
"Terus, bagaimana nasib anakmu itu?
Lara saja sudah ikut Rini. Septi dibawa Adi.
Anak itu mau kamu apain?
Wong selama ini, kamu gak pernah ngurus anak anakmu, ibumu yang ngurus mereka." sahut pak Parjo miris dengan sikap anak perempuannya yang tidak juga berubah.
"Gampang! bapak tenang saja!
Biar itu jadi urusan Yani!" sungut Yani dengan nada yang sedikit keras, begitulah Yani yang sama sekali tak mau menerima nasehat apalagi disalahkan.
Pak Parjo hanya bisa diam, tak berkutik jika anaknya sudah bicara keras. Selalu tidak pernah bisa bersikap tegas pada anaknya. Tapi justru anaknya yang kadang sering mengendalikan dirinya.
"Aku harus cari informasi, orang yang mau mengadopsi anakku ini. Karena tidak mungkin aku merawatnya sendiri. Bikin repot dan aku juga tidak bisa bebas." batin Yani dengan terus berpikir kerasa, siapa yang mau mengadopsi anaknya kalau sudah lahir nanti.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Waktu terus berjalan, usia kehamilan Yani sudah genap tahun jauh bulan. Dan Yani sudah mendapatkan orang yang mau mengadopsi anaknya.
Bu Ijah, pedagang sayur di pasar, wanita dengan tubuh tambun itu sudah menikah hampir sepuluh tahun tapi belum juga mendapatkan momongan. Saat Yani menawarkan bayinya untuk di adopsi. Bu Ijah dan suaminya langsung menerima dengan senang hati. Karena memang sudah merindukan kehadiran seorang anak dari dulu.
Namun Yani juga tidak memberikan anaknya cuma cuma. Bu Ijah harus mau menanggung biaya periksa saat masa kehamilannya. Dan juga mau membiayai biaya persalinan dan juga uang bobok sebesar satu juta lima ratus.
Karena Bu Ijah dan suaminya sangat menginginkan seorang anak, persyaratan yang diberikan Yani tak jadi masalah. Semua dituruti dan itu membuat Yani semakin senang dan berpikir kalau hamil lagi tak jadi soal. Karena bisa cari orang lagi buat ngadopsi bayinya dan dia juga mendapatkan keuntungan dari itu.
Saat usia kehamilan Yani sudah sembilan bulan lebih sepuluh hari, Yani melahirkan di salah satu bidan tetangganya. Dan benar saja, Bu Ijah yang membiayai seluruh biaya persalinan Yani. Dan memberikan uang satu juta lima ratus pada Yani sebagai uang bobok.
Setelah bayinya lahir, dan dinyatakan sehat. Bu Ijah membawa bayi Yani pulang kerumahnya atas ijin dari Yani juga Bu bidan. Anak yang lahir dari rahim Yani sudah sah jadi anak dari Bu Ijah dan suaminya.
__ADS_1
Bukannya sedih kehilangan anak, tapi Yani justru berpikiran untuk menjadikan bisnis.
Tetap melakoni pekerjaan tanpa takut hamil, karena hamilnya juga bisa menguntungkan dirinya. Itulah yang ada dipikiran Yani.
Yani pulang dari rumah bidan dengan naik becak yang di dampingi pak Parjo.
Para tetangga hanya diam menatap, karena sudah kada tau kalau anaknya di adopsi oleh pedagang di pasar.
"Yan, gimana, lancar?" tanya Bu Rodiyah basa basi, saat melihat Yani turun dari becak dengan masih memakai Jarit dan jalannya tertatih.
"Alhamdulillah Bu, lancar. Anaknya perempuan, sehat!" sahut Yani dengan tersenyum, sikapnya biasa saja, seolah tidak sedang kehilangan apapun.
Padahal pasti setiap ibu akan merasakan sakit luar biasa ketika jauh dengan buah hatinya. Tapi itu tidak berlaku untuk seorang Yani.
"Anak kamu, apa langsung di bawa Bu Ijah, Yan?" tanya Bu Rodiyah lagi, dengan memasang wajah penasaran.
"Iya, Bu! Tadi Bu Rodiyah langsung bawa anaknya.
"Wong anakmu saja hak ada kok, kenapa ibu ibu harus datang, Yan?
Kecuali kalau ada bayimu, baru ibu ibu mau kondangan lihat si bayi." sungut Bu Rodiyah jengah dengan sikap Yani yang dirasa tak tau malu itu.
"Loh, kan sama sama habis melahirkan Bu?
Gak ada salahnya datang berkunjung dan memberi amplop, Itung Itung silaturahmi pada tetangga yang habis melahirkan. Ya kayak pada umumnya gitu lah Bu. Jangan jadi tetangga pelit dan tak perduli pada tetangganya yang lain!" sahut Yani yang tak mau kalah dan mencari pembenaran, dan itu semakin membuat Bu Rodiyah meradang juga kesal luar biasa.
"Owalah Yan, yowes sak karebmu Bae lah!
Aku gak akan datang apa lagi kasih amplop, wong bayinya juga gak ada." sungut Bu Rodiyah pergi begitu saja menaiki motornya, tak menghiraukan ucapan Yani yang terus ngedumel.
__ADS_1
"Dasar pelit dan perhitungan. Bisa bisanya ada tetangga yang habis melahirkan kok gak mau jenguk, dasar!" gerutu Yani yang berjalan tertatih memasuki rumahnya.
Pak Parjo hanya bisa menatap anaknya jengah, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang anak yang memang tidak tau malu dalam bersikap dan berkata.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️