
"Asalamualaikum." Terdengar suara salam dari mas Adi. Dari mana saja dia, kenapa jam segini baru kembali. Biasanya Mas Adi sudah sampai rumah pukul lima sore, tapi ini sudah hampir jam tujuh malam baru kembali. Paling paling dia pulang dulu kerumah Ibunya. Jujur aku gak suka dengan mertuaku itu. Bisanya cuma minta uang suamiku, bagaimana tidak, tiap kali mas Adi kesana selalu memberinya uang seratus ribu kadang lima puluh ribu, huh kesel rasanya, uang segitu bisa buat beli cemilan di indomirit sudah dapat satu kantong kresek.
Mas Adi muncul dengan wajah ceria, dia langsung menghampiriku yang masih berbaring di kasur. "Dari rumah ibumu ya Mas, kok baru pulang?" Tanyaku setelah suamiku itu duduk di pinggir kasur dan mulai mengelus perutku yang sudah membesar.
"Iya, tadi pas mau pulang, ibu telpon suruh mampir kerumah dulu. Dan ini, buat kamu dari ibu." Tiba tiba Mas Adi menyodorkan uang pecahan seratus ribuan dan lima puluh ribuan padaku. Kata Mad Adi dari ibunya, kok bisa? Biasanya juga bisanya minta. Tapi ya lumayan bisa buat belanja keperluan calon bayiku.
"Kok ibumu kasih uangnya banyak gini mas, lagi banyak uang ya?"
"Ibu mecahin celengan Yan, itu uang yang selama ini aku kasih, ternyata ibu gak pernah pakai, setiap aku beri ibu selalu masukin ke celengan. Ibu tau kita gak punya uang buat beli keperluan calon anak kita, makanya ibu bongkar celengan itu dan memberikannya pada kita. Besok, minta ditemani ibu, buat belanja keperluan calon anak kita. Karena besok aku ada kerjaan, diminta pak Doni buat benerin garasi, lumayan, bisa buat tambah tambah." Kata suamiku panjang lebar. Meskipun bukan laki laki tampan, tapi mas Adi begitu sayang dan perhatian padaku. Tapi entahlah, jika nanti dia tau kalau aku sudah membohonginya, setidaknya untuk saat ini, aku aman dan semua masih baik baik saja.
"Iya Mas. Besok biar aku minta ibu buat menemani belanja, di pasar saja biar gak jauh jauh, harganya juga lebih murah. Owh iya Mas, aku mau bicara."
"Bicara apa Yan?" Tanya mas Adi santai dan mulai merebahkan tubuhnya disampingku.
"Gini Mas. Em kita kan belum ada uang pegangan sama sekali buat biaya lahiran. Tadi ibu bilang buat nawarin hutang di tempatnya Bu Tutik. Dia usahanya ya itu tukang utangin duit tapi ada bunganya dan dibayar dua hari sekali. Gimana Mas?"
"Gak usahlah Yan, biar aku cari dulu saja. Takutnya kita keberatan dan gak bisa bayarnya. Sudah kamu gak usah mikir biaya lahiran, itu biar jadi urusanku. Insya Alloh aku bisa." Setelah mengatakan itu, Mas Adi mulai menutup matanya, nampak sekali kalau dia kelelahan setelah seharian kerja dibawah terik matahari.
"Bu! Nanti kita beli keperluan bayi di pasar saja ya, pulangnya kita naik becak saja." Aku menghampiri ibu yang sedang mencuci piring di dapur. Sedangkan Mas Adi dan bapak sudah berangkat kerja dari jam tujuh tadi, Lara pun juga sudah berangkat ke sekolah. Tinggal aku dan ibu saja yang dirumah.
"Memang kamu sudah ada uangnya Yan?" Tanya ibu yang tidak memalingkan wajahnya ke arahku, ibu fokus dengan kegiatan mencuci piringnya.
"Sudah Bu. Semalam mas Adi sudah kasih uang tujuh ratus ribu, katanya uang dari ibunya."
"Apa?" Ibu langsung menoleh melihatku dengan kening berkerut.
"Iya, semalam mas Adi pulang bawa uang yang dikasih ibunya, katanya buat beli keperluan calon cucunya. Lumayan bisa menutupi kebutuhan."
"Mertuamu baik gitu kok, tapi kenapa kamu selalu bilang gak suka. Dosa kamu Yan."
__ADS_1
"Habisnya suka sering minta uang ke Mas Adi. Ya aku gak suka lah Bu." Ibu hanya menarik nafas dalam sambil menggelengkan kepalanya. "Bu, nanti temani aku pinjam uang ke mbak Tutik ya. Buat pegangan nanti sewaktu waktu lahiran."
"Emang kamu sudah bilang suamimu Yan?" Jawab ibu yang kembali fokus mencuci piring yang tinggal sedikit.
"Sudah. Ibu tenang saja." Biar saja aku bohong pada ibu dengan bilang kalau mas Adi mengetahui rencanaku mencari pinjaman ke rentenir, padahal ini inisiatif ku sendiri, aku tidak memegang uang cukup, rasanya sangat tidak enak, lagian bisa di cicil dua hari sekali, anggap aja uang jajan. Ringan bukan? Hidup itu tidak usah dibikin ribet, selagi masih bisa senang senang lakukan, meskipun dengan uang hasil ngutang, eeh.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Waktu terasa begitu cepat, usia anakku sekarang sudah menginjak tujuh bulan, namanya Septi, cantik, mirip sekali wajahnya denganku. Septi banyak diasuh oleh ibuku, dan aku mulai kembali menggeluti pekerjaan sebagai wanita panggilan. Bagaimana tidak, aku harus membayar hutang hutangku yang menumpuk, Sejak saat itu, aku ketagihan berhutang sana sini dengan bunga yang tak sedikit, yang akhirnya aku jadi ketumpuk hutang yang berjuta juta jumlahnya.
Mengandalkan uang nafkah dari suamiku hanya cukup buat beli beras, tidak bisa diandalkan sama sekali, bahkan aku sering adu mulut dengannya hanya karena masalah sepele. Tiap aku mengeluh meminta uang dia hanya bilang sabar dan irit. Lah emang perut bisa kenyang sendiri hanya dengan bersabar, yang ada bisa kena penyakit asam lambung. Dasar suami kurang tanggung jawab.
Akupun bahkan sudah tidak perduli kalau suamiku tau tentang kelakuanku yang tidur dengan laki-laki hidung bilang, biar saja. Mau pisah juga silahkan.
"Yan, keterlaluan kamu. Sudah berapa laki laki yang sudah mencicipi tubuhmu itu. Sungguh menjijikkkan." Herdik Mas Adi tatkala dia baru saja membaca chat dari salah satu pelangganku yang memuji pelayananku diranjang dengannya. Wajah Mas Adi merah padam penuh kilatan amarah, tapi sedikitpun aku tidak takut.
"Keterlaluan kamu, perempuan murahan, bisa bisanya tidur dengan laki-laki lain saat kamu masih punya suami. Iya kalau aku tidak memberimu nafkah, kalau aku tidak bertanggung jawab. Selama ini aku sudah berusaha untuk memenuhi semua kebutuhanmu, tapi justru kamu berbuat semaunya, benar benar menjijikkan tingkahmu itu."
"Nafkah yang mana yang kamu bilang, cukup apanya? Kalau cukup gak bakalan aku jual diri, dasar laki-laki kere ya kere aja, gak usah sok mencukupi." Plak, tamparan mendarat di pipiku dari tangan laki laki yang selama ini tidak pernah berbuat kasar padaku, perih dan panas langsung terasa di wajahku. Tak terima akupun langsung berteriak memanggil ibu juga bapakku, mengadukan kelakuan Mas Adi yang sudah keterlaluan.
"Ibu, Bapak tolong aku, sakiit." Mendengar teriakan dariku, ibu dan bapak langsung datang dengan wajah menegang.
"Ada apa to Yan? Kok kamu teriak kayak orang kesurupan gitu." Tanya ibu dengan wajah bingungnya.
"Mas Adi sudah menamparku Bu. Aku benci dengannya." Ibu langsung mangap tak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
"Bener Le, kamu nampar Yani?" Bapak yang dari tadi diam akhirnya bersuara.
"Iya pak, maaf. Tapi Yani sudah sangat keterlaluan. Bisa-bisanya dia selama ini menjual diri pada banyak laki laki dan tidak pernah menghargai pengorbananku yang sudah bekerja keras demi bisa mencukupi keluarga ini. Dan mumpung disini ada bapak juga ibu. Mulai detik ini, saya kembalikan Yani pada kalian, dan saya sudah tidak ada lagi tanggung jawab atas anak bapak. Saya talaq kamu Yani Rahmawati binti Suparjo, mulai detik ini saya bebaskan kamu dan melepas tanggung jawabku atas kamu."
__ADS_1
Semua langsung melongo mendengar kata talaq yang dijatuhkan Mas Adi barusan terhadap diriku. Bagiku ini seperti mimpi, aku kira laki laki itu hanya sekedar marah saja, dan setelah itu semua akan kembali baik baik saja. Tetapi aku salah, mas Adi bahkan berani menjatuhkan talaq tanpa mau memikirkan lagi. Bahkan dengan langkah pasti mas Adi, mengemasi bajunya yang dimasukkan ke dalam tas ransel, lalu pamitan keluar dari rumah ini hanya pada bapak juga ibu. Masih tak percaya kalau sekarang aku menjadi janda.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1