Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
Bab 12


__ADS_3

"Owalah yan, kamu kan bisa belajar pelan pelan, nanti ibu bantu ngajarin kamu, bagaimanapun ini anakmu loh, ibu juga nggak ngerti nama apa yang cocok untuk anakmu ini, biar nanti kita pikirkan lagi setelah kamu keluar dari sini, untuk urusan akta lahir, biar nanti Ikut KK ibuk, jadi anak ibuk bapak. Gimana lagi, kamu nggak punya suami." Tutur Bu Sumi sendu.


"Terserah ibuk saja, Yani ikut saja gimana baiknya." sahut Yani seolah tak mau perduli.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Lara febriani, nama yang disematkan untuk anaknya Yani, Nama Lara diambil dari begitu banyaknya air mata dan masalah saat kehamilannya dan nama febriani diambil dari bulan Lara dilahirkan.


Lara febriani, bayi mungil yang sekarang sudah tumbuh menggemaskan dan memiliki garis wajah yang begitu mirip dengan Yani.


Tentang tes DNA yang dijanjikan pak Arip saat itu hanyalah ucapan semata, buktinya hingga ara berumur lima bulan keluarga Santo tak ada niat untuk melaksanakan ucapannya, bahkan menengok Lara pun tidak pernah, sedang Santo entah hilang kemana, karena sejak kejadian menghilangnya Santo saat akan dilaksanakan ijab qobul, hingga kini pemuda itu belum sama sekali menampakkan batang hidungnya, dia masih tetap betah ditempat persembunyiannya, sedangkan pak Parjo juga Bu Sumi sudah lelah berdebat dengan mereka, kasus yang ada akhirnya menguap begitu saja tanpa ada kejelasan.


Dari kejadian dan masalah yang ada harusnya Yani dan orangtuanya bisa menjadikan pelajaran untuk bisa merubah sikap juga perilakunya dengan lebih baik, tapi entahlah sepertinya sudah jadi watak dan karakter di keluarga itu, Bu Sumi masih saja memanjakan Yani dan selalu membelanya meskipun Yani sedang melakukan kesalahan, sedangkan pak Parjo tetep menjadi laki laki plin-plan yang hanya besar omongannya saja.


Yani masih dengan dunia bebasnya, menjalin hubungan dengan beberapa laki laki tanpa merasa trauma dengan kejadian yang menimpanya yaitu hamil diluar nikah, bahkan tingkahnya semakin membuat para tetangga tak berhenti menggunjingnya, bahkan tanpa malu dan bangga Yani membawa salah satu teman laki lakinya yang bernama Adi kerumah bahkan sampai menginap, herannya Bu Sumi diam saja dan terlihat begitu senang dengan kehadiran Adi.


Semakin membuat warga memilki penilaian tak suka pada keluarga itu, mereka menganggap mereka sudah membuka pintu zina secara terang terangan antara Yani dan pacarnya, sehingga menimbulkan kemarahan warga yang berujung penggebrekan, Adi diciduk warga saat bermalam dirumah Yani, yang akhirnya harus menikahi Yani atas paksaan warga yang sudah emosi dengan kelakuan mereka.


"Sah? Sah sah..." 


Adi barusan selesai mengucap ijab qobul, mulai hari ini Yani sudah resmi jadi istrinya Adi, meskipun hanya dengan ijab siri, dan rencananya dua Minggu lagi akan diadakan pesta pernikahan sambil menunggu surat surat untuk nikah di KUA beres diurus.


"Kalian sudah jadi suami istri, lebih baik kamu mulai sekarang pulang kerumah ini saja Di, anggap ini rumahmu sendiri." Ucap Bu Sumi kepada lelaki yang baru saja sah menjadi menantunya, Adi kerja jadi kuli bangunan, tapi terlihat begitu menurut pada Yani dan keluarganya, sepertinya Adi memang terlihat benar benar cinta pada Yani.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Waktu terus berjalan, tak terasa Adi dan Yani sudah menjalani pernikahan menginjak bulan ke empat, sering adu mulut dan sering menerima kekerasan fisik, Yani sangat kasar memperlakukan Adi, Yani selalu menuntut Adi menuruti semua keinginannya, jika tidak Yani akan melapor pada Bu Sumi dan berakhir dengan ceramah panjang lebar Bu Sumi pada Adi menurut versi perempuan tambun itu tanpa mau mendengar pembelaan dari menantunya, menurutnya anaknya tidak pernah salah.


"Mas, mumpung aku belum hamil, kita ambil montor kreditan, kamu kerjanya lebih ngoyo lagi, masak kemana mana kita naik montor buntut punyamu itu, malu aku." Sungut Yani kepada sang suami yang hanya berdiam dengan ocehan sang istri.


Yani terus saja meminta untuk punya montor baru dan ini entah ucapannya yang sudah keberapa kali, lagi lagi Adi hanya diam, kepalanya sudah sangat pusing dengan semua tuntutan Yani yang meminta ini itu tanpa mau berpikir berapa pendapatan suaminya yang hanya bekerja jadi kuli bangunan.


"Kenapa sih, mas Adi diam saja? kalau kita nggak ngoyo, nggak bakalan punya mas, nggak usah bingung, mas Adi nggak perlu memikirkan angsurannya, ada orang tuaku yang mau membantu membayarnya, kita tinggal cari uang mukanya saja, cuma sejuta lima ratus saja, kemarin aku sudah ngobrol sama ibuk, dan ibuk bilang mau membantu uang angsurannya, gimana mas?


Kamu bisa kan usahakan uang buat DP nya? "


Yani terus saja memaksa suaminya untuk menuruti kemauannya, bahkan dengan egois meminta ibunya untuk mau membantu membayar angsuran nantinya.


"Yan, yakin kamu sudah memikirkan ini dengan matang?


Lama loh jangka waktu angsurannya, bertahun tahun, sedang pekerjaanku tidak pasti.


"Heleh mas mas, wes ta nurut apa kataku, bisa bisa kita, pokoknya usaha dulu, rejeki pokoknya kita mau nyari, pasti ada jalannya.


Tugasmu sekarang cepat cari uang buat DP nya, aku nggak mau tau, mas Adi mau cari pinjaman, atau mau jual montor buntut mu itu, pokok uangnya harus segera ada, biar kita cepat punya montor baru." Setalah mengatakan itu Yani langsung beranjak keluar dari kamar menemui ibunya, sedangkan Adi terkulai lemas dengan sikap istrinya yang keras kepala dan tak pernah mau berpikir panjang.


"Aaaah, selalu saja begitu, apa dia tidak mikir cari uang itu susah, dan sekarang semakin sepi yang bangun rumah, bagaimana harus memenuhi gaya hidupnya yang sangat suka beli ini itu, gaji seminggu selalu dihabiskan hanya untuk beli jajanan di Indoprix, dan beli baju, kok masih minta kredit montor.


Ya Tuhan, kenapa aku bisa menikahi perempuan seperti ini, nyesek aku." Adi berkali kali meraup wajahnya kasar dan sesekali menjambak rambutnya frustasi.


Tok tok tok....

__ADS_1


"Di, bisa bapak bicara? Keluarlah, bapak tunggu di teras."


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2