
Iya Bu, besok pagi kita kesana, dan mulai sekarang awasi Yani, jangan biarkan dia pergi kemana mana, bapak nggak mau dia bikin ulah lagi, cukup dengan ini saja, malu Bu." Parjo mengusap wajahnya frustasi, memikirkan kelakuan anak kesayangannya, sedangkan kedua anak lelakinya bersikap masa bodoh dengan apa yang menimpa adiknya, itu juga karena di awali dengan sikap orangtuanya yang selalu pilih kasih, mereka lebih menyayangi dan terkesan mengutamakan Yani, apapun yang Yani minta selalu dituruti, tidak dengan anaknya yang lain, selalu diminta mengalah dan tak sering jadi luapan amarah atas kesalahan Yani, jika sekarang kedua kakak Yani bersikap acuh dan tak mau tau, wajar karena mereka sudah sakit hati.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sampai saatnya tiba.
Bu Sumi dibantu dua adik perempuan Parjo, dari sejak pagi sudah berkutat di dapur, memasak untuk acara panjat doa sebelum berangkat ke KUA dan menyiapkan hidangan sederhana jika nanti ada tetangga atau saudara yang datang setelah usai ijab Qabul, tapi entah kenapa hati Bu Sumi terus saja bertalu, ada yang mengganjal hingga menimbulkan perasaan tak nyaman, tapi tidak tau perasaan apa itu.
Pukul sepuluh semua sudah siap, bahkan Yani sudah dandan cantik, kebaya putih dan bawahan rok motif batik, perutnya sudah nampak membuncit meski belum begitu terlihat.
"Ini nunggu siapa lagi to mas? Nanti ora mangkat mangkat loh Iki, kaet mau enten entanan ae [nanti tidak berangkat berangkat loh ini, dari tadi nunggu aja]." Sungut Bu tuni pada kakaknya (Parjo), yang mulai merasa gerah, karena semua orang sudah bersiap dan hanya nunggu komando berangkat saja, tapi Santo dan keluarganya belum juga ada yang muncul.
"Embohlah Tun, kok Santo sekeluarga belum kesini juga, padahal kemarin bilang mau kesini jam setengah sepuluh." Jawab pak Parjo lesu, perasaan laki laki paruh baya itu sebenarnya juga sudah mulai tak enak, tapi berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Gini aja, biar Parta kerumahnya Santo, kalau nggak ada yang kesana memastikan sampai nanti kita Yo tetap nunggu gini terus." Bu Sumi menimpali, masih dengan perasaannya yang semakin kalut, bahkan jantungnya mulai terasa tidak baik baik saja akibat cemas yang berlebihan.
Parta kakak Yani tanpa disuruh kedua kali, langsung berdiri dan melangkah berniat untuk kerumahnya Santo, tapi baru beberapa langkah kakinya mengayun nampak pak Arip dan Dargo anaknya melangkah ke arah rombongan keluarga Yani dengan pakaian rapi, melihat kedatangan mereka Parta menghentikan langkah dan berbalik arah, pria yang tak banyak omong itu terlihat begitu acuh dengan acara adiknya.
"Asalamualaikum, maaf kalau nunggu lama tadi ada tamu sebentar dirumah." Ucap pak Arip menjelaskan.
"Waalaikumsallm...kok Santonya belum kelihatan pak Arip? Ini sudah jam sepuluh lebih, acara ijab di KUA jam sebelas pas, jangan sampai kita telat datangnya." Parjo nampak bingung dengan kedatangan Arip yang tanpa Santo, padahal waktu sudah sangat mepet, kalau harus nunggu lagi akan lama, takutnya telat dan mendapat teguran dari orang orang KUA, memikirkan jarak tempuh yang lumayan jauh.
"Santo sudah siap kok, dia berangkat naik montor sama kakaknya, bentar lagi juga kesini." Balas pak Arip santai dan membuat semua orang saling berpandangan heran, padahal pak Parjo sudah menyediakan dua mobil untuk berangkat ke KUA, tapi kok justru Santo memilih naik montor, ada apa ini? Itulah yang ada dipikiran hampir semua orang yang hadir.
"Kok naik montor pak?
__ADS_1
Kami sudah menyiapkan mobil untuk kesana, yang ikut serta ke KUA cuma sedikit biar nggak kayak rombongan ziarah wali, jadi mobil masih sangat longgar loh." Ucap pak Parjo tersinggung dan semakin mempunyai firasat tak enak, ada sesak yang mulai menghimpit dadanya, apa itu Parjo pun juga tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya.
Sebelum pak Arip menjawab ucapan pak Parjo, suara deru montor Santo dan kakaknya berhenti tepat di depan rumahnya Yani, Santo memakai celana jins warna hitam yang dipadu dengan kemeja lengan panjang warna putih, nampak begitu tampan Dimata Yani, sontak saja membuat Yani langsung senyum senyum bahagia.
"Yasudah mari berangkat, sebelum waktunya habis, Santo kamu jadi naik montor apa ikut naik mobil bareng kita?" Pak Arip mencoba menyairkan suasana dan memberi tawaran pada keponakannya, dan Santo memilih naik montor saja, biar cepet bisa nyalip nyalip katanya, dan di iyakan dengan terpaksa oleh semua orang.
Akhirnya semua masuk ke dalam mobil dan Santo serta kakaknya mengikuti dari belakang, semua berjalan biasa saja, layaknya rombongan iring iringan manten, tapi saat dipertengahan jalan, montor Santo yang dari tadi mengutit di belakang mobil sudah mulai tak terlihat lagi, pak Parjo semakin gelisah sambil matanya terus mencari cari keberadaan Santo, sedangkan Yani, dari tadi cuma asik dengan benda pipih ditangannya, entah apa yang dilakukan gadis itu, senyum senyum sendirian sambil lihat ponselnya, tidak merasakan kehawatiran sedikitpun seperti yang dirasakan kedua orangtuanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Setelah menempuh hampir tiga puluh menit perjalanan, akhirnya sampai juga di depan kantor KUA, ke dua mobil yang disewa Parjo sudah parkir dengan baik diparkiran yang disediakan, dan semua sudah pada turun, tapi montor yang di kendarai Santo dan kakaknya belum juga muncul.
"Kok Santo belum datang?
kok Santo belum kelihatan ya? padahal tadi kayaknya ngebut loh dia." Ucap beberapa orang yang mulai heran dengan Santo yang belum juga tiba, padahal Santo naik montor dan terlihat ngebut, aneh saja jika justru datang di akhir, tapi dengan santai pak Arip meyakinkan kalau Santo pasti datang dan meminta semua orang untuk masuk dan menunggu Santo di dalam saja, tanpa banyak lagi bertanya semua menyetujuinya dan lagi pula hari juga sudah mulai panas, kalau menunggu diluar pasti akan berkeringat dan kepanasan.
Hingga pukul sebelas siang Santo juga belum ada tanda tanda kedatangan nya, padahal penghulu juga sudah siap, semua mulai merasa cemas, pun dengan Yani, anak itu dari tadi selalu fokus dengan ponselnya, tapi setelah Santo belum juga muncul disaat waktunya sudah mulai, Yani mulai merasakan gelisah juga.
Pak Arip berusaha untuk menelpon Santo meskipun dalam hati pria itu bersorak penuh kemenangan dengan rencananya, pura pura cemas padahal sesungguhnya tau kemana keponakannya itu pergi, licik memang!!
"Gimana pak, Santonya bisa dihubungi?" Tanya pak Parjo pada pak Arip yang dari tadi mengotak Atik ponselnya.
"Belum pak, dari tadi di telpon belum diangkat juga, padahal hapenya aktif, mungkin masih dijalan." Balas pak Arip dengan mimik sedih yang dibuat buat.
Parjo mengusap wajahnya dengan kasar, pak Parjo mulai frustrasi dengan keadaan ini, perasaan yang sedari tadi mengganjal ternyata ini jawabannya, ditambah melihat istri dan anaknya yang mulai tergugu, semakin membuatnya ingin menghancurkan semua yang ada dihadapannya, marah, kecewa, kesal karena merasa dipermainkan oleh Santo dan keluarganya.
"Maaf kami sudah tidak bisa menunggu lagi, ini sudah hampir satu jam lebih tapi pengantin pria nya belum juga ada, dengan berat hati, tolong dimohon menunggu diluar dulu, biar saya nikahkan dulu yang antrian berikutnya, nanti kalau pengantinnya sudah datang silahkan konfirmasi lagi." Ucapan pak penghulu semakin membuat Bu Sumi tergugu, wanita yang terkenal judes dan cerewet itu nampak sangat menyedihkan, tanpa banyak bertanya akhirnya semua keluar dari ruangan dengan perasaan tak menentu, Parjo ingin sekali memukul Arip tapi niatnya hanya dipendam saja, karena sadar dia sedang berada ditempat yang tidak boleh ada keributan.
__ADS_1
"Bu ini gimana, kenapa mas Santo belum datang?" Yani sangat cemas dan kecewa jika ternyata pernikahan yang di impikannya hanya tinggal impian.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️