tak yakin jika Santo ayah dari janin yang dikandung Yani, tapi sebagai ibu, Bu Sumi sangat tidak terima dengan hinaan yang dilontarkan pak Arip untuk anak kesayangannya, Yani selalu benar Dimata Bu Sumi, tak heran jika anak itu selalu berbuat semaunya tanpa tau batasan sebagai anak perempuan.
"Baiklah, didepan semua orang yang ada disini, saya sekeluarga berjanji, jika benar anak yang dikandung Yani benar darah daging Santo, maka kami akan bertanggung jawab dan menikahkan mereka, tapi kami butuh bukti untuk itu, kita tunggu sampai anak itu lahir, setelah itu kita lakukan tes DNA."
"Terlalu banyak drama kamu Rip, terus gimana nasib Yani, apa dia akan hamil tanpa suami? Nggak usah Ngada Ngada kamu." Sungut Bu Sumi tak terima, dan pak Parjo nampak hanya diam saja, lelah juga tak lagi ingin menyangkal, karena apa yang dikatakan pak Arip benar adanya, kepalanya sudah sangat pusing dengan apa yang menimpa keluarganya.
__ADS_1
Malu, menyesal, bahkan benar benar lelah.
☘️☘️☘️ ☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sudah hampir dua bulan dari kejadian itu, perut Yani semakin kelihatan membesar, bahkan tanpa malu dan tetap bersikap seperti biasa Yani tetap melakukan aktifitas layaknya anak seusianya, main, beli jajan ke warung dan nongkrong dengan teman temannya.
Bahkan perutnya membesar tak menjadikan gadis itu minder apa lagi malu, tak jarang juga Yani masih suka bertemu dengan Reno seperti biasa, melakukan tanpa beban hanya demi satu dua lembar uang ratusan, Yani tidak pernah menyadari kalau gerak geriknya selalu diawasi keluarga Santo juga warga sekitar, sehingga empati untuknya seolah menguap kerana perbuatannya sendiri.
Menjijikkan, itulah yang selalu terlontar dari mulut mulut tetangganya mencibir perbuatan Yani yang tidak punya malu itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Bu! ibuk...perut Yani mules, sakit banget buk." Teriak Yani yang menahan sakit di kamarnya. Mendengar suara teriakan kesakitan dari sang anak, Bu Sumi lari tergopoh gopoh menuju kamar Yani dan meninggalkan rutinitasnya di dapur.
Owek owek owek, terdengar suara tangis bayi dari ruangan bersalin rumah salah satu bidan kampung yang rumahnya tak terlalu jauh.
"Alhamdulillah, selamat ya bayi perempuan yang sehat, biar dibersihkan dulu." Ungkap Bu Santi, bidan yang terkenal ramah dan baik hati kepada semua orang.
Yani dan ibunya sudah bisa bernafas lega karena bayi dan ibunya selamat tanpa kurang apapun.
"Yan! anakmu gembul, kamu kasih nama siapa?." Bu Sumi sedang menggendong cucunya setelah tadi dibersihkan dan diberi susu, bayi yang sehat dengan berat badan hampir empat kilogram.
"Yani nggak tau buk, terserah mau dikasih nama siapa, Yani juga belum sanggup kalau ngasuh anak itu, biar dia sama ibuk saja ya nantinya." Yani memalingkan muka dari anak yang baru dilahirkannya, cuek dan tidak mau perduli sama sekali.
"Owalah yan, kamu kan bisa belajar pelan pelan, nanti ibu bantu ngajarin kamu, bagaimanapun ini anakmu loh, ibu juga nggak ngerti nama apa yang cocok untuk anakmu ini, biar nanti kita pikirkan lagi setelah kamu keluar dari sini, untuk urusan akta lahir, biar nanti Ikut KK ibuk, jadi anak ibuk bapak. Gimana lagi, kamu nggak punya suami." Tutur Bu Sumi sendu.
__ADS_1
"Terserah ibuk saja, Yani ikut saja gimana baiknya." sahut Yani seolah tak mau perduli.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️