
"Sekarang kita mau tidur dimana, bodoh?" teriak Antok pada Lara yang sudah ketakutan.
Menyesal tadi memilih ikut dengan Antok, nasibnya pasti akan jauh lebih menderita setelah ini.
Karena tak punya arah tujuan, Antok mengajak Lara pergi ke kos temannya. Berniat menumpang tidur untuk makan ini saja. Besok pagi baru mau cari kontrakkan.
Antok yang masih sakit hati menyimpan dendam di hatinya dan akan membuat perhitungan dengan keluarga Lara. Untuk membuat masalah pada Ari tentu Antok tak akan berani, bisa bisa dia yang terkena masalah dan masuk penjara. Karena Ari bukan orang sembarang dan punya kuasa. Sedangkan keluarga Yani cuma orang biasa dan sangat mudah di gertak.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Waktu terus berjalan, tak terasa sudah tiga bulan lamanya Lara meninggalkan rumah dan ikut dengan Antok yang tak tau dimana mereka berada. Yani bahkan sama sekali tidak perduli dan sedikitpun tak ingin mencari kabar soal Lara. Padahal Lara adalah anak kandungnya, jiwa keibuan Yani tidak berfungsi sama sekali. Sedikitpun tidak ada rasa khawatir tentang nasib anaknya.
Justru Yani mencari kesenangan sendiri dan hidupnya semakin tak terarah saja.
Sedangkan Lara ternyata ada di kota Surabaya, disuruh mengemis di terminal oleh suaminya.
Kalau tidak mau Lara akan disiksa. Dipukul dan bahkan tubuhnya akan disulut rokok saja Antok. Bengis itulah gambaran dari seorang Antok terhadap Lara.
"Mas, kepalaku pusing. Aku hari ini libur tidak ngemis ya, perutku juga kram." lirih Lara dengan wajah sayu nya. Dia benar benar tidak kuat lagi, apa lagi perutnya yang sudah membesar, hamil delapan bulan menuju tanggal melahirkan.
"Gak usah sok manja kamu!
Kalau kamu gak ngemis, kita akan makan apa?
Apalagi aku juga butuh uang buat beli rokok!
Sana berangkat, gak usah sok sakit segala!" bentak Antok bengis, tak ada belas kasihan sama sekali dengan keadaan Lara yang hamil besar.
"Tapi aku beneran sakit, mas!
Aku gak kuat, kepalaku pusing dan perutku juga sakit, kayak kram gitu!" sahut Lara memberanikan diri mengatakan apa yang tengah dirasakan saat ini. Namun justru membuat Antok semakin murka.
Plak! plak!
Tangan besar Antok mendarat di wajah Lara. Membuat Lara meringis kesakitan dan kepalanya semakin berputar, matanya berkunang kunang dan akhirnya tak sadarkan diri.
Melihat tubuh Lara ambruk dan tak sadarkan diri, Antok memilih pergi meninggalkan Lara, tak perduli dengan wanita yang kini terkulai tak berdaya, padahal ia tengah mengandung benihnya.
Pukul sebelas siang, Lara tersadar dari pingsannya.
Kepalanya masih terasa pusing. Lara berusaha kuat, air matanya berjatuhan. Nasib tak berpihak padanya, hidupnya selalu berada dalam penderitaan.
Lara berusaha berdiri dengan kepala yang pusing luar biasa, dengan tertatih Lara mengambil segelas air putih dan diteguknya pelan.
Menyenderkan tubuhnya di almari plastik yang ada di tempat kosnya.
__ADS_1
Lara teringat dengan uang yang dia sembunyikan di lipatan ****** ********, ada tiga ratus ribu. Lara ingin pulang ke Kediri dan meninggalkan Antok yang selalu menyiksa dirinya.
"Syukur uangnya masih ada, aku harus cepat kabur dari sini.
Tapi kalau aku naik bis dari terminal pasti ketahuan sama mas Antok, dan akan pasti menghajar ku habis habisan, aku harus bagaimana ya Alloh?" lirih Lara kalut, berpikir keras agar bisa lepas dari cengkraman gila suaminya.
Lara memasukkan uangnya ke dalam celana pendek yang ia kenakan sebagai dalaman dasternya.
Dengan langkah berat, Lara keluar dari kamar kosnya tanpa membawa apapun, meskipun hanya sehelai potong baju pun tidak ia bawa. Buat berjaga jaga kalau nanti di jalan ketemu sama Antok, dia bisa beralasan agar Anton tidak curiga.
Sampai di depan gang kontrakan, Lara bertemu dengan pak Supri, tetangga kosnya yang kerja sebagai scurity pabrik.
"Mau kemana mbak Lara?
Kok, sepertinya sedang sakit!" Pak Supri menghentikan sepeda motornya, dan menatap Lara dengan mengernyitkan wajahnya.
"Itu pak, saya mau kabur!
Saya gak kuat terus terusan di siksa mas Antok.
Tapi bingung gimana naik bus nya untuk pulang ke Kediri, kalau naik dari terminal takut ketahuan sama mas Antok dan saya pasti akan dihajarnya." sahut Lara jujur dengan suara bergetar membuat pak Supri merasa iba.
Saat pak Supri tengah memikirkan cara agar lara bisa pergi dengan selamat, tiba tiba pak Kodir datang.
"Ada apa Pri kamu disini sama mbak Lara?
"Ini loh pak Kodir, Lara minta tolong biar bisa kabur tanpa ketahuan si Antok. Katanya sudah gak sanggup lagi di siksa terus sama Antok." sahut pak Supri menjelaskan, dan membuat pak Kodir ikut berpikir.
"Gini saja. Ra, kamu bawa masker?" tanya pak Kodir pada Lara dengan wajah serius.
"Bawa pak!" sahut Lara, karena memang dia selalu mengantongi masker kemana mana.
"Kamu punya jilbab?" kembali pak Kodir bertanya pada Lara, dan langsung membuat Lara menggelengkan kepala, karena dia memang tidak memiliki jilbab.
"Yasudah kalian tunggu disini sebentar, biar aku ambilkan jilbab istriku." Setelah berkata demikian, pak Kodir menjalankan kembali motor matik miliknya dan menuju rumah, meminta jilbab instan juga jaket besar hadiah dari membeli sepeda motor waktu itu.
"Buat apa to pak, kok kayak panik gitu!" tegur istrinya pak Kodir yang menatap heran ke arah suaminya yang terlihat begitu serius.
"Nanti saja jelasinnya, buk!
Sekarang bapak harus berikan ini pada mbak Lara. Nanti kalau sudah, bapak akan jelaskan sama kamu. Bapak pergi dulu ya, ini tugas kemanusiaan." sahut pak Parjo dengan wajah tegang, membuat istrinya semakin heran dan bingung dengan tingkah suaminya.
"Pakai jilbab dan jaket ini mbak, trus jangan lupa pakai maskernya ya!
Kalau sudah ini pakai helm saya." pak Kodir menyodorkan jaket dan jilbab buat Lara, dan lara langsung memakainya sesuai permintaan pak Kodir.
__ADS_1
"Pri, kita antar mbak Lara ke stasiun saja, biar dia pulang naik kereta, lebih aman." pak Kodir memberi saran dan langsung di iyakan sama Supri juga Lara.
Lara naik ke boncengan motor pak Supri dan di ikuti dari kejauhan sama pak Kodir, agar tidak ada yang curiga.
Setelah sampai di stasiun, Lara diantar pak Supri untuk membeli tiket kereta api, dengan jadwal pemberangkatan pukul dua belas lebih luka bekas menit.
"Masih tunggu sebentar lagi, mbak Lara bisa tunggu di kursi tunggu.
Nanti kereta nya turun di stasiun kota Kediri.
Mbak Lara tau kan, kalau sudah sampai sana jalan kerumah Mbak Lara?" pak Supri memastikan, karena melihat wajah polos Lara, pak Supri dan pak Kodir ragu, kalau Lara tau jalan arah pulang.
Dan apa yang dipikirkan oleh pak Supri dan pak Kodir benar, Lara terlihat menggelengkan kepalanya lemah dengan wajah sayunya.
"Yasudah gini saja. Yang penting mbak Lara nanti sampai Kediri dulu. Kalau sudah sampai, pasti di stasiun banyak tukang ojek dan tukang becak, mbak naik saja ojek atau becak buat pulang ke alamat rumahnya.
Ini saya ada uang, nanti buat mbak Lara naik ojek." Pak Kodir menyerahkan uang lima puluh ribu pada Lare untuk nanti naik ojek, dan pak Supri juga memberikan uang lima puluh ribu pada Lara untuk tambahan.
"Semoga sampai di rumah ya mbk, hati hati. Kamu permisi dulu.
Nanti naik keretanya bisa minta bantuan atau tanya sama petugas yang ada." pak Supri memberikan nasehat dan dijawab anggukan oleh Lara dengan air mata yang sudah menetesi pipinya, ternyata masih ada orang baik yang menolongnya lekas dari kekejaman Antok.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️