Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
episode 45


__ADS_3

"Kerja?


Kerja apa buk?


Aku SD saja gak lulus loh. Siapa yang mau terima aku kerja." sungut Lara kesal, bukannya disuruh sekolah lagi tapi malah disuruh kerja sama ibunya.


"Kamu bisa ikut ngamen di perempatan depan sana. Lumayan loh hasilnya. Sehari bisa sampai dua ratus ribu." sungut Yani dengan semangatnya.


"Apa?


Aku ibuk suruh ngamen, gak salah buk?" Lara langsung ternganga dengan jawaban yang Yani lontarkan. Tidak menyangka kalau ibunya tega menyuruhnya untuk kerja ngamen di jalanan.


"Kenapa memangnya?


Timbang kamu plonga plongo dirumah. Ngamen juga gak capek, tingga nunggu mobil berhenti di lampu merah, dapat uang lagi.


Apa kamu gak pingin punya uang banyak, bisa beli apa yang kamu pingin?" sahut Yani tanpa beban, hingga akhirnya Lara berpikir karena dia juga ingin punya uang biar bisa beli apa yang di suka.


"Habis ini ikut aku, kamu lihat dulu cara kerja mereka. Gak susah juga gak perlu sekolah!" sambung Yani sambil menatap wajah Lara yang tengah berpikir keras.


"Iya, tapi apa gak di tangkap buk, seperti kayak yang di tivi tivi itu." balas Lara cemas, karena banyak berita di televisi pengemis di tangkap sama satpol PP.


"Heleh, gak usah takut. Kalau disini aman aman saja.


Nanti kalau kamu sudah merasakan uang dari ngamen pasti kamu ketagihan, percaya sama ibukmu ini." sahut Yani dengan yakin tanpa perduli masih dan masa depan anaknya.


Akhirnya Lara mengikuti keinginan Yani, mereka berjalan kaki menuju perempatan tak jauh dari rumah. Yani dan Lara duduk di pos kecil yang ada di perempatan, Yani menunjukkan bagaimana cara kerja para pengamen dan pengemis disana.


"Disini itu kerjanya bareng, Ra.


Kelompok gitu, jadi gantian. Ada jamnya sendiri.


Nanti jam lima sore sudah berhenti, uang dikumpulkan lalu dihitung dan dibagikan sama rata.


Kamu bisa milih, ngamen atau ngemis. Sama saja.


Pasang muka melas dan pakai baju yang jelek, pasti banyak yang kasian." Yani dengan gamblang menjelaskan pada Lara yang terlihat terus memperhatikan para laki laki yang tengah mengamen dengan main angklung di tepi perempatan.


"Besok kamu mulai saja, ikut anak anak itu. Kamu yang bagian bawa kaleng buat minta uang pada setiap kendaraan yang berhenti, mereka akan terus memainkan angklungnya. Gimana, gampang kan?" sambung Yani yang masih terus mengarahkan gadis remaja yang baru menginjak usia sebelas tahun.


"Iya, aku mau coba. Tapi beneran aku nanti dapat uang kan?" balas Lara dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Ya, dapat lah. Kamu tenang saja.


Mereka sebentar lagi selesai dan di ganti saja Mak Janti, Mak Janti akan ngemis." Yani seolah begitu paham dengan bagian orang orang yang menganggap dirinya adalah pemilik daerah situ untuk mencari uang dengan mengamen atau mengemis.


Keesokan harinya, Lara benar ikutan dalam kelompok para laki laki pemain angklung, Lara bagian keliling membawa kaleng untuk meminta bekas kasihan para pengendara yang berhenti di lampu merah.


Semakin hari Lara semakin akrab dan menikmati harinya bersama orang orang jalanan itu.


Lara sudah mulai mengikuti jejak Yani yang hidup bebas dan semakin tak terkontrol.


Yani bahkan tidak perduli dengan yang dilakukan Lara. Sering pulang malam dan bahkan sering pergi dengan salah satu pengamen laki laki entah kemana.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pak Parjo hanya duduk diam, menatap lekat langit malam di kursi teras rumahnya.


Memikirkan nasib Yani dan juga Lara yang semakin dalam terjerumus di lembah kebebasan.


Jarang pulang dan tak lagi bisa dinasehati.


Seperti hari ini, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Yani maupun Lara tidak ada yang kunjung pulang. Pak parjo tak bisa melakukan apapun lagi.


Dicari juga percuma, karena pak Parjo juga gak tau kemana mereka biasa pergi.


"Loh, pak Parjo belum tidur?" sapa pak Dodo, saat melintas di depan rumah pak Parjo, melihat pak Parjo tengah duduk sendirian di depan rumahnya.


"Oh pak Dodo, iya ini pak. Masih belum ngantuk.


Mampir sini pak Dodo, ngobrol!" sahut pak Parjo ramah dan memaksakan untuk tersenyum pada tetangganya.


Pak Dodo, memutuskan untuk mampir sebentar dan duduk di dekat pak Parjo.


"Dari mana pak?" tanya pak Parjo sambil menatap ke arah pak Dodo yang tersenyum.


"Dari toko nya mbak Ririn, pak! beli rokok!" sahut pak Dodo jujur.


"Oh, kalau aku sudah gak berani ngrokok sekarang ini, dada sering sesak kalau habis ngerokok." sambung pak Parjo yang memang sudah memutuskan untuk berhenti merokok, selain karena finansial juga karena dada pak Parjo sering terasa sesak saat setelah merokok.


"Kok sepi, pak?


Pada kemana, Yani dan Lara?" tanya pak Dodo basa basi karena penasaran dengan kedua perempuan itu, pak Dodo sering sekali melihat Yani pergi boncengan sama laki laki ke arah Utara.

__ADS_1


"Gak tau, Pak!


mereka sudah tidak bisa di tegur apa lagi di nasehati, aku sampai pusing sendiri dengan tingkah mereka berdua. Yani justru mengajak Lara ikut ikut kayak dia, ngamen di perempatan sana. Malu juga sesak rasanya." sahut pak Parjo dengan mimik sedih, dadanya terasa sesak luar biasa, belum lagi dengan gunjingan gunjingan dari para tetangga akan polah anak dan cucunya.


"Ya harusnya, pak Parjo itu harus bisa lebih tegas lagi. Karena bagaimanapun pak Parjo itu kepala keluarga dirumah ini. Kasihan loh nasib Lara kalau ikut cara hidupnya Yani. Lara masih kecil, jangan sampai memiliki kehidupan seperti Yani yang bebas dan tidak punya arah tujuan.


Bukannya apa ya pak, tapi ya semua demi kebaikan Lara. Dia harus punya masa depan yang lebih baik.


Pak Parjo menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan secara kasar, matanya terlihat sudah berkaca kaca.


Mengingat seperti apa jalan hidup yang dipilih Yani, anak yang dari bayi begitu disayanginya dan sangat dimanja, sehingga lupa untuk mendidiknya agar tumbuh jadi perempuan yang baik.


"Ini semua salahku juga almarhumah yang selalu memanjakan dan menuruti semua keinginan Yani.


Bahkan kamu tidak bisa memarahi anak itu kalaupun dia melakukan kesalahan. Dan sekarang aku benar benar menyesal, semua sudah terlambat. Yani sudah tak lagi bisa diluruskan. Kalaupun aku menegurnya dia akan justru balik marah dan bahkan tidak menggubris sama sekali teguranku, sebagai bapak aku tidak dihargai sama sekali." curhat pak Parjo dengan tetes bening yang mulai turun membasahi wajah keriputnya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2