
Waktu seakan cepat berlalu, tak terasa aku menjalani profesi sebagai wanita panggilan sudah lebih dari dua tahun, dan selama itu suamiku sama sekali tidak curiga. Sudah dua hari badanku meriang, kepala terasa pusing sekali, dan perut rasanya kayak diaduk, gejala orang masuk angin, tapi sudah dikerok tetap saja tidak hilang rasa sakit nya. Bahkan aku mulai muntah muntah hingga menyebabkan tubuh ini lemas.
"Yan, coba bawa periksa ke puskesmas. Siapa tau kamu hamil. Minta antar suamimu." Suara ibu membuatku tercekat. Hamil? apa benar aku hamil? jika iya. Anak ini tidak sepenuhnya anak Mas Adi, karena selama ini aku melayani laki laki hidung belang tidak pernah memakai pengaman. Huh, tapi biarlah. Toh Mas Adi juga tidak akan tau.
"Malah bengong, sana bilang suamimu buat antar ke Puskesmas, wong dari kemarin kamu mual mual terus, wajahmu juga pucet begitu." Ibu menepuk pundak ku dan membuyarkan lamunan tentang janin di perut ini, jika memang benar aku hamil.
"Iya Bu." Tanpa banyak bicara, aku langsung ke kamar memanggil Mas Adi yang masih ada di kamar.
"Mas. Anterin aku ke puskesmas ya, dari kemarin badanku rasanya gak enak banget, dan aku juga muntah muntah terus, tadi ibu bilang kalau aku hamil."
"Apa Yan? Kamu hamil! Alhamdulillah, akhirnya. Yasudah aku telpon ke pak Pri dulu, mau minta ijin." Mas Adi langsung berbinar mengetahui aku hamil, laki laki itu begitu lugu dan sangat percaya padaku, padahal aku sudah berbuat curang dibelakangnya selama ini.
Aku dan mas Adi pergi ke puskesmas yang letaknya tidak jauh dari rumah, sekitar satu kilo meter dengan mengendari motor matic kesayangan.
Cukup lima menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke puskesmas, mungkin ini hari Senin jadi banyak pengunjung, karena nampak beberapa orang sudah memenuhi kursi untuk mengantri gilirannya di panggil. Aku pun mengambil nomer antrian dan mencari tempat duduk, sambil menunggu giliran ku di panggil, Mas Adi keluar untuk membeli makanan, diluar banyak sekali penjual makanan.
Mas Adi membeli jajanan pasar dan susu kedelai. "Ini Yan, makanlah. Buat mengganjal perutmu yang kosong. Dari kemarin aku perhatikan kamu belum menyentuh makanan apapun."
"Iya Mas. Mulutku rasanya hambar, gak enak buat makan."
"Kalau benar kamu hamil, kamu harus jaga baik baik calon anak kita. Karena aku sudah sangat merindukan kehadirannya. Makasih ya Yan, aku makin sayang sama kamu." Mas Adi menggenggam tangan ini erat, senyum di bibirnya dari tadi terus mengembang. Nampak sekali kalau dia sangat bahagia dengan berita kehamilanku.
Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya namaku di panggil juga. Aku bergegas masuk, dan terlihat ada dua bidan cantik yang sudah menunggu di dalam ruangan. Sebelum diperiksa aku disuruh naik ketimbangan badan dulu buat mengetahui berat badanku sekarang.
"Selamat ya Bu, Bu Yani memang benar isi, usia kandungan Bu Yani sudah tiga Minggu terhitung dari terakhir kali ibu mens. Ini saya buatkan resep nanti dikasih ke bagian obat yang ada di ujung sana ya."
"Iya Bu bidan, Alhamdulillah. Terimakasih, saya permisi."
Terlihat Mas Adi sudah menunggu gak sabar diluar, saat melihatku keluar dari ruang pemeriksaan Mas Adi langsung berhambur menghampiriku dengan wajah cemasnya.
"Gimana Yan? Kamu beneran hamil kan?"
"Alhamdulillah. Iya Mas." Jawabku biasa saja, karena terus terang aku tidak suka, karena perut yang membesar akan menyiksaku karena tidak bebas bergerak, tapi mau gimana lagi.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Mas Adi langsung berucap syukur dengan wajah ceria.
Setelah menebus obat, kami langsung pulang ke rumah, karena Mas Adi harus segera pergi bekerja.
"Gimana Yan, kamu hamil kan?" Sambut ibu yang sengaja menungguku. "Iya Bu, tadi kata bidannya sudah tiga Minggu."
"Alhamdulillah, kamu harus jaga baik baik kandunganmu Yan."
"Yasudah, Yani mau ke kamar dulu, kepalaku masih pusing."
"Kalau begitu, aku langsung berangkat kerja ya Yan, kamu baik baik dirumah. Bu, titip Yani ya." Pamit Mas Adi padaku dan ibu. Laki laki itu nampak bahagia sekali, karena keinginan punya anak dariku terwujud, meskipun anak ini belum tentu murni anaknya, karena aku sudah tidur dengan banyak laki laki selama ini.
'Maaf kan aku Mas.' batinku sedikit merasa bersalah, karena bagaimanapun, Mas Adi sudah menjadi suami yang baik untukku. Dia mau menerima aku apa adanya dan bahkan selalu berusaha memenuhi apa yang aku inginkan. Karena keadaanlah yang memaksaku untuk bekerja sebagai wanita panggilan, aku butuh senang senang. Makan enak, jajan sesukaku, dan bisa beli baju kapan aku mau. Kalau hanya mengandalkan nafkah dari Mas Adi pasti itu tidak bisa aku lakukan. Jadi aku tidak bersalah sepenuhnya.
"Yan, ibu kok takut ya." Tiba tiba ibu muncul, masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu dulu. Mungkin karena Mas Adi tidak ada dirumah, jadi ibu merasa leluasa, tanpa ada yang di sungkani.
"Takut kenapa Bu?" Tanyaku datar, sambil merebahkan tubuh ini di atas kasur.
"Kenapa ibu mikirnya sejauh itu sih, ibu tenang saja, selama Yani hamil, Yani gak akan terima pelanggan dulu. Biar hanya melakukan itu sama Mas Adi saja. Lagian uang simpanan Yani masih ada."
"Yasudah, semoga ketakutan ibu tidak terjadinya Yan. Ibu kepikiran dari tadi."
"Ibu tenang saja, ibu tau sendiri kalau Mas Adi itu cinta banget sama Yani. Dia gak akan macam macam."
"Yasudah, ibu mau nyuci dulu. Nanti lara pulang jam sepuluh sekolahnya. Biar ibu yang jemput anakmu. Kamu istirahat saja."
"Iya Bu. Lagian aku juga lagi males ngapain ngapain, pinginnya tidur aja. Bu nanti belikan aku Sempol di depan sekolahnya Lara ya." Ibu menoleh dan hanya menganggukkan kepala lalu berlalu dari kamarku.
Sepertinya hamil kali ini, tidak sama saat aku sedang hamil Lara dulu. Jangankan muntah dan lemas gini. Nyidam saja aku tidak pernah. Tapi kenapa sekarang aku kayak orang penyakitan gini, huh menyebalkan.
# Mendung tak selalu hujan..
Mengandung tak selalu melahirkan...
__ADS_1
Karena ada yg keguguran..
Sebagaimana usaha yg kadang menemukan kegagalan..
Mimpi tak kesampaian..
Musibah tak selalu ujian
Ada yg merupakan teguran..
Bukankan saat dalam kesempitan..
Orang lebih banyak mengingat Tuhan..
Sebagaimana pelajar yang ingat pelajaran saat ujian..
____________%%%%___________
Ibnu Atho'llah pernah menasehatkan :
بسطكَ كى لا يُبْقِيك مع القبضِ وقبضكَ كى لا يترُككَ معَ البسطِ واخْرَجكَ عَنْهماكى لاتكون لشىءٍدونهُ
Allah melapangkan bagimu, supaya kamu tidak selalu dalam kesempitan (qobdh). dan Allah telah menjadikan kamu sempit supaya kamu tidak terlena dalam kelapangan(basth). dan Allah melepaskan kamu dari keduanya, supaya kamu tidak tergantung kepada sesuatu selain Allah."
______________________________
Lalu layakkah dalam kesempitan..
Diri lebih ringan berbuat kenistaan..
Sedangkan Allah lbh tau di mana hambaNya harud ditempatkan..
Itulah pentingnya belajar agama sejak dini, agar tidak salah kaprah dalam menyikapi sebuah masalah.
__ADS_1