Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
bab 6


__ADS_3

Ada beberapa bapak bapak yang juga sedang nongkrong di warung kopi dekat pos kamling, sudah jadi rutinitas sepertinya, karena hampir tiap hari yang nongkrong ya itu itu saja.


Pak Wiji, pak Samsul, Hengki, Endar, Ipang, Soni, dan sinyo.


Pak Parjo, mendudukkan diri di bangku kosong sebelah barat, dan langsung mengundang perhatian orang yang ada di dalam warung, bahkan satu persatu memilih pindah tempat duduk mendekati Parjo.


Jiwa kepo ternyata bukan milik para emak saja, buktinya bapak bapak yang ada di warungnya Mbah min juga bisa kepo layaknya para emak.


"Jo! gimana hasil musyawarah sama keluarganya Santo, aman?" Pak Wiji membuka obrolan kekepoan ala bapak bapak.


Parjo mendesah dalam, sorot matanya terlihat lelah, nampak gurat cemas jelas tergambar dari gerak tubuhnya.


"Belum ada keputusan. Yang ada justru Sumi sama bu Tini perang mulut, tapi pak Arip sudah berjanji untuk menyelesaikannya, bahkan bilang besok mau kerumah membicarakan solusinya." Jawab Parjo lemah.


"Itu berarti Santo mengakui kalau Yani hamil karena dirinya, buktinya pak Arip bilang mau menemui dan datang ke rumahmu besok Jo, wah beruntung kamu Jo, dapat besan orang kaya." Celetuk pak Wiji dan mendapat persetujuan bapak bapak yang lain, malu sudah pasti, sedih tentu saja, marah, tapi sama siapa? Parjo hanya bisa diam menanggapi ocehan tetangganya.


"Kami nggak akan diam saja kalau memang benar Santo pelakunya dan kalau umpama dia nggak mau bertanggung jawab, biar warga yang turun untuk menyeretnya agar bertanggung jawab atas perbuatannya, kita lihat besok saja, gimana kelanjutan kasusnya anakmu ini." Pak Samsul memberikan komentarnya dan di iyakan oleh yang lain.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Asalamualaikum...."


Bu Tini, pak Arip dan Santo, datang kerumahnya Yani, sesuai janjinya pak Arip jika akan datang untuk membicarakan kelanjutan kasusnya santo dan Yani.


Sumi memang sudah mempersiapkan suguhan dari sejak siang tadi, karena Sumi yakin kalau keluarga calon besannya akan datang memenuhi janjinya, dengan langkah tergesa Sumi membukakan pintu rumahnya dan di ikuti oleh Parjo, nampak keluarga Santo datang dengan formasi lengkap, ada Bu Tini, Santo, kedua kakak perempuan Santo, pak Arip beserta istri, dan Bu Lasmini neneknya Santo.


Sedangkan dirumah Bu Sumi juga sudah berkumpul beberapa saudara dari Parjo, ada Winto, Surnadi, Titin, dan Yanto, semua adalah adik adiknya Parjo, dan juga hadir pak RT diantara kedua keluarga itu.


Mempersilahkan semua untuk duduk dan suguhan beraneka cemilan juga teh dan kopi terhidang dimeja kayu jati diruang tamu rumah Parjo. Suasana nampak tegang dan canggung, semua seolah larut dengan pikirannya masing masing.


"Baiklah, saya selaku pakdhenya Santo menggantikan almarhum bapaknya Santo. Mewakili keluarga besar, ingin menyampaikan maksud kedatangan kami ke rumah pak Parjo, kami ingin menyelesaikan baik baik masalah yang disebabkan oleh anak anak kita." Pak Arip membuka obrolan dan seketika memecah keheningan dalam ruangan bernuansa hijau muda yang cukup luas, semua mata mulai tertuju pada sosok yang terkenal tegas itu.


Sebelum melanjutkan ucapannya, pak Arip menghembuskan nafasnya dalam, berusaha untuk tetap tenang dan berpikir menggunakan kalimat yang tak menyinggung semua orang, karena jujur hatinya begitu ragu, jika anak yang ada dalam kandungan Yani, bukanlah benih Santo saja, tak rela bahkan tak iklas, jika keponakannya harus mempertanggung jawabkan sesuatu yang dibuat berjamaah.


Namun sekuat tenaga pak Arip menekan emosinya agar tidak terjadi kegaduhan dan akhirnya warga turun tangan dengan cara anarkis, itu harus diperhitungkan, dan untuk itu pak Arip sudah memikirkan cara, agar Santo lepas dari jeratan tuduhan seorang Yani.

__ADS_1


"Sebelum saya melanjutkan obrolan ini, saya minta maaf bila nanti ada ucapan saya yang mungkin membuat tak enak hati bahkan tersinggung, tapi saya dan keluarga terus terang minta penjelasan yang sejelas jelasnya dari Yani, karena saya sering mendengar omongan miring tentang kelakuan Yani diluaran sana, dan jujur saya meragukan jika Yani hamil karena Santo, karena setau yang saya dengar Yani sering berhubungan dengan banyak laki laki." Pak Arip berbicara dengan ekspresi nya yang datar sambil matanya terus menatap lurus ke arah Yani yang sedari tadi hanya fokus pada layar ponselnya.


Seketika Yani langsung mendongak ke arah suara dengan membulatkan bibirnya, menyadari semua orang melihat ke arahnya.


Yani pun langsung salah tingkah, dan pura pura menunduk untuk menutupi kegugupannya akan ucapan pak Arip.


"Aaah sial, kenapa pak Arip bilang seperti itu dihadapan semua orang, kalau semua jadi terpengaruh dan mengiyakan tuduhannya, bisa bisa aku gagal jadi istri Santo, memang aku sering kencan dengan banyak laki laki tapi hatiku cuma cinta sama Santo, duh bagaimana ini!." Yani hanya mampu bergumam dalam hatinya, merutuki ucapannya pak Arip.


"Apa maksud pak Arip bicara seperti itu pada anak saya? Anak saya bukan perempuan murahan ya pak, dia begitu sama Santo karena dijebak, buktinya Santo selalu kasih pil ke Yani sebelum melakukan itu, jadi jaga bicara bapak, saya sebagai ibunya nggak terima loh." Bu Sumi langsung berkacak pinggang tak terima dengan apa yang pak Arip tuduhkan, meskipun dalam hatinya membenarkan ucapan pria tegas itu, tapi demi misinya Bu Sumi harus bisa bersandiwara, seolah tuduhan pak Arip hanya fitnah belaka.


"Sudah Bu sudah!


Jangan teriak teriak begitu, kita bicarakan baik baik, kita tanya ke Yani dan Santo nya, biar jelas." Pak Parjo berusaha menenangkan sang istri biar tidak mengedepankan emosinya, karena bisa bisa pertemuan kali ini akan gagal lagi dan tidak mendapat solusi, dengan muka masam Bu Sumi menuruti perkataan suaminya, matanya secara tidak sengaja melihat senyuman sinis dari calon besannya.


Bu Tini sedari tadi cuma diam saja, hanya menatap tak suka pada Yani dan keluarganya. Bu Tini memang sengaja diam, karena pak Arip kakaknya sudah mewanti wantinya agar diam saja.


"Yani, jawab dengan jujur pertanyaan bapak, apa benar kamu sering melakukan itu dengan banyak pria seperti yang pak Arip tuduhkan?


Jangan bikin malu kamu Yani, apa begitu cara bapak mendidikmu?" Parjo sekuat tenaga menahan amarahnya, berharap Yani tidak melakukan apa yang dituduhkan keluarga Santo.


"Yani hanya melakukan sama mas Santo kok pak, memang Yani sering main sama teman teman cowok tapi Yani cuma sekedar main saja tidak pernah melakukan begituan, hanya sama mas Santo saja." Yani menjawab pertanyaan bapaknya dengan santai, seolah dia memang perempuan yang lugu yang begitu mudah di perdaya oleh cintanya pemuda seperti Santo.


"Jadi benar, kalau kamu hamil anak Santo, Yan? dan bagaimana dengan Reno, yang tiap hari kamu temui di pinggir kali, dan bagaimana rasanya dihajar sama istrinya Kirman karena kamu ketauan sedang berduaan di gubuk sama Kirman?


Apa itu belum cukup bukti seperti apa kamu sebenarnya?." Pak Arip menatap tajam ke arah bocah ingusan yang mulai pandai bersandiwara demi menutupi kebusukannya, sedangkan Bu Sumi dan semua yang ada cukup ternganga dengan ucapan pak Arip yang tenang tapi cukup menusuk.


"Itu....itu tidak seperti yang pak Arip bayangkan, saya ketemu Reno dipinggir kali cuma ngobrol dan main saja, masak saya mau aneh aneh sama Reno, yang sudah seperti kakak saya, dan untuk mas Kirman itu juga salah paham, istrinya saja yang tau tau ngamuk kayak orang Kesambet, pokoknya aku cuma melakukan itu sama mas Santo saja, anak ini anak mas Santo.


Kenapa sih bapak memojokkan Yani?


Salah Yani apa? Yani korban loh pak, huhuhuhu". Yani mengeluarkan air mata buayanya agar tak lagi terus dipojokkan oleh pak Arip.


"Sudah sudah, kalian dengar sendiri kan penjelasan anak saya, kalau pak Arip kesini hanya berniat untuk memfitnah Yani lebih baik kalian pulang, tapi saya akan pastikan untuk tetap menyeret Santo bertanggung jawab kepada kehamilan Yani, semua warga disini sudah mengatakan siap membantu, karena mereka juga sudah tau seperti apa kelakuan Santo." Bu Sumi dengan bersungut sungut meluapkan amarahnya, tak terima jika keluarga Santo menjelekkan anaknya.


"Baiklah, Santo akan bertanggung jawab, tapi untuk urusan ijab saya serahkan pada pak Parjo dan kami hanya menerima beresnya saja." Pak Arip dengan tenang menimpali amarah Bu Sumi.

__ADS_1


"Apa? Sudah menghamili anak saya, masih nyuruh kita repot sendiri ngurus pernikahan, kayak situ orang penting saja." Bu Sumi makin meradang amarahnya makin membara.


"Yasudah, kalau tidak mau juga nggak papa, lagian yang mau nikahkan Yani bukan Santo, permisi." Pak Arip masih menyikapi amarah Bu Sumi dengan sikap tenang bahkan terkesan cuek, dengan santai pak Arip berdiri dan memilih meninggalkan ruangan dengan diikuti semua keluarganya.


"Tunggu!"


Dengan suara parau Parjo menghentikan langkah keluarga Santo, dan seketika merekapun memilih berhenti dan berbalik menghadap ke arah pak Parjo dengan tatapan meremehkan.


"Baiklah kami yang akan urus semuanya, dan kami harap kalian tidak lagi mencari alasan untuk lari dari tanggung jawab." Pak Parjo menatap tajam ke arah pak Arip dan keluarganya, mau tidak mau Parjo menyetujui keinginan Arip, semua demi Yani anaknya.


"Baiklah saya tunggu kabar selanjutnya." jawab pak Arip singkat dan tanpa pamitan mereka pergi meninggalkan rumah pak Parjo dan menyisakan lara pada keluarga itu, secara harga dirinya telah di injak injak tak tersisa oleh Santo dan keluarganya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2