
Dalam keadaan kesulitan seharusnya Yani bisa mengesampingkan hobinya yang suka membeli barang barang yang tidak penting, bahkan nampak ibunya juga selalu membenarkan kelakuan anaknya, karena setiap Adi menegur Yani, Bu Sumi selalu saja membela anak perempuannya dan itu semakin membuat Yani merasa senang karena sang ibu selalu ada untuk membelanya, seperti pagi ini, pukul tujuh pagi Yani sudah pergi ke pasar dengan alasan belanja, padahal lagi asik ngobrol dan sibuk memilih baju di tokonya Bu Sri, toko Bu Sri memang menggunakan sistem angsur tapi juga menerima pembelian secara cash, tapi kebanyakan pelanggan memilih untuk mengangsurnya karena merasa lebih ringan, dan Yani adalah salah satu pelanggan dagangan Bu Sri dengan sistem angsur, bahkan kadang Yani tidak tanggung tanggung saat mengambil barang, empat hingga enam baju sekaligus, karena selama ini Yani selalu beres dalam angsurannya, Bu Sri selalu menaruh rasa percaya pada Yani, meskipun Yani mengambil dalam jumlah banyak, Bu Sri selalu mengijinkan.
Yani sangat senang karena ditangannya sudah ada satu kantong kresek yang berisi kaos, celana, untuk dirinya dan dua stel baju anak anak untuk Lara anaknya, semua total hutangnya hampir tiga ratus ribu, dan boleh dibayar tiga sampai empat kali, setelah mendapat apa yang di inginkan, Yani meneruskan langkahnya untuk belanja sayuran. Beli sayur bayam untuk memasak sayur bening kesukaan Adi suaminya, tak lupa juga membeli tempe dan ayam untuk lauk pauknya, karena bagi Yani, menu ayam itu wajib, sejak kecil dia sangat suka dengan ayam.
"Kemana aja kamu, Yan? kok baru pulang jam segini, ditunggu dari tadi nggak pulang pulang, padahal ibu pingin cepat bisa masak.
Kasian bapakmu juga Adi yang sudah kelaparan. Yan! Yan! kamu itu kebiasaan, kalau disuruh pasti mampir mampir dulu." Omel Bu Sumi kesal dengan tingkah Yani, karena hampir dua jam Yani baru pulang dari pasar, sedangkan dirumah semua sudah sangat kelaparan, alhasil Bu Sumi hanya memasak mie instan untuk menu sarapan.
"Tadi mampir dulu ke tokonya Bu Sri Bu, kasian Lara, bajunya sudah banyak yang kekecilan, biasa kalau sudah ketemu Bu Sri pasti banyak yang diobrolin." Yani menjawab Omelan ibunya dengan santai, sambil meletakkan belanjaannya di atas meja yang ada di dapur.
"Kamu hutang lagi sama Bu Sri, Yan?." Bu Sumi menatap anaknya dengan geram, padahal angsuran motornya belum terbayar, tapi Yani sudah menambah hutang lagi, meskipun Bu Sumi sangat memanjakan Yani, tapi di saat tertentu Bu Sumi juga bisa merasa kesal dengan anak perempuannya itu.
"Iya....tadi Yani beli buat Lara dua stel dan juga buat aku sendiri." Balas Yani cuek sambil mengeluarkan baju yang tadi diambilnya dari Bu Sri.
Bu Sumi menghirup nafasnya dalam dan dihembuskannya dengan kasar, ada rasa kesal dengan kelakuan anaknya itu, bisa bisanya masih belanja dengan sesuatu yang tak terlalu penting dalam keadaan ekonomi keluarga yang Morat Marit.
"Setelah ini, sudahi hobimu itu, Yan!
Wes jangan lagi menambah hutang, pikirkan dulu bagaimana caranya agar bisa membayar kreditan montormu, sekarang bapakmu sudah tidak punya pekerjaan tetap, hasil dari ngojek cuma cukup untuk kita makan saja, belum lagi untuk kebutuhan Lara, untuk kali ini kamu harus nurut omongan ibumu ini, jangan kamu bantah." sungut Bu Sumi kesal luar biasa.
"Iya...iyaa! Yani tidak akan lagi berhutang, Yani juga akan cari kerja biar bisa dapat uang sendiri, biar bisa jajan dan membeli apa yang Yani mau." Sahut Yani asal dan terus fokus melihat baju yang tadi dibelinya.
Seketika Bu Sumi langsung menoleh ke arah anaknya, menatapnya lekat, akan tetapi tak sedikitpun Yani merasa gentar dengan pandangan kesal ibunya.
"Emangnya kamu mau kerja apa, Yan? Wong kamu aja SMU gak tamat, kalau cuma jadi pembantu, ibu nggak iklas, apa nanti kata orang, masak anaknya Sumi cuma jadi pembantu, ora Sudi ibu." balas Bu Sumi dengan wajah masam.
"Siapa sih Bu, yang mau kerja jadi pembantu?
Yani juga ogah lah, nanti bisa bisa kayak janda sebelah itu, mbak Harti yang sombongnya minta ampun, padahal cuma kerja di rumahnya Bu Lina sebagai tukang gosok tapi gayanya itu loh sok banget." Sungut Yani tak suka.
__ADS_1
Mbak Harti adalah janda anak satu, wanita yang kuat juga tangguh, mbak Harti menjadi janda karena suaminya kepincut dengan janda, tidak ingin sakit hati lebih dalam lagi, akhirnya mbak Harti menggugat cerai suaminya, dan sejak berpisah, mantan suaminya lepas tangan dengan kebutuhan anaknya, hingga mbak Harti harus berjuang pontang panting sendirian demi bisa mencukupi kebutuhan.
Karena sosoknya yang begitu tegar juga pendiam, banyak yang welas asih terhadapnya, tapi mbak Harti anti dikasihani, mbak Harti hanya mau diberi uang jika tenaganya dibutuhkan, sifatnya itulah yang membuat para tetangga semakin salut dan hormat, meskipun janda tapi mbak Harti adalah janda terhormat, ibadahnya tekun, orangnya santun juga kalem, jika ada kajian mbak Harti lah yang selalu diminta untuk memimpin doa.
Yani juga Bu Sumi memang kurang menyukai mbak Harti, karena bagi mereka mbak Harti orang yang sombong dan sok alim, padahal buat mbak Harti tidak suka berkumpul dengan ibu ibu dengan urusan yang tidak bermanfaat adalah suatu hal yang hanya akan mendatangkan kemudharatan, bukan bermaksud untuk sombong, hanya ingin menjaga diri dari ghibah juga ke sia siaan, waktunya begitu berharga, beribadah dan mencari nafkah serta menjaga sang buah hati.
"Owalah yan, Yan!
Jangan ngomongin tuh janda, bikin ibu kesal saja, apa lagi kalau lihat bapakmu memandangi perempuan itu, pingin rasanya ibu raup mukanya yang sok alim itu sama sambel, huuuuuh kesel ibu." Bu Sumi bersungut sungut dengan kebencian yang tak mendasarnya itu.
"Ibu kayaknya cemburu banget sama itu janda, padahal bapak aja yang suka cari perhatian ke dia, mbak Harti itu sukanya bukan sama bapak, tapi sama pak Ari tentara itu loh Bu." balas Yani dengan berapi api.
"Masa sih Yan, kamu tau darimana?" Bu Sumi langsung semangat mendengarkan gosip yang dibawa anaknya.
"Yani sering lihat kok, kalau pak Ari sering nemuin mbak Harti kerumahnya Bu Lina, kan suaminya Bu Lina juga tentara, sepertinya mereka berteman, dan pak Ari kan dulu mantannya mbak Harti, masa gitu aja ibu nggak tau sih."
"Iya, pak Ari sudah punya istri, istrinya perawat, cantik, tapi kok masih suka sama mbak Harti ya?"
Yani juga penasaran dengan pikirannya sendiri.
"Wah ini bisa jadi gosip hangat, Yan.
Apa tetangga sudah pada tau yan, soal gosip ini?." tanya Bu Sumi sumringah, karena mendapat gosip hot sepahit ini.
Yani menghedikkan bahunya. "mana Yani tau Bu".
"Kalau begitu itu biar jadi urusan ibu, ibu akan cari tau, seru kayaknya, sok alim memang padahal doyan sama lakinya orang." Bu Sumi merasa senang karena mendapatkan bahan untuk dijadikan gosip, sekaligus untuk membuat nama janda yang dibencinya menjadi buruk dimata para tetangga yang selama ini memujinya.
"Iya deh, gimana ibu saja, Yani ke kamar dulu Bu, nanti kalau sudah matang ibu kasih tau Yani, Yani sudah lapar, tadi di pasar cuma makan jenang grendul saja."
__ADS_1
Bu Sumi hanya mengangguk saja dan langsung meneruskan acara memasaknya dengan penuh semangat, Bu Sumi ingin cepat cepat menyelesaikan urusan dapurnya, biar cepat bisa mengabarkan gosip yang sudah digenggamnya pada geng ghibah nya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1