Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
episode 39


__ADS_3

"Zahra biar disini sama aku, ma!


Dia sudah besar dan juga ada Bu Dasih yang akan mengawasi, lagian Zahra juga tidak suka main diluar rumah.


Kalau Zaki biar dirumah mama saja dulu untuk sementara, maaf kalau aku sudah merepotkan mama!" sahut Ari dengan wajah datarnya.


Bu Ratna pun tak bisa lagi memaksa, selain mengikuti kemauan Ari.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Setelah beberapa bulan, akhirnya perpisahan Ari dan istrinya santer jadi perbincangan para warga, dan itu dijadikan kesempatan oleh sebagian orang untuk menjatuhkan nama baik Harti, terutama Yani, yang begitu gigih ingin menjelekkan Harti Dimata semua orang.


Namun tidak ada satupun tetangga yang mau perduli, karena kebanyakan mereka sudah tau kalau perpisahan Ari dan sang istri karena diawali perselingkuhan Harina. Dan bukti juga mengatakan kalau Harina sudah menikah dengan Soni dan Zaki adalah anak mereka.


"Sialan, kenapa tidak ada yang mendengarkan aku dan membenci janda kegatelan itu!


Justru mereka menyalahkan dan menceramahiku untuk tidak menjelekkan perempuan itu. Sialan memang!


Kenapa sih hidup perempuan itu selalu lebih beruntung dariku? huh!" Yani geram dan begitu membenci Harti tanpa alasan, padahal Harti tidak pernah sama sekali mengusik dirinya, dan itu terjadi karena memang Yani memiliki rasa iri yang begitu besar pada Harti.


Kehamilan Yani sudah memasuki bulan ke delapan dan sebentar lagi dia akan melahirkan, masih bersikap tenang dan masa bodoh, karena merasa hidupnya ada yang menanggung yaitu, calon orang tua asuh anak dalam kandungannya.


Hari hari Yani cuma kelayapan tak jelas dan masih suka bergonta-ganti pasangan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan di lain tempat, Lara tengah menangis, karena baru saja tubuhnya di pukuli oleh bibinya karena tidak mau mencucikan bajunya.


Mau pulang, Lara tak punya uang sama sekali, pernah menabung tapi ketahuan bibinya,dan uang itu dirampasnya tanpa sisa.


"Kenapa nasibku harus seperti ini, Tuhan?" Isak Lara dalam nelangsa, sambil tangannya menyikat baju yang menumpuk di dalam bak besar, baju semua anggota keluarga bibinya.


Pukul sepuluh pagi, Lara baru selesai mencuci, dan harus kembali melakukan pekerjaan rumah yang lainnya, seperti menyapu, mengepel, cuci piring, padahal perutnya sudah sangat kelaparan, sejak semalam belum terisi apapun, karena pas pulang dari toko buah, dirumah bibinya sudah tidak ada makanan sama sekali, meskipun hanya sekedar mie instan.


Jam menunjukkan pukul satu siang, Lara selesai mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk, tubuhnya sudah tak sanggup lagi, memberanikan diri mengambil nasi dan satu iris tempe goreng tanpa sayur, Lara sangat takut mengambil sayur, karena pasti Rini dan suaminya akan murka dan menjambak rambut Lara serta mengatainya anak gak tau diuntung.


Dengan tubuh lemas dan mata yang terus meneteskan air mata, Lara duduk di pojokan dapur, makan pelan, meskipun rasanya ingin muntah tapi dia memaksakan makanan harus masuk ke dalam perutnya, takut kalau sakit tidak ada yang merawat dan justru di siksa.


"Wah wah, enak banget kamu, nduk!

__ADS_1


Kerjamu cuma makan, minta gratis lagi!" sindir Rini ketus pada Lara yang memilih diam saja.


Hatinya sudah benar benar sakit dengan perlakuan Bibinya itu.


"Kalau makan cepetan, habis itu kamu harus jaga toko. Kami akan pergi kondangan dan pulangnya malam.


Jangan tutup toko sebelum kami pulang kerumah!


Karena semuanya akan ikut pergi. Awas kalau kamu macam macam!" bentak Rini dengan suara nyaring tanpa perasaan.


Lara hanya diam, dan menghabiskan makanannya, lalu mencuci piringnya dan bersiap untuk pergi ke toko buah milik bibinya yang tak jauh dari rumah, hanya empat ratus meter jarak toko dan rumah, dan Lara tiap hari berjalan kaki pulang pergi, hingga para tetangga menatap iba pada Lara yang badannya terlihat kurus dan hitam tak terawat. Tidak ada tetangga yang berani menegur Rini dan suaminya, karena mereka sudah terkenal sadis dalam bersikap pada siapapun, untuk itulah para tetangga memilih diam saja dan hanya menatap Lara dengan perasaan iba.


Pukul tiga sore, Bu Titin, istri ketua RT datang menemui lara ke toko bersama anak laki lakinya, Damar.


"Nduk! apa kamu baik baik saja tinggal dengan bule kamu, Rini?" tiba tiba Bu Titin bertanya dengan sesuatu yang tanpa Lara duga.


Lara menatap diam pada Bu Titin dengan mata berkaca kaca, mau cerita tapi takut dengan ancamannya Rini.


"Apa kamu gak mau pulang ke rumah keluarga kamu di Kediri nduk?


Ibu tau kamu seringkali di siksa sama mereka?" sambung Bu Titin iba.


"Tapi kamu mau pulang?


Kalau iya, kamu pulanglah biar ibu bantu.


Mumpung bulek kamu pergi dan tidak ada yang dirumah.


Ini kesempatan kamu untuk menyelamatkan dirimu, nduk!" sahut Bu Titin dengan tulus.


Dan terlihat Bu Zenab dan suaminya juga sudah ikut datang menemui Lara, mereka juga punya tujuan yang sama seperti Bu Titin.


Kasihan melihat nasib Lara yang sangat menderita oleh ulah Rini sekeluarga.


"Apa benar, ibu mau bantu saya pulang?


Ya Alloh, Alhamdulillah!" Lara menangis dan sangat bahagia, karena ada orang baik yang mau menolongnya.


"Lebih baik, mbak Lara diantar orang lain, bukan kita. Karena kalau Rini dan suaminya tau kalau kita yang membantunya, pasti mereka akan mendatangi kita dan membuat masalah." Sahut Damar, anak Bu titik dan di iyakan oleh semua orang.

__ADS_1


"Lalu bagaimana, apa Lara biar naik bis saja pulangnya?" sahut Bu Zenab serius, dadanya sudah ikut sesak melihat Lara tersedu.


Gadis kecil yang seharusnya masih sekolah dasar itu, dipaksa bekerja oleh Rini, Bulik yang harusnya melindungi dan menjaga gadis kecil itu, tapi justru menyiksa fisik dan batinnya.


"Jangan, kasihan. Dia pasti belum tau jalan.


Begini saja, biar aku minta bantuan temanku, dia kuliah di Kediri, jadi dia hafal jalan disana. Kebetulan dia sedang libur." Sahut Damar juga merasa iba melihat nasib bocah yang seusia adik perempuannya.


"Ide bagus itu!


Cepat hubungi teman kamu itu, Le. Takutnya Rini keduluan kembali." sahut suaminya Bu Zenab.


Lantas Damar menghubungi temannya, dan Putra nama teman damar langsung otw setelah Damar menceritakan nasib Lara, jiwa penolongnya langsung terketuk.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2