Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
episode 31


__ADS_3

Dan parahnya lagi, suaminya akan menodai ku.


Untung saja bik Rini memergoki laki laki biadab itu.


Sebenarnya aku cuma kura kura tidur waktu itu.


Makanya aku tau semua apa yang di katakan bik Rini dengan suaminya yang kurang ajar itu.


Waktu itu aku selamat dari niat jahat suaminya bik Rini, tapi aku harus terus hati hati. Dan aku mulai akan mengumpulkan uang, agar bisa pulang ke Kediri, menyelamatkan kehormatan ku sebelum direnggut oleh suami bik Rini yang tak punya nurani itu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Setelah satu bulan dari kejadian pengusiran anak anak jalanan dirumahnya Yani.


Yani hamil, dan Rudi semakin bertingkah ngawur. Jarang pulang dan jadi buronan polisi Kareena menggadaikan sepeda montor milik tetangganya.


Yani yang memang sudah terbiasa hidup bebas, tak perduli sama sekali di tinggal kabur Rudi ke Surabaya. Malah Yani semakin bertingkah liar dengan berganti ganti pasangan, tak perduli jika sedang hamil.


Hidup bebas dengan berteman sama anak anak pengamen dan pengemis di jalanan. Meneguk minuman keras dan tidur dengan sembarang laki laki.


"Yan! kamu itu hamil, berhenti kluyuran gak jelas. Bapak itu malu, omongan tetangga tentang kamu yang gak bener itu!" ucap Parjo menatap anak perempuannya dengan hati miris.


"Buat apa bapak dengerin omongan orang. Kita kenapa kenapa, juga bukan mereka yang nanggung. Kita gak makan juga mereka gak bakalan ngasih. Jadi ya biarin sajalah, mulut mereka bilang apa saja, Yani sih gak perduli. Jangan dibuat pusing!" sahut Yani santai sambil makan nasi goreng yang tadi dibelinya.


"Kamu itu, kalau dibilangin mesti ngeyel, gak pernah mau dinasehati. Pusing bapakmu ini!" bentak Parjo kesal dengan kelakuan anaknya yang tidak berubah.


Yani memilih tak perduli dengan ocehan bapaknya, dan terus mengunyah makanan di mulutnya santai. Kandungannya sudah terlihat membesar, tanpa periksa sama sekali. Tapi Yani setiap mengandung selalu terlihat baik baik saja dan gak pernah melihat lemes seperti orang hamil pada umumnya.


Saat sedang menikmati makanannya, ponsel Yani berdering. Terlihat nama Ika tengah memanggil.


Yani langsung mengangkatnya.


"Hallo, gimana Ka?" Yani langsung menanyakan maksud Ika menelpon dirinya tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Yani, aku ada kabar baik buat kamu!


Anakmu sudah ada yang mau adopsi.


Nanti sore kamu ke rumahku, orangnya mau kesini." sahut Ika di ujung sana. Ika adalah janda muda yang juga punya kehidupan yang sama seperti Yani, bebas dan tidak tau tujuan. Tiap hari Ika mengemis di lampu merah dengan pakaian seksinya, padahal kulitnya hitam dan tubuhnya kurus kering, tapi kepercayaan dirinya begitu besar.


"Oke, aku nanti kerumah kamu.

__ADS_1


Orangnya gimana, kaya gak?" balas Yani antusias, senang karena setelah ini akan ada orang yang kasih uang buat biaya persalinan dan biaya perawatan selama dia masih mengandung.


"Orang kaya, tapi sudah tua. Sepuluh tahun gak punya anak, pas aku tawari, orangnya'langsung senang dan mau. Nanti kamu minta uang yang agak banyak saja. Kayaknya orangnya bener bener pingin dapat anak. Tapi ingat, kamu jangan lupa aku di kasih bagian!" sahut Ika dengan nada cempreng lalu ketawa begitu besar.


"Beres, pokok kamu bantu aku." balas Yani senang dan menutup teleponnya lalu meneruskan makannya dan bersiap siap pergi kerumahnya Ika dengan jalan kaki, tau Ika ada tak jauh dari kampung Yani, hanya berjarak satu kiloan.


Pak Parjo memilih diam, tak lagi mau ikut campur urusan anak perempuannya. Capek juga sudah malu dengan ulah anaknya itu. Tapi mau gimana lagi, dinasehati dan di tegur seperti apapun, Yani seolah tidak perduli. Namun di lubuk hari pak Parjo, begitu menyayangi Yani, wajahnya yang mirip banget dengan Bu Sumi selalu membuatnya merindukan sang istri.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Ada dua orang setengah baya keluar dari mobil Avanza warna hitam di depan rumahnya Ika.


Yani langsung mengembangkan senyuman, hatinya sangat berbunga karena yang akan mengadopsi anaknya orang kaya, pasti dia akan dapat uang banyak dari mereka. Batin Yani terus berbisik.


"Asalamualaikum." sapa pasangan suami istri saat akan memasuki rumahnya Ika.


"Waalaikumsallm." balas Ika dan juga Yani sangat ramah dengan wajah berbinar senang.


"Mari silahkan masuk Bu! Pak!" sambung Ika begitu sopannya, mempersilahkan tamunya masuk kedalam rumahnya dan menyuguhkan minuman hangat.


"Apa ini, mbak Yani yang diceritakan oleh mbak Ika kemarin?" tanya perempuan yang mungkin berumur sekitar tiga puluh lima tahunan itu.


"Kenalkan, saya Rumah, dan ini Riko suami saya!" sahut Bu Rima ramah dengan seulas senyum tipis memperkenalkan diri.


Terlihat Yani dan Ika mengangguk cengengesan.


"Apa benar, mbak Yani akan memberikan bayinya, umpama saya bersedia mengadopsinya?" tanya Bu Rima dengan sangat hati hati.


"Iya, Bu! karena suami saya pergi gak tau kemana, saya gak sanggup dan gak punya biaya untuk merawat anak ini. Ini saja saya juga gak pernah periksakan kandungan, ya karena gak ada yang!" sahut Yani dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.


Bu Rima dan suaminya saling adu pandang dan mengembangkan kepalanya pelan.


" Usia kandungan mbak Yani sudah berapa bulan sekarang ini?" tanya Bu Rima kembali.


"Sudah lima bulan jalan enam bulan, Bu!" Sahut Yani pasti sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit.


"Saya akan adopsi anaknya mbak Yani, apa boleh mba?" balas Bu Rima dengan bibir bergetar.


"Wah beneran Bu? Alhamdulillah saya senang banget." sahut Yani dengan senyuman merekah dibibirnya.


"Iya! karena kami memang sangat menginginkan anak, siapa tau, setelah mengadopsi anak mbak Yani, nanti istri saya bisa segera hamil. Kata orang Jawa buat pancingan." sahut suami Bu Rumi dengan wajah yang terlihat berbinar.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu, saya sangat senang. Tapi untuk biaya persalinan, Bu Rumi dan bapak ya nanti yang bayar, karena saya tidak punya uang sama sekali." sahut Yani dengan wajah sedihnya.


"Kalau masalah itu, mbak Yani tidak usah khawatir, niat nanti kamu yang urus. Dan setiap bulan sebaiknya, mbak Yani periksa kandungannya ke bidan ya, nanti akan saya kasih uangnya.


Tiap bulan, sebelum bayi itu lahir, kami akan kasih uang delapan ratus ribu ke mbak Yani, buat periksa dan beli susu, biar bayinya sehat." sahut Bu Rima antusias dan di iyakan oleh suaminya.


"Makasih banyak ya Bu, Alhamdulillah saya senang sekali." balas Yani dengan senyuman bahagia.


"Mbak Yani juga gak perlu khawatir, nanti setelah bayi itu lahir dan kami akan membawanya pulang, mbak Yani akan kami kasih uang bobok dia juta setengah, sebagai ucapan terimakasih." sambung Bu Rima tenang dan menatap suaminya haru.


"Kalau begitu, kami pamit pulang dulu ya mbak!


Ini ada buah buahan dan susu hamil buat mbak Yani. Dan sedikit uang buat periksa!" Bu tuma menyodorkan dua kantong keresek dan amplop ke arah Yani, disambut dengan suka cita oleh Yani yang langsung merasa senang di dalam hatinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2